“Warm-glow giving” di Kampung Patimburak, Fakfak, Papua Barat

Kampung Patimburak terletak di Kabupaten Fakfak, Papua Barat.

15 September 2019 adalah pertama kalinya saya menginjakkan kaki di tanah Papua. Saya dan beberapa kolega berkunjung ke Kabupaten Fakfak, Papua Barat, dalam rangka tugas pendampingan dan uji kuesioner untuk pengambilan data para pekebun pala di Kampung Pangwadar dan Kampung Patimburak. Untuk mencapai Fakfak, kami harus menempuh enam/tujuh jam penerbangan dengan rute Jakarta-Sorong-Fakfak. Kota Fakfak yang tampak indah karena letaknya di pinggir laut meyakinkan saya bahwa lokasi penugasan kami, Kampung Pangwadar dan Patimburak, pasti akan jauh lebih indah. Intuisi ini pun terbukti ketika kami tiba di Kampung Patimburak.

Kampung Patimburak bisa dikatakan cukup terisolir karena untuk mencapai kampung ini hanya ada satu pilihan transportasi, yaitu dengan kapal jonson. Sinyal seluler tidak sampai di kampung ini, bahkan jaringan listrik PLN dan koneksi PDAM. Namun, sebagai orang Jakarta yang sedang berkunjung, saya yakin kualitas udara dan makanan di Kampung Patimburak tidak tertandingi oleh ibukota. Udara segar dan bahan makanan alami menjadi bagian kehidupan sehari-hari penduduk Patimburak. Jika hanya diukur dari dua faktor ini saja, maka penduduk Patimburak memiliki standar kehidupan jauh lebih tinggi dibandingkan penduduk Jakarta yang sehari-harinya terpapar dengan polusi, ayam suntik, tahu formalin, sayur berpestisida, atau buah yang dililinkan.

Dalam kesempatan ini, kami melakukan uji kuesioner survey rumah tangga para pekebun pala. Kuesioner ini ditujukan untuk melihat pola konsumsi dan pendapatan keluarga pekebun. Uji kuesioner dilakukan pada enam rumah tangga di Patimburak. Salah satu topik yang ditanyakan adalah berbagai hasil lahan pertanian/perkebunan yang dimiliki rumah tangga tersebut dan apakah hasil-hasil ini dijual, dikonsumsi sendiri, dan/atau diberikan untuk rumah tangga lain. Jawaban yang saya terima cukup mengherankan mengingat latar belakang pendidikan saya yang terpapar akan paham kapitalisme.

Ibu dari Mace “D” berangkat mencari kerang untuk diberikan kepada kami secara cuma-cuma

 

Dari semua enam rumah tangga yang kami wawancara di Patimburak, saya menemukan bahwa salah satu bentuk hasil perkebunan mereka adalah berbagai macam buah-buahan, seperti durian, rambutan, pisang, dan kelapa. Dan hasil buah-buahan ini kebanyakan tidak dijual namun dibagikan secara cuma-cuma baik kepada keluarga atau pun kepada tetangga di kampung. Dalam salah satu teori utilitas hal ini dikenal dengan istilah warm-glow giving. Utilitas yang mereka terima dari hasil produksi perkebunan tidak hanya semata dari keuntungan pribadi namun juga dari seberapa besar yang mereka dapat berikan kepada orang lain. Hal ini tentu saja mempengaruhi pola pendapatan rumah tangga, yang nantinya mempengaruhi pola konsumsi.

Contohnya, kebun Mace “M” mampu menghasilkan durian setidaknya 50 buah dalam dua kali masa panen setahun. Namun tidak satupun buah durian yang dijual. Beliau menyatakan bahwa hasil durian yang dikonsumsi sendiri oleh rumah tangga Mace “M” hanya setengah hasil panen dan sisanya dibagikan. Jika dirupiahkan dengan harga lokal, maka Mace “M” melakukan amal sekitar Rp 400.000 dari hasil durian. Sedangkan, untuk mencapai kebunnya, Mace “M” harus mengeluarkan biaya setidaknya Rp 100.000. Dengan senyum bangga, Mace “M” pun menambahkan bahwa sudah biasa membagikan hasil panen duriannya ke keluarga. Contoh lain dari bukti adanya warm-glow giving di masyarakat Patimburak adalah ketika kami membeli kepiting dari Mace “D”. Kami membeli tiga tali kepiting laut (satu tali terdapat tiga ekor) yang hendak dijual Mace “D” di pasar Kokas. Sesuai harga pasaran, kami membayar sebesar Rp 100.000. Namun, melihat kami sebagai pihak yang sedang bertamu, Ibunda dari Mace “D” pun dengan senang hati berangkat ke laut untuk mencari kerang yang akan diberikan kepada kami secara cuma-cuma.

Dua anak usia sekolah yang sedang bermain bersama karena hari itu guru sekolah sedang tidak hadir.

 

Sebagai penerima manfaat dari warm-glow giving masyarakat Patimburak, tentu saja saya sangat menikmati mengingat saya benar-benar diuntungkan. Namun, alokasi warm-glow giving akan lebih baik jika ditujukan pada kebutuhan bersama masyarakat Patimburak yang belum bisa diberikan pemerintah, seperti pemenuhan sarana belajar-mengajar anak-anak di kampung tersebut. Contohnya, tenaga pengajar. Berdasarkan diskusi dengan beberapa masyarakat kampung, kegiatan belajar di Kampung Patimburak hanya terjadi di waktu-waktu tertentu dan tidak rutin. Maka tidaklah mengherankan ketika saya mendapati beberapa anak usia sekolah dasar sedang bermain ketika seyogyanya bersekolah. Kurangnya tenaga pengajar yang harusnya disiapkan dinas pendidikan menjadi alasan utama mengapa proses belajar mengajar tidak berjalan.

Dengan kapasitas produksi hasil perkebunan masyarakat patimburak, isu ini sepertinya dapat diselesaikan bersama-sama. Masyarakat kampung dapat membuat bakul kampung berupa kumpulan hasil perkebunan seluruh masyarakat kampung yang tidak ditujukan untuk profit, seperti buah-buahan atau sayur-sayuran. Hasil ini kemudian dapat dijual di pasar terdekat, dan hasil penjualannya digunakan untuk pembiayaian pengadaan tenaga pengajar di sekolah Kampung Patimburak. Dengan demikian, masyarakat Patimburak dapat tetap menjadikan budaya berbagi sebagai faktor penentu utilitasnya namun manfaat yang dihasilkan lebih tepat sasaran.

Meskipun demikian saya dapat memahami kemurahan hati dan budaya berbagi masyarakat Kampung Patimburak. Sepertinya, nilai-nilai ini dimiliki masyarakat kampung tersebut ada karena bumi, tanah dan laut dimana masyarakat ini tinggal juga menunjukkan adanya warm-glow giving. Kekayaan alam akan hasil laut dan kebun mungkin membuat masyarakat Kampung Patimburak tidaklah segan-segan untuk selalu berbagi kepada orang lain. * Katryn N. Pasaribu