Tunas Gain: Administrasi Kampung “Itu Sudah..!”

Tepi pantai di Kampung Tunas Gain, Fakfak Timur, Kabupaten Fakfak, Papua Barat

Tunas Gain adalah sebuah kampung yang menjadi bagian dari Fakfak timur, Kabupaten Fakfak, Papua Barat. Tunas Gain dianugerahi pemandangan yang sangat indah. Kami sudah mendengar promosi itu dari Kepala Kampung, jauh-jauh hari sebelum beranjak ke sana. Namun, Tunas Gain yang indah ini terisolasi dan terkubur jarak. Perjalanan untuk mencapai Kampung Tunas Gain cukup menantang karena harus menempuh perjalanan laut dan darat. Lewat laut, kami berhadapan dengan gempuran gelombang laut yang merupakan pertemuan antara Arus Arafuru, Seram dan Halmahera. Perjalanan darat dilalui dengan melewati jalan-jalan sempit, bergejolak dengan batu-batuan lepas, dan tertutup longsor.

Sesampai di Tunas Gain, hari sudah mulai petang. Kami disambut kesepian kampung yang hampir tidak menunjukan kesibukan penghuninya. Matahari memang terik saat itu. Barangkali sebagian penduduknya cenderung beristirahat di kebun atau berdiam dalam rumah. Ibu Kepala Kampung menjemput kami. Beliau bernama Hawiyah, seorang perempuan muda yang masih di bawah 30 tahun. Dia dipercayakan warga kampung untuk menahkodai kampung dalam beberapa tahun ke depan. Hawiyah sudah beranak dua. Seperti lazimnya banyak perempuan lain di Papua, Hawiyah menikah di usia muda. Beberapa kali topik ini saya angkat ke beberapa sahabat karib Orang Asli Papua, termasuk tokoh-tokoh lokal. Mereka selalu mengkonfirmasi seringnya pernikahan di usia dini. Menurut masyarakat lokal, usia muda bukan alasan untuk tidak menjadi ibu. Namun Hawiyah tidak sekedar itu. Dia adalah Kepala Kampung. Di samping mengerjakan urusan domestik rumah tangga, Hawiyah juga dijejali tugas publik harus memastikan kampungnya bisa terjangkau dunia luar.

Di rumah Kepala Kampung, kami berdiskusi. Selain Kepala Kampung, hadir juga Sekertaris Kampung. Ruang kerja Kepala Kampung terlihat sederhana dan seadanya. Beras bantuan bertuliskan Beras BULOG ditumpuk sekenanya di pojok ruang tamu rumah. Tidak banyak perkembangan pembangunan kampung yang kami dapat, selain keindahannya. Karena sebagai administratur, tidak banyak informasi statistik kampung yang mampu mereka kuasai. Kepala Kampung cukup kebingungan ketika ditanyai m pertanyaan dasar tentang informasi kampung. Contohnya, jumlah penduduk kampung. Kepala kampung menyebut 20 kepala keluarga, dengan komposisi penduduk dewasa 40, sedangkan anak-anak lebih kurang 20. Namun, Sekertaris Kampung memiliki jawaban lain. Meskipun tampaknya administrasi kampung ini tidak banyak ditata, para punggawa kampung memiliki keunggulan dalam penjelasan mereka yang cukup detail mengenai jenis-jenis ikan yang mengitari muara bersih di pinggir kampung. Macam-macam nama lokal disematkan ke ikan-ikan tersebut.

Ikan Kembung yang tampak jelas di bibir muara tepi Kampung Tunas Gain, Fakfak, Papua Barat.

 

Kumpulan ikan kembung dan ikan napoleon tampak jelas di bibir muara tepi kampung. Warga kampung sangat menguasai karakter dari ikan-ikan tersebut. Contohnya, ikan kembung sering disebut ikan PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) karena ikan itu seringkali menelan mata kail tanpa umpan, ibarat ikan yang “kurang sekolah”.

Kampung ini juga menjadi sarang burung kumkum atau merpati hutan yang merupakan sumber protein hewani bagi warga kampung setempat. Hanya dengan jerat sederhana, mereka bisa membawa pulang beberapa ekor burung dan binatang hutan.

Sayangnya, kekayaan alam yang melimpah belum ditopang oleh administrasi kampung yang memadai. Hal-hal mendasar seperti struktur organisasi, rencana pembangunan, pengelolaan dana, belum ditetapkan dalam aturan yang menjadi panduan bekerja. Urusan pengelolaan dana desa/kampung, misalnya belum disertain dengan Peraturan Kampung (Perkam). Alhasil, kampung ini terhambat memanfaatkan peluang dana desa. Beberapa kali sosialisasi dilakukan oleh Pemerintah Daerah, namun belum diikuti dengan pendampingan yang intensif.

Aparat kampung belum paham bagaimana membentuk Peraturan Kampung. Tunas Gain bahkan belum mampunyai aturan kampung. Ketika kami tanyakan solusi pengelolaan organisasi kampung, Ibu Kepala Kampung hanya menjawab, “itu sudah.!.”. Mirisnya, sejumlah pihak menjadikan kekurangan itu sebagai tambang keuntungan. Pihak-pihak ini memanipulasi minimnya pengetahuan, data dan informasi dari Kampung Tunas Gain untuk keuntungan pribadi. Misalnya, ada oknum yang mengajukan diri menjadi konsultan pemerintah daerah untuk mendampingi warga menyiapkan PerKam. Namun, hasilnya nihil. Padahal sejumlah dana telah diserahkan Pemerintah Daerah Fakfak untuk membantu Kampung Tunas Gain.

Papua dan Papua Barat memang sedang bergelimang rencana pembangunan. Kita patut mengapresiasi perkembangan infrastruktur yang demikian pesat belakangan ini. Namun, pembangunan ini harus disertai dengan pembangunan sumber daya manusiannya. Lebih dari semua narasi besar tentang infrastruktur, manusia yang mengelola harus mampu menata dirinya sendiri dan menetapkan tujuannya. Jika tidak, infrastruktur ini hanya akan berhenti pada capaian fisik belaka, tanpa nilai tambah.

Tunas Gain adalah salah satu kasus dari berbagai banyak desa atau kampung yang mengalami persoalan serupa. Upaya mengatasinya, tidak selalu berbuat besar. Cukuplah membantu aparat kampung menyiapkan beberapa peraturan dasar setingkat kampung. Kemudian menolong dan memberikan arahan secara intensif tentang pengelolaan administrasi modern. Tentu pelaksanaannya secara konsisten tidak serta merta dapat diraih secara instant. Butuh proses yang memakan waktu. Namun, jika tidak dimulai, sampai kapan kitorang menunggu.

Penelitian yang dilakukan INOBU di Kampung Tunas Gain, Kabupaten Fakfak, Papua Barat didanai oleh the Agriculture, Livelihoods and Conservation Program, David dan Lucile Packard Foundation serta didukung oleh Earth Innovation Institute melalui Forests, Farms and Finance Initiative (didanai oleh Norwegian Agency for Development Cooperation) and the Sustainable Tropics Alliance (didanai oleh German International Climate Initiative) dan the European Forest Institute melalui European REDD Facility. *Bernadinus Steni