Tata Ruang Seruyan: Upaya Mewujudkan Pembangunan Berkelanjutan

Posisi geografis Kabupaten Seruyan yang merupakan bagian dari Pulau Kalimantan

Kabupaten Seruyan secara administratif dibentuk berdasarkan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2002 tentang Pembentukan Kabupaten Katingan, Kabupaten Seruyan, Kabupaten Sukamara, Kabupaten Lamandau, Kabupaten Gunung Mas, Kabupaten Pulang Pisau, Kabupaten Murung Raya dan Kabupaten Barito Timur di Provinsi Kalimantan Tengah. Kabupten Seruyan ini memiliki luas ± 1.67 juta hektar, atau sekitar 12% dari luas keseluruhan wilyah Provinsi Kalimantan Tengah. Wilayah Kabupaten Seruyan membentang secara vertikal dari selatan ke utara dengan topografi yang cukup bervariasi. Wilayah Kabupaten Seruyan bagian selatan sampai bagian tengah meliputi kawasan pantai dan dataran rendah yang melandai dengan rata-rata ketinggian 0-4 meter di atas permukaan laut, serta kemiringan 0–1%. Potensi ekonomi dari pemanfaatan lahan di wilayah Seruyan tersebut adalah pengembangan kawasan pertanian dan perkebunan, serta hutan produksi.

Wilayah Kabupaten Seruyan bagian tengah sampai utara merupakan dataran rendah yang bergelombang dengan variasi ketinggian 100–1000 meter dan dengan rata-rata ketinggian kurang dari 500 meter di atas permukaan laut. Wilayah ini menyimpan kekayaan keanekaragaman hayati dikarenakan keberadaan vegetasi yang memiliki tutupan tajuk mencapai 85%. Wilayah ini menjadi tempat berkembang biak berbagai jenis satwa liar termasuk yang terancam punah seperti orang utan, bekantan, beruang madu, macan dahan, dan rangkong gading. Kontradiksi potensi pemanfaatan lahan kedua wilayah Seruyan ini menjadi tantangan bagi pemerintah Kabupaten Seruyan dalam melaksanakan pembangunan. Oleh karena itu, pemerintah Kabupaten Seruyan bermaksud untuk menerapkan konsep pembangunan berkelanjutan dalam perencanaan pembangunan Kabupaten Seruyan.

Pembangunan berkelanjutan sendiri dapat diartikan sebagai upaya untuk memenuhi kebutuhan hidup saat ini dan masa mendatang yang lebih baik, baik secara ekonomi maupun sosial budaya di dalam batas daya dukung dan daya tampung lingkungan. Pelaksanaan pembangunan berkelanjutan dapat diimplementasikan melalui kebijakan tata ruang. Konsep penataan ruang yang berkelanjutan berarti mengedepankan keseimbangan dan integrasi aspek fisik, lingkungan, sosial budaya, dan ekonomi. Maka dari itu, sebagai langkah awal penerapan pembangunan keberlanjutan, pemerintah Kabupaten Seruyan berencana untuk memperbaiki Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Seruyan.

Citra satelit, google earth, sebagian wilayah hijau dan 
wilayah permukiman penduduk di Kabupaten Seruyan

 

Salah satu hal yang perlu menjadi fokus dalam proses perbaikan RTRW Kabupaten Seruyan adalah penetapan kawasan konservasi. Penetapan kawasan konservasi dimaksudkan untuk menjaga tutupan vegetasi yang cukup sehingga mendukung upaya peningkatan ketersediaan air, mitigasi bencana banjir, dan bencana kebakaran hutan atau lahan gambut. Hal ini sesuai dengan isu-isu strategis yang dibahas dalam Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) Kabupaten Seruyan. Berdasarkan KLHS Kabupaten Seruyan, terdapat tujuh isu strategis yang harus ditangani oleh pemerintah kabupaten, yaitu: (1) kualitas dan kuantitas air, (2) ketersediaan produksi pangan pokok, (3) pencegahan dan penanganan bencana banjir, (4) kebakaran hutan dan lahan gambut, (5) pembukaan hutan dan lahan gambut, (6) kemiskinan, serta (7) pembangunan infrastruktur.

Oleh karena itu, selain penetapan kawasan konservasi, beberapa hal lain yang juga penting untuk diperhatikan pemerintah Kabupaten Seruyan dalam proses perbaikan RTRW adalah: (1) pengembangan kawasan permukiman di luar kawasan hutan dan lahan pertanian, (2) pengembangan kawasan usaha perkebunan, peternakan, kehutanan dan pertambangan yang berwawasan lingkungan, serta (3) pengembangan kawasan pariwisata berbasis lingkungan. Oleh karena itu, perbaikan RTRW Kabupaten Seruyan yang berwawasan lingkungan selayaknya dilaksanakan secara partisipatif dengan berbagai pihak terkait sehingga diharapkan dapat memberikan kesejahteraan bagi masyarakat Kabupaten Seruyan.

Penelitian yang dilakukan INOBU di Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah didukung oleh Earth Innovation Institute melalui Forests, Farms and Finance Initiative (didanai oleh Norwegian Agency for Development Cooperation, the David dan Lucile Packard Foundation, dan the Sustainable Tropics Alliance yang didanai oleh German International Climate Initiative). * Indra Divayana