Tantangan Budidaya Rumput Laut di Kabupaten Fakfak, Papua Barat

Tali ris bekas budidaya rumput laut di perairan distrik kokas, kabupaten fakfak/Dok:Inobu

Angin adalah melodi Nelayanku
Ombak adalah alunan Nelayanku, dan
Laut adalah surga bagi Nelayanku

Begitulah sepenggal puisi yang dilantunkan oleh Burhan Daiwokas, nelayan dari kabupaten Fakfak saat melajukan perahu motornya ke arah laut. Kami sedang menuju ke lokasi budidaya rumput laut di Distrik Kokas, Fakfak yang sudah ditinggalkan sejak tiga tahun terakhir. Susunan pelampung dan tali ris bekas yang menjadi tempat menggantung rumput laut hanya mengapung begitu saja di perairan laut Kokas tanpa menghasilkan panen.

Saat itu, kami sedang melakukan studi terkait komoditas perikanan di Fakfak. Rumput laut termasuk salah satunya. Studi dilakukan melalui wawancara, yakni dengan kuesioner dan wawancara mendalam serta survei biofisika.

Kami berhasil merekam beberapa cerita masyarakat setempat mengenai perkembangan rumput laut. Eucheuma cottonii merupakan jenis rumput laut yang pernah berjaya di Distrik Kokas. Seorang mantan petani rumput laut bernama Cholil Patiran bercerita bahwa, di tahun 2011 hingga 2017, Kokas merupakan distrik penghasil rumput laut terbesar di Fakfak.

Pernah satu ketika perahu saya hampir tenggelam karena terlalu beratnya rumput laut yang dipanen,” ujar Cholil, memberikan ilustrasi tentang hasil panen rumput laut yang melimpah ketika itu. Data dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) tahun 2018 juga menunjukan bahwa produksi rumput laut kabupaten Fakfak mencapai lebih dari 27 ribu ton pada 2017.

Namun, sejak awal 2018, tidak ada lagi petani yang melakukan budidaya rumput laut. Harga jual rumput laut yang rendah menjadi kendala utama budidaya rumput laut yang berkesinambungan. Semangat petani untuk berkelompok, melakukan pembibitan, perawatan, hingga memanen rumput laut terus menurun seiring dengan menurunnya harga jual rumput laut di sana.

Kami juga melakukan wawancara dengan Golam, salah satu inisiator petani rumput laut di distrik tersebut. Beliau menyatakan hal yang sama bahwa harga rumput laut kering di tahun 2011 sempat mencapai Rp 12.000 per kg namun kemudian mengalami penurunan hingga Rp 4.000 per kg pada 2017.

Tidak sesuainya pendapatan dengan usaha dan tenaga yang dikeluarkan menyebabkan Golam beralih ke teripang. Menurut Golam, harga teripang lebih menjanjikan dibanding dengan rumput laut.

Selain harga jual, kualitas bibit yang rendah juga menjadi faktor matinya bisnis rumput laut di Distrik Kokas. Bibit yang tahan terhadap perubahan kondisi lingkungan menjadi kunci suksesnya budidaya rumput laut. Petani harus memiliki bibit dengan karakteristik unggul, yang bisa didapat melalui pembaharuan sumber bibit atau indukan. Bibit rumput laut tidak bisa tumbuh dan berkembang dengan baik jika berasal dari satu indukan saja. Kurangnya variasi genetik tanaman menyebabkan menurunnya kualitas bibit.. Oleh karena itu, penelitian dan pengembangan sumber bibit rumput laut harus selalu dilakukan untuk memperoleh variasi genetik indukan baru yang lebih sesuai dengan kondisi lingkungan dan iklim saat ini.

Selain itu, kondisi sosial budaya juga perlu diperhatikan, terutama terkait budaya menangkap dan mengumpulkan hewan buruan yang masih umum dilakukan di Distrik Kokas dibandingkan dengan budaya meramu atau memelihara. Kondisi alam yang masih cukup baik menyediakan berbagai jenis hewan buruan seperti rusa, burung, ikan, lobster, teripang, dan kepiting. Kegiatan berburu atau menangkap ini tentu dapat membahayakan ekosistem jika tidak diiringi dengan kajian stok dan regulasi mengenai status hewan yang diburu tersebut, dan bisa saja status konservasi hewan yang diburu tersebut adalah terancam punah atau dilarang untuk diperjualbelikan.

Adapun faktor lain seperti pendampingan, teknologi, dan akses terhadap modal merupakan hal yang perlu didorong untuk perubahan masyarakat ke arah yang lebih baik. Hal ini tentu dapat berjalan baik jika dilakukan oleh berbagai pihak. Sinergitas antara pemerintah, organisasi nonprofit, universitas, pelaku industri, pengusaha, lembaga keuangan, dan tentu saja petani itu sendiri merupakan langkah awal yang dapat dilakukan untuk memulai kembali budidaya rumput laut di Distrik Kokas.* cnurhuda

Daftar Pustaka

Kementerian Kelautan dan Perikanan.(2018). Kelautan dan Perikanan Dalam Angka Tahun 2018.Jakarta: Pusat Data, Statistik, dan Infrormasi.