Strategi Penanganan Hama dan Penyakit pada Tanaman Padi untuk Menjaga Produktivitas Tetap Optimal

Oleh : Amalia Paramitha

 

Tanaman padi di Kabupaten Seruyan. Yayasan Inobu

Padi merupakan tanaman penghasil beras — salah satu makanan pokok masyarakat Indonesia. Kebutuhan pangan pada beras terus meningkat, namun produktivitasnya tidak stabil setiap tahunnya. Salah satu penyebabnya yaitu akibat semakin banyaknya serangan hama dan penyakit seperti tikus, penggerek batang, wereng coklat, wereng hijau penyebar virus tungro, dan bakteri bercak kuning/putih akar serta daun. Padi yang tidak sehat rentan terserang hama dan penyakit yang dapat menurunkan kualitas atau bahkan membuat gagal panen. Beberapa faktor penyebabnya yaitu karena kualitas benih kurang baik, kondisi cuaca tidak mendukung, kurangnya asupan pupuk atau air, dan strategi penanaman kurang optimal.

  • Kualitas benih varietas unggul

Penggunaan benih dari varietas yang tidak tepat di lokasi rawan hama dan penyakit dapat berpengaruh terhadap serangan dan penurunan produktivitasnya. Varietas benih padi unggul telah banyak dikembangkan untuk tahan terhadap hama dan penyakit, yaitu seperti varietas padi Inpari (padi sawah irigasi) dan Inpara (padi rawa dan lahan tergenang). Misalnya, varietas unggul Inpari 33 dan 47 WBC yang tahan hama wereng coklat, Inpari 32 HDB tahan penyakit kresek, Inpari 43 Agritan GSR tahan hawar daun, dan sebagainya. Selain itu, varietas unggul juga banyak dikembangkan terkait tekstur, hasil produksi, periode tanam, lingkungan ekstrim, maupun prospek pasar. Sehingga, pemilihan varietas benih unggul yang akan ditanam perlu juga mempertimbangkan nilai tambahnya.

Keragaman varietas padi lokal di Desa Sapundu Hantu, Kec. Seruyan Hulu, Kab. Seruyan. Yayasan Inobu
  • Penyesuaian kondisi cuaca

Serangan hama dan penyakit tanaman padi juga dipengaruhi oleh kondisi cuaca. Hama dan penyakit tikus, penggerek batang, dan walang sangit banyak menyerang saat musim kemarau. Sedangkan saat musim hujan, kondisinya lebih buruk dengan serangan lembing batu, virus tungro, virus blas, bakteri hawar daun, serta berbagai jamur dan kapang. Manajemen dengan perluasan lahan tanam, perpindahan lahan yang sesuai, dan penganekaragaman varietas dapat dilakukan untuk meningkatkan efektivitas penanaman dan varietas yang sesuai kondisi cuaca. Saat cuaca panas dan kering, penanaman padi di lahan sawah irigasi yang dibantu penggunaan sistem irigasi lebih tepat untuk membantu pengairan tanaman. Sedangkan saat cuaca hujan dan ketersediaan air tinggi, padi lebih tepat ditanam di lahan kering atau tadah hujan. Selain itu, manajemen juga perlu dilakukan dengan strategi tanam serempak, pengolahan tanah, serta penggunaan jarak dan pola tanam.

Penanaman padi di sawah oleh petani lokal. Shutterstock
  • Asupan pupuk dan air

Tanaman padi juga perlu diberikan asupan nutrisi tambahan dari pupuk dan air untuk membantu peningkatan pertumbuhan, kesuburan, ketahanan alami terhadap berbagai serangan hama dan penyakit, serta peningkatan hasil produksi secara optimal. Pupuk yang mengandung silika (Si), kalium (K), dan kalsium (Ca) diketahui baik untuk meningkatkan ketahanan alami tanaman. Namun, perlu diperhatikan bahwa penggunaan pupuk yang berlebihan tidak hanya pemborosan, juga dapat membuat padi menjadi lebih rentan terinfeksi hama dan penyakit karena adanya penurunan metabolisme. Selain itu, penggenangan air di sekitar lahan tanam juga dapat menghindari serangan hama seperti penggerek, wereng, dan tikus; meskipun ini rawan serangan hama keong mas.

Pupuk organik dari bahan daun (kiri) dan rempah (kanan) oleh petani lokal di Desa Kubu, Kec. Kumai, Kab. Kotawaringin Barat. Yayasan Inobu
  • Peningkatan strategi bercocok tanam

Strategi lainnya dapat dilakukan dengan pemanfaatan musuh alami berupa predator dan parasitoid. Prinsipnya, perkembangan musuh alami akan mengikuti kondisi ketersediaan hama sebagai makanannya. Namun, jika dianggap masih kurang efektif, penggunaan pestisida atau obat anti-hama dan anti-penyakit seperti insektisida, herbisida, maupun fungisida juga dapat dilakukan. Dengan catatan, penggunaannya harus sesuai target, waktu terjadwal, dan takaran tepat guna serta sesuai kondisi. Sehingga, hal tersebut tidak menimbulkan hama dan penyakit yang lebih kuat (toleran) yang dapat menimbulkan ledakan serangan bahkan gagal panen. Alternatif lain yaitu dengan bio-pestisida yang menggunakan bahan alami tanaman obat sehingga tetap ramah lingkungan.

Petani lokal di Nusa Tenggara Timur melakukan pengecekan kondisi sawah padi. Wahana Tani Mandiri

Untuk menerapkan strategi yang baik, efektif, dan mengoptimalkan produktivitas tanaman padi, perlu adanya dukungan dari para pemangku kepentingan dalam aspek pengembangan teknologi, pengadaan sosialisasi dan program intervensi, serta kebijakan terkait pelatihan, pendampingan, penyediaan fasilitas, sarana, prospek pasar, dan sistem pinjaman keuangan.

Referensi

BBPADI, 2017. Karakteristik Tiga Varietas Unggul Padi Resisten Hama dan Penyakit. Balai Besar Penelitian Tanaman Padi Balitbangtan Kementerian Pertanian. https://bbpadi.litbang.pertanian.go.id/index.php/info-berita/berita/karakteristik-tiga-varietas-unggul-padi-resistan-hama-dan-penyakit

Effendi, B.S. 2009. Strategi pengendalian hama terpadu tanaman padi dalam perspektif praktek pertanian yang baik (good agricultural practices). Pengembangan Inovasi Pertanian 2(1): 65–78.

Effendi, B.S. 2011. Strategi fundamental pengendalian hama wereng batang coklat dalam pengamanan produksi padi nasional. Pengembangan Inovasi Pertanian 4(1): 63–75.

Hersanti, Santosa, E., Dono, D. 2013. Pelatihan pembuatan pestisida alami untuk mengendalikan hama dan penyakit tanaman padi di Desa Tenjolaya dan Desa Sukamelang, Kecamatan Kasomalang, Kabupaten Subang. Dharmakarya: Jurnal Aplikasi Ipteks untuk Masyarakat 2(2): 139–145.

Kartohardjono, A. 2011. Penggunaan musuh alami sebagai komponen pengendalian hama padi berbasis ekologi. Pengembangan Inovasi Pertanian 4(1): 29–46.

Roja, A. 2009. Pengendalian hama dan penyakit secara terpadu (PHT) pada padi sawah. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Sumatera Barat. Payakumbuh.

Widiarta, I.N., Suharto, H. 2009. Pengendalian hama dan penyakit tanaman padi secara terpadu. Balai Besar Penelitian Tanaman Padi. Subang.

Winarto, Y.T. 2014. ‘Hama dan musuh alami’, ‘obat dan racun’: Dinamika pengetahuan petani padi dalam pengendalian hama. Jurnal Universitas Indonesia. Depok.

Wunangkolu, R., Rismaneswati, Lopulisa, C. 2019. Karakteristik dan produktivitas lahan sawah irigasi di Kecamatan Duampanua Kabupaten Pinrang. Jurnal Ecosolum 2(1): 2654–430X, 34–49.