Sistem Informasi Geografis dan Analisis Kesesuaian Habitat: Studi Kasus Seruyan

Contoh data spasial Seruyan yang digunakan untuk analisis kesesuaian habitat , (dari kiri ke kanan) 
data tutupan pohon, ketinggian, dan badan air.

Isu kelestarian alam dan perencanaan wilayah konservasi semakin menjadi perhatian dalam beberapa dekade terakhir ini. Hal ini didorong oleh penurunan populasi hewan liar bahkan kepunahan suatu spesies yang diakibatkan deforestasi besar-besaran, pencemaran lingkungan, dan perburuan liar. Untuk itu, dalam hal perencanaan wilayah konservasi, sistem Informasi Geografis (SIG) dapat dimanfaatkan untuk melakukan analisis habitat yang berdasar pada informasi spasial atau geografis dari suatu area. Sebagai contoh, perencanaan koridor migrasi satwa liar seperti beruang madu (Helarctos malayanus) di Kabupaten Seruyan .

Keanekaragaman hayati hutan di wilayah utara Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah masih terbilang tinggi. Lebih dari 200 spesies pohon dapat teridentifikasi di dalam kawasan hutan tersebut. Satu hektar plot di kawasan hutan ini mugkin memiliki 50 spesies, dan 92 pohon dengan diameter di atas 30 cm. Tutupan tajuk yang tinggi ini sangat mendukung untuk dijadikan rumah bagi berbagai jenis satwa liar, bahkan yang terancam punah seperti beruang madu. Namun, hasil observasi penduduk lokal dan studi terdahulu menyatakan bahwa fauna yang langka ini terlihat di wilayah selatan Kabupaten Seruyan. Oleh karena itu, perencanaan pembuatan koridor hijau perlu dilakukan sehingga satwa liar ini dapat bermigrasi secara alami dari wilayah selatan menuju bagian utara Kabupaten Seruyan.

Perencanaan pembuatan koridor migrasi alami ini didahului dengan analisis kesesuaian habitat beruang madu. Analisis ini dilakukan dengan pembobotan faktor-faktor yang mempengaruhi lingkungan hidup beruang madu dan membandingkannya dengan keadaan di Kabupaten Seruyan. Faktor-faktor yang dipertimbangkan biasanya didapat dari penelitian langsung di lapangan atau pun penelitian terdahulu. Faktor-faktor ini kemudian dibobotkan dan disusun ke dalam sebuah model yang memerlukan informasi spasial. Untuk itu, pengumpulan data spasial perlu dilakukan. Data spasial dapat bersumber dari data lapangan dalam bentuk vektor maupun data satelit dalam bentuk raster. Data vektor yang umum digunakan untuk area studi di wilayah Indonesia adalah Peta Rupabumi Indonesia (RBI) dari Badan Informasi Geospasial dan Peta Penutupan Lahan Indonesia yang dikeluarkan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Sedangkan data raster yang digunakan untuk analisis kesesuaian habitat dapat diperoleh dari Shuttle Radar Topography Mission yang dikeluarkan oleh United States Geological Survey untuk informasi topografi dan data Tree Cover Hansen untuk informasi tutupan pohon.

Contoh hasil analisis sederhana kesesuaian habitat beruang madu (Helarctos malayanus) 
di Kabupaten Seruyan dengan dua kelas (sesuai dan tidak sesuai)

 

Model yang telah disusun dan data spasial yang telah dikumpulkan kemudian dimasukkan ke dalam perangkat lunak SIG. Analisis dapat dilakukan dengan beragam cara mulai dari yang sangat manual yaitu dengan melakukan setiap tahap satu persatu sampai cara otomatis, yaitu dengan kode perintah yang dijalankan oleh perangkat lunak SIG yang digunakan dimana tergantung pada tingkat keahlian, ketersediaan peralatan dan biaya. Proses ini menghasilkan peta yang mampu menampilkan bagian-bagian dari Seruyan yang sesuai untuk dimanfaatkan sebagai habitat beruang madu. Peta hasil analisis ini nantinya dapat dibandingkan dengan data sebaran beruang madu di lapangan untuk dijadikan acuan dalam upaya konservasi.

Beragamnya jenis model dan teknik yang pernah digunakan peneliti terdahulu masih terus berperan dalam penentuan metode yang akurat. Di sisi lain pihak pengembang perangkat lunak juga terus meningkatkan kemampuan dan kemudahan programnya. Proses ini diharapkan akan terus berlanjut demi tercapainya metode analisis yang semakin efektif.

Penelitian yang dilakukan INOBU di Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah didukung oleh Earth Innovation Institute melalui Forests, Farms and Finance Initiative (didanai oleh Norwegian Agency for Development Cooperation), danthe David and Lucile Packard Foundation serta the Sustainable Tropics Alliance (didanai oleh German International Climate Initiative). Cokorda Gde Wisnu Wiratama