Sepenggal Cerita Menyusuri Dusun Pala Papua

Gambar 1. Pala kamar yang merekah di dahan

Cerita saya mengiringi seorang petani memetik pala dari satu pohon ke pohon lainnya, dan dari satu dusun di bukit ke dusun lainnya di lembah.

Terhitung sekitar dua minggu lagi sebelum memasuki musim barat panen pala di Fakfak, ketika saya menjelajahi dusun (lahan) pala untuk memetik buah yang sudah tua. Memanen satu pohon secara keseluruhan tidaklah menjadi pilihan, karena dapat dipastikan lebih dari 50% buah masih muda. Oleh karena itu, memetik hanya pala kamar, pala yang sangat mudah diidentifikasi sebagai pala tua karena buahnya yang merekah di pohon, adalah pilihan yang kami lakukan (Gambar 1).

Kami menelusuri hutan pala di antara pohon-pohon menjulang dengan jarak tanam tidak beraturan (Gambar 2). Pak Soleman, petani yang menemani saya tengah bersiap untuk memanjat pohon pala sambil membawa galah dengan ujung berkantong yang berfungsi untuk menadah buah yang dipetik agar tidak jatuh ke tanah. Kami mengidentifikasi pohon dengan mengamati buah yang jatuh di tanah atau cukup dengan mengambil satu atau dua sampel pala di tajuk bawah sebelum memutuskan untuk memanjat pohon atau tidak.

Gambar 2. Pohon-pohon pala merupakan warisan dan ibu yang memberikan penghidupan

 

Dalam praktek panen tradisional, memanjat pohon adalah keharusan mengingat pohon pala papua yang biasa disebut masyarakat setempat sebagai pala negeri, memiliki tinggi sekitar 15m dan seringkali dilengkapi dengan tajuk lebar yang rapat (Gambar 3). Pemanjatan juga dilakukan untuk mencegah pala jatuh langsung mengenai tanah, ini merupakan salah satu tindakan preventif untuk mengurangi potensi kontaminasi aflatoksin pada buah pala.

Gambar 3. Memanjat pohon hingga ke ujung demi mendapatkan buah pala

 

Cahaya matahari yang menyengat hanya sedikit menerobos kanopi hutan. Kami melanjutkan perjalanan ke arah bukit dimana lahan milik Pak Soleman berada, dengan harapan mendapatkan lebih banyak pala kamar. Saat saya istirahat, Pak Soleman bercerita bahwa beberapa pohon pala miliknya sudah dipanen karena alasan kebutuhan yang mendesak. Tentu saja pala yang didapat masih muda atau haji, padahal pala papua terkenal diambil rempahnya dimana pala tualah yang menghasilkan mutu terbaik. Di beberapa daerah diberlakukan sasi adat sebagai upaya untuk menjaga mutu tersebut. Sasi adat adalah sistem pengendalian waktu panen dimana petani belum diperbolehkan memanen pala sebelum sasi dibuka. Pelanggaran atas sasi atau panen sebelum masanya akan dikenakan sanksi adat.

Selain simbol ekonomi, pala merupakan tanaman yang ramah dan bisa tumbuh berdampingan dengan pohon-pohon hutan lainnya. Tak jarang, kami menjumpai pohon-pohon besar yang tumbuh bersisian dengan pala atau tanaman bernilai ekonomis yang bisa dipetik hasilnya seperti buah durian dan masohi. Sambil membersihkan belukar di sekitar pohon pala, Pak Soleman menunjukkan pohon pala muda yang baru belajar berbuah dan pala-pala kecil yang trubus di bawah pohon induknya. Tiba-tiba saya dikagetkan dengan suara kepakan sayap, sekejap saya mengira itu suara helikopter, namun yang melintas di atas kami adalah burung-burung dengan sayap lebar, julang papua. Mereka di sebut taun-taun dalam bahasa lokal. Burung yang dipercaya ikut menyebarkan biji-biji pala di belantara dan petani pala juga mempercayai bahwa di antara pohon-pohon pala peninggalan moyang, julang papua-lah yang menanamnya. Hutan pala ramah dengan satwa-satwa tersebut, sepanjang menyusuri dusun, nyanyian burung-burung yang bersahutan menjadi musik kami, sambil sekali-kali kami melangkahi akar-akar kokohnya yang berfungsi mengurangi erosi dan menjaga mata air setempat. Dan pada akhirnya, merawat pala tidak hanya menguntungkan secara ekonomi, namun juga berarti bagi lingkungan. * Mei Nita Sari