Semangat Lestari Pertanian Tebas Bakar Masyarakat Adat Lamaholot Tanjung Bunga (Bagian 2)

Upacara pemotongan kurban dan huke suku Maran dalam ritual membuka kebun besar suku di Desa Ratulodong

Baca: Semangat Lestari Pertanian Tebas Bakar Masyarakat Adat Lamaholot Tanjung Bunga (Bagian 1)

Usaha tani ladang berpindah merupakan jenis usaha tani (mula hama’) yang paling banyak dilakukan oleh masyarakat adat Lamaholot Tanjung Bunga di Nusa Tenggara Timur. Masyarakat membuka ladang dengan cara menebang dan membakar dan menggunakan peralatan seperti api (ape), parang (nume/peda), kapak (soru), dan batu gurindam (elut).

Sistem pertanian tradisional tebas bakar masyarakat adat Lamaholot Tanjung Bunga selalu didampingi dengan upacara adat. Tahapan tradisi tersebut, yakni:

Pertama, tahapan persiapan:

  1. Hewa otok (musim berburu hewan) adalah sebuah simbol untuk pembasmian hewan hama, seperti kera, babi hutan, dan babi landak. Proses ini juga bertujuan untuk mengenalkan lokasi hutan newa nura. Kegiatan hewa otok juga dilaksanakan saat meneliti hutan garapan yang sudah lama ditinggalkan dan ditumbuhi semak belukar. Para tetua adat biasanya sudah menyepakati suatu wilayah yang akan dikerjakan pada tahun berjalan. Proses pelepasan sebelum turun berburu juga diikuti dengan sebuah upacara adat oleh tua adat.
  2. Bulu’ adalah penandaan lahan baru pertanian. Kegiatan bulu sekaligus sebagai tanda restu kepada penjaga hutan agar rencana kebun baru tersebut bisa dilaksanakan dengan lancar.
  3. Tine gota, seru bituk eha nurok artinya kegiatan penebasan lahan, pembersihan dan pembakaran kebun. Kegiatan ini biasanya dilakukan oleh kaum laki-laki dalam semangat gotong royong (gemohin).

Kedua, tahapan menanam dan penjagaan:

  1. Sikat tubak mula helo yakni proses penanaman bibit. Dalam tahapan ini dimulai dengan proses upacara adat yang merupakan ritual kurban kepada Lera Wula Tanah Ekan atau Tuhan Penguasa Alam Semesta.
  2. Butu plamu niha kara artinya pemagaran kebun dengan kayu setinggi dua meter. Tujuannya adalah untuk menjaga tanaman yang ada di dalam ladang agar tidak dirusak oleh hama hewan liar, seperti babi hutan dan babi landak.
  3. Ulu awo atau Reka wu’u nuran artinya makan sisa benih tanaman (dari bibit tanaman yang telah dipakai) bersamaan dengan hasil panen pertama dalam ladang tersebut, misalnya buahan, sayuran dan jagung. Biasanya proses ini terjadi saat musim jagung mulai dipanen.
  4. Oho balu adalah ritual adat saat tumbuh tunas padi di ladang. Dalam bahasa kekinian, oha balu berarti keramas atau pembersihan rambut, yang dikhususkan kepada kaum perempuan. Kegiatan ini menyimbolkan pemanjaan kepada Jedo Pare Tonu Wujo atau Dewi Padi atas keremajaannya yang ditandai dengan tumbuhnya tunas padi. Ritual ini menandakan harapan untuk kesuburan dan keberhasilan panen.

Ketiga, tahapan panen:

  1. Ule laka, artinya masa persiapan panen. Ritual adat dimaksudkan agar hasil panen tetap terjaga dan tidak ada habisnya.
  2. Hone ori laba keba artinya pembuatan lumbung atau rumah tempat penyimpanan hasil panen (oring).
  3. Pula geta geret adalah masa panen hasil pertanian.
  4. Reka taha wu’u artinya makan padi (beras) baru, yaitu syukuran panen yang ditandai dengan makan bersama dalam Lewo.

Komponen utama dalam setiap fase pertanian ini adalah adanya semangat ketahanan pangan, penjagaan pertanian dari hama, gotong royong, dan penghormatan terhadap alam sebagai pemberi kehidupan. Pada tahapan-tahapan di atas dalam upaya pemenuhannya juga harus melalui pembicaraan bersama sebelum memulai kegiatannya. Pembicaraan bersama tersebut melibatkan semua warga lewat pemimpin sukunya. Dalam pembicaraan bersama ini semua pihak didengarkan dan tidak satupun disingkirkan. Selain itu, segala tahapan ini juga mengandung nilai filosofi sebagai bentuk penghormatan masyarakat Tanjung Bunga terhadap “Jedo Pare Tonu Wujo” yang adalah Dewi Padi.