Semangat Lestari Pertanian Tebas Bakar Masyarakat Adat Lamaholot Tanjung Bunga (Bagian 1)

Upacara hoe eraq adalah penyediaan bibit padi yang dilakukan oleh ibu-ibu dalam masyarakat adat di Desa Ratu Lodong, Tanjung Bunga, Nusa Tenggara Timur (NTT), sebagai bentuk penghormatan terhadap dewi padi.

Sektor pertanian merupakan hal yang cukup dominan di perekonomian lokal masyarakat di Nusa Tenggara Timur, termasuk masyarakat adat Lamaholot Tanjung Bunga di ujung timur pulau Flores.

Masyarakat adat Tanjung Bunga memaknai alam sebagai kesatuan yang organik makanya disebut kampung (Lewo). Orang berbudaya Lamahalot Tanjung Bunga Bunga memiliki filosofi dan praktik hidup berupaya menjaga relasi yang harmonis dengan alam, ditandai adanya ritual tradisi sebagai ikatan kesatuan manusia dan alam.

Bagi masyarakat Tanjung Bunga, alam daratan dan lautan memberikan kedamaian yang harus senantiasa dijaga. Terdapat istilah lokal, yakni Ema Nini Tanah Ekan, yang berarti sumber-sumber kehidupan yang sering dipersonifikasi. Misalnya saja, alam itu hidup dan tidak tidur lelap sehingga jangan disiksa malah harus dihormati melalui titik-titik ritus tertentu agar selalu berdamai dengan manusia.

Dalam sistem pembagian tanah, terdapat kawasan lindung yang koservasikan, disebut dengan tanah larangan (newa glara). Daerah newa glara ini dipercaya menjadi tempat tinggal makhluk halus di darat, atau Nitun Ile — Woka. Jika newa glara tersebut diganggu, akan timbul dampak “sebab akibat” dalam kehidupan orang yang mengganggu daerah sakral tersebut.

Selain itu, hak ulayat tanah dibagi berdasarkan hasil diskusi bersama para suku raja. Tanah ulayat Lewo kemudian menjadi bagian tanah adat suku masing-masing, atau disebut juga kebun adat. Dengan berjalannya waktu, hadir rumpun suku-suku lainnya dan suku-suku pendatang diberi kesempatan untuk melebur ke dalam suku besar tersebut. Namun, payung pembagian tanah di Tanjung Bunga tetap ada pada suku raja.

Tanjung Bunga memiliki cara pembagian hak ulayat tanah suku (newa nura) melalui hak huke tana (pemberian makan tanah). Huke adalah upacara penghormatan leluhur yang menyimbolkan bahwa tanah pertanian harus dikelola dan dijaga dengan penuh tanggung jawab. Upacara huke’ menyatakan kepemilikan atas tanah sekaligus mengingatkan kepada orang lain agar jangan merampas hak ulayat tanah suku tersebut.

Pembagian ulayat tanah dimulai dari pembagian dalam beberapa bidang ladang kosong (etan), yang kemudian dari ladang tersebut dibagi lagi dalam bidang-bidang yang lebih kecil (newa). Masing-masing sub-suku (lango) atau keluarga batih dapat menuntut hak atasnya. Hak atas tanah ini berasal dari leluhur mereka yang ditugaskan oleh tuan tanah (suku raja) untuk mengurus lahan tersebut.

Menggugat sistem pertanian tradisional tebas bakar

Masih banyak masyarakat di kampung-kampung NTT yang menggunakan sistem tebas bakar. Namun, tradisi ini juga merupakan kearifan lokal dengan makna penjagaan alam dan ketahanan pangan melalui sejumlah ritual adat.

Tradisi petani lokal bisa dikolaborasi dengan sistem dan teknologi alternatif untuk mendatangkan kelestarian alam dan budaya.

Budidaya pertanian yang dilakukan oleh petani kecil telah ada sejak lama, bahkan sebelum lahirnya negara. Apabila negara hadir dengan kebijakan mengenai budaya pertanian yang berkelanjutan, sudah seharusnya tidak melarang atau menghentikan tradisi petani lokal.

Pengetahuan pertanian tradisional ini telah diwariskan secara turun-temurun. Pengabaian tradisi masyarakat adat untuk menyelamatkan alam tidak menunjukkan semangat keberlanjutan. Tradisi dan alam yang lestari harus bisa tetap eksis secara beriringan.

Solusi untuk menyempurnakan praktek pertanian lokal harus dapat memberdayakan masyarakat tanpa menghilangkan kearifan. Bertani tidak hanya meningkatkan produktivitas ekonomi, tetapi juga menjaga lingkungan dan budaya lokal. Kombinasi berbagai teknik pertanian harus bisa diupayakan dengan partisipasi petani lokal.

Baca: Semangat Lestari Pertanian Tebas Bakar Masyarakat Adat Lamaholot Tanjung Bunga (Bagian 2)