Praktek Pertanian Tradisional Pala Papua: Budi Daya Syarat Cerita

Penulis sedang melakukan interview bersama petani-petani pala di Kampung Pang Wadar 
(dok:Yayasan Inobu)

Dari berbagai sumber, seperti laporan studi dan literatur, disampaikan bahwa budi daya pala di Fakfak digolongkan sebagai pertanian tradisional. Masih lestarinya pertanian tradisional ini, bukan saja karena masalah keterbatasan akses, kapasitas dan kemampuan petani maupun ketersediaan input pertanian, namun juga sangat dipengaruhi oleh nilai-nilai sosial dan budaya di masyarakat dan petani pala. Melalui tulisan ini, saya mencoba menceritakan sedikit dari yang saya kumpulkan selama kurang lebih hampir 2 tahun, mengenai praktek pertanian tradisional pala papua, berasal dari hasil studi, survei, interview maupun obrolan-obrolan bersama petani-petani pala di Pang Wadar dan Patimburak, Distrik Kokas, Kabupaten Fakfak.

Persiapan lahan: Manajemen hara dan semangat gotong royong

Berdasarkan hasil studi dan interview, diketahui bahwa tidak ada satupun petani dari desa Pang Wadar dan Patimburak, yang pernah melakukan pemupukan dalam kegiatan budi daya pala. Semula saya berpikir, masalahnya mungkin disebabkan oleh tidak tersedia atau sulitnya mendapatkan pupuk atau karena mahalnya harga pupuk, sehingga petani tidak mampu membeli. Namun, saya ingat, pada suatu diskusi di rumah petani pala, salah satu petani menjelaskan bahwa tidak dipupuknya pala, juga dikarenakan adanya kepercayaan bahwa tanaman pala memang tidak membutuhkan dan tidak boleh dipupuk. Dalam obrolan lepas di Pang Wadar, beberapa petani menjelaskan, bahwa mereka percaya pupuk dapat menghasilkan panas, sehingga mengganggu pertumbuhan dan perkembangan pala, yang menurut mereka membutuhkan iklim “dingin “ untuk dapat tumbuh dengan baik. Mereka lebih lanjut menjelaskan, bahwa persiapan lahan merupakan satu-satunya kunci di dalam praktek tradisional untuk dapat menyajikan sumber hara yang cukup bagi budi daya pala.

Proses persiapan lahan untuk budi daya pala dimulai dengan menebang pohon-pohon besar namun menyisakan pohon-pohon kecil dan perdu. Kegiatan penebangan pohon-pohon besar ini biasanya dilakukan secara bergotong royong, oleh keluarga besar (extended family) dimana si empunya lahan sebagai pemilik hajat akan dibantu oleh sanak keluarga, dengan “imbalan” menyajikan makan siang untuk dinikmati bersama di kebun. Pohon-pohon besar yang ditebang ini nantinya dipotong menjadi lebih kecil, sebagian kecil digunakan untuk bahan papan, sementara sebagian besar ditinggalkan di lahan. Pohon-pohon tersebut, seiring waktu, akan mengalami pelapukan, menjadi sumber bahan organik, pengikat hara dan mineral yang nantinya dibutuhkan oleh tanaman pala. Tak jarang banyak pohon besi/ulin, ataupun matoa yang ditebang, padahal dibutuhkan waktu berpuluh-puluh tahun untuk dapat benar-benar lapuk dan habis terurai.

Jenis kelamin dan jarak tanam: Strategi investasi

Panduan teknis budi daya pala dengan pendekatan intensifikasi, menganjurkan jarak tanam 9m x 9m hingga 10m x 10m antara bibit-bibit yang ditanam. Jarak tanam ideal ini juga terkait erat dengan rasio tanam ideal antara pala jantan dan betina. Sementara itu, identifikasi jenis kelamin pala (terutama pada pembibitan) masih menjadi tantangan. Hingga saat ini, satu-satunya cara dengan tingkat keberhasilan diatas 80%, dalam menentukan jenis kelamin pala, adalah dengan teknik sambung pucuk (epycotil grafting). Dengan teknik ini, pala dapat ditanam dengan jarak lebih dekat dari 8m hingga 10m dan dengan rasio 8:1 hingga 10:1 antara betina dan jantan. Sayangnya, di Pang Wadar maupun Patimburak, tidak satupun petani yang mempraktikkan ataupun mampu dengan baik melakukan teknik sambung pucuk tersebut. Praktek sambung pucuk memang memerlukan keterampilan khusus dan juga perhatian yang jauh lebih banyak dibanding dengan praktek pembibitan tradisional. Sehingga, di tingkat petani Pang Wadar dan Patimburak, penanaman bibit pala sepenuhnya dilakukan dengan pertimbangan dan teknik tradisional.

Namun, petani pala di Pang Wadar dan Patimburak mempunyai metode tradisional, dalam mengidentifikasi jenis kelamin pala, mulai dari benih hingga tanaman muda. Berdasarkan hasil survei kami, diketahui metode ini diturunkan secara turun temurun dalam keluarga, sehingga terdapat keberagaman dalam metode yang dilakukan oleh tiap keluarga petani terkait idenfikasi jenis kelamin pala. Sayangnya, metode identifikasi tradisional yang sepenuhnya bergantung pada pengamatan fisik/visual ini belum dapat dibuktikan keakuratannya. Oleh karena itu, petani pala di Pang Wadar dan Patimburak menyiasatinya dengan cara menanam pala dengan jarak yang relatif berdekatan. Pada hasil survei sebelumnya, jarak antara tanaman pala di Pang Wadar, berkisar antara 4,2m sampai 7,1m. Dengan jarak tanam yang lebih dekat tersebut, petani dapat menanam lebih banyak tanaman pada suatu lahan. Dengan lebih banyaknya tanaman di lahan, petani kemudian memiliki peluang yang lebih besar untuk memiliki jumlah tanaman jantan dan betina yang berimbang dalam suatu lahan. Di Fakfak, terdapat pula kepercayaan untuk tidak boleh menebang pohon pala betina. Oleh karena itu, yang biasa petani lakukan adalah menebang pohon-pohon jantan tersebut bila sudah dapat dipastikan jenis kelaminnya dan menggantinya dengan bibit yang baru, yang kemudian juga masih dipertanyakan jenis kelaminnya di kemudian hari. Namun sayangnya, untuk dapat memastikan jenis kelamin pala biasanya petani harus menunggu hingga pala memasuki fase generatif/pembungaan. Sungguh sangat disayangkan, waktu yang telah diinvestasikan, bila pada akhirnya pohon tersebut adalah jantan yang tidak diinginkan. Oleh karena itu, selain perlu penelitian lebih lanjut tentang identifikasi jenis kelamin pala, pemberian bantuan bibit sambung pucuk sebagai tahap awal hingga pembangunan kapasitas petani agar mampu melakukan kegiatan sambung secara mandiri, tentu menjadi rencana ke depan yang perlu dipertimbangkan.

Serba serbi panen: Sasi hingga Meritotora

Pada panduan budi daya pala, disebutkan bahwa pala mulai memasuki usia produktif 5–6 tahun setelah tanam. Sementara, berdasarkan hasil interview, para petani Pang Wadar menyebutkan bahwa kebanyakan pala mulai berbuah setelah berumur 9 -10 tahun dari waktu tanam, bahkan tak jarang lebih lama. Faktor penyebabnya bisa bermacam- macam, bisa dari bibit yang digunakan, faktor lingkungan hingga perlakuan/praktek budi daya yang diterapkan, yang perlu diteliti lebih lanjut di kemudian hari. Namun, bila berbicara panen, banyak sekali nilai sosial dan budaya yang saya tangkap melalui interview, diskusi hingga obrolan-obrolan santai bersama petani.

Di Fakfak, terkait dengan jadwal panen, dikenal luas istilah sasi. Sasi secara mudah dapat dibilang berupa larangan untuk mengambil/memanen tanaman yang disepakati secara adat. Biasanya, dalam lingkup wilayah adat tertentu, akan disepakati untuk dilakukan sasi dengan waktu yang disepakati. Setelah sasi dibuka/dicabut, barulah petani-petani dapat memanen pala. Dalam pandangan agronomi, sasi dapat digunakan beringin untuk mendapatkan hasil pala dengan kualitas yang baik. Salah satu tantangan dari pala sebagai komoditas ekspor adalah beragamnya kualitas pala dari petani. Hasil yang beragam ini, dapat disebabkan oleh banyak faktor, salah satunya adalah pemetikan pala terlalu muda (untuk produk rempah). Sayangnya, tidak semua daerah ataupun kampung menerapkan sasi pala ini.

Hal lain yang menarik perhatian adalah adanya prosesi adat yang dilakukan oleh petani setelah masa panen. Petani yang biasanya memanen pala dalam suatu panen besar, memberikan sesajen berupa kopi, rokok/tembakau, sirih, pinang dan lainnya, kepada pohon yang berbuah paling banyak. Selain sesajen tersebut, petani juga biasanya melilitkan kain pada pohon tersebut. Dijelaskan para petani, hal ini merupakan cara berterima kasih petani kepada pala, yang sering dianggap sebagai “Puteri dan Ibu” bagi masyarakat petani pala di Fakfak. Puteri Meritotora, begitulah mereka menyebutnya. Dan kepercayaan inil pula lah yang menyebabkan adanya larangan menebang pala betina.

Pemberian sesajen di sebelah pohon pala betina yang dililit dengan kain, bagian dari
prosesi adat Meritotora (Dok: Yayasan Inobu).

 

Namun sayang, kadang panen besar, tak selalu datang tiap tahun. Petani di Pang Wadar dan Patimburak, selain mengira-ngira hal tersebut dipengaruhi oleh iklim, juga bercerita tentang mengapa kadang hasil panen jauh dari yang diharapkan. Cerita maraknya pencurian buah pala di kebun kebun petani, seringkali saya dengar dari pace-pace petani. Bahkan beberapa petani bercerita bahwa kadang mereka bertemu dengan pencuri tersebut di lahan mereka sendiri. Pencurian pala ini kemudian menjadi salah satu penyebab banyaknya petani yang memetik pala belum pada usia matangnya, untuk menghindari semakin banyaknya pala yang dicuri.

Pertanian tradisional menuju pembangun berkelanjutan

Tak dapat ditampik bahwa masyarakat atau komunitas daerah rural menjadi tujuan utama dari rencana pembangunan berkelanjutan, karena dinilai paling rentan, baik dari tekanan buatan manusia maupun alam. Terkait hal tersebut, pemerintah melalui kebijakan dan programnya, bertujuan untuk meningkatkan pengembangan masyarakat daerah rural, yang seringkali mempercepat modernisasi masyarakat dan pemasaran ekonomi tradisional. Hal ini, dapat berdampak dan merombak ulang praktek ekonomi, sosial dan budaya tradisional masyarakat rural, yang pada akhirnya akan kembali berkontribusi pada kerentanan yang lebih rapuh pada masyarakat rural itu sendiri[1]. Ambillah contoh dari ranah pertanian dan Fakfak. Dengan praktek pertanian modern seperti praktek monokultur dan intensifikasi, dapat mengakibatkan erosi besar-besaran pada daerah miring pegunungan, hilangnya hara tanah, polusi bahan kimia dari pupuk dan input kimia lainnya serta lebih jauh penurunan jasa ekosistem dan kehilangan biodiversiti[2].

Oleh karena itu, program dan kebijakan untuk pembangunan masyarakat rural sebagai upaya mengurangi kerentanan perlu mengacu pada praktek-praktek yang lebih “lokal”. Pengetahuan Ekologi Tradisional (TEK) sebagai sebuah pengetahuan, yang semakin banyak diadopsi sebagai mekanisme meningkatkan keberlanjutan ekologi, menyebutkan salah satunya adalah dengan pertanian tradisional. Pertanian tradisional dipandang sebagai manisfestasi lokal dari TEK, pada banyak kesempatan dilengkapi dengan kapasitas untuk mampu mengatasi dan beradaptasi dengan kondisi lingkungan yang berubah seiring waktu dan terbukti mendukung keanekaragaman budaya dan biologis [3] [4].

Oleh karena itu, serangkaian penelitian yang memiliki tujuan untuk menginvestigasi pertanian tradisional dalam budi daya pala di Fakfak dan perannya dalam melestarikan sumber daya dan meningkatkan kemampuan adaptasi lokal terhadap perubahan iklim , tentu menjadi penting dan menarik dilakukan di kemudian hari. Surya Meihdhy Basri

Referensi

[1] MacDonald, D.; Crabtree, J.R.; Wiesinger, G.; Dax, T.; Stamou, N.; Fleury, P.; Lazpita, J.G.; Gibon, A. Agricultural abandonment in mountain areas of Europe: Environmental consequences and policy response. J. Environ. Manag. 2000,59, 47–69.

[2] Papendick, R.I.; Elliott, L.F.; Dahlgren, R.B. Environmental consequences of modern production agriculture: How can alternative agriculture address these issues and concerns? Am. J. Altern. Agric. 1986 ,1, 3–10

[3] Altieri, M.A. Linking ecologists and traditional farmers in the search for sustainable agriculture. Front. Ecol. Environ. 2004,2, 35–42. [CrossRef]

[4] Berkes, F. Sacred Ecology, 3rd ed.; Routledge: New York, NY, USA, 2012; ISBN 9780415517317.