Petani Sawit Dorong Ketersediaan Kompos Kotoran Sapi

Sapi diberi pakan rumput

Di tengah-tengah perkebunan sawit, Sartono dan beberapa teman petani kelapa sawit yang tergabung di BUMDes Karya Mandala Makmur (KMM) sedang memberi makan sapi-sapi di kandang ternak yang terletak di Desa Lada Mandala Jaya, Kecamatan Pangkalan Lada, Kabupaten Kotawaringin Barat. Mereka tampaknya antusias sekali dengan kesibukan merawat ternak dan membenahi kotoran-kotoran sapi ke dalam bak penampungan. Ternyata, sapi-sapi ini diternakkan bukan sebagai sapi potong atau sapi perah, melainkan untuk dikumpulkan kotorannya. Kotoran sapi ini akan diolah menjadi pupuk organik dan bisa digunakan di perkebunan sawit mereka.

Selama ini, budidaya kelapa sawit masih menggunakan pupuk dan pestisida kimia. Penggunaan bahan kimia dalam jangka panjang dan berlebihan dapat menyebabkan kualitas tanah menurun. Pupuk organik dapat menjadi solusi untuk mengembalikan kesuburan dan kualitas tanah, seperti yang saat ini sedang diusahakan oleh kelompok petani sawit yang tergabung dalam BUMDes KMM ini. Sartono dan teman-teman petani mulai memproduksi kompos dari kotoran sapi secara mandiri.

Inisiatif ini juga mendukung eksistensi mereka sebagai kelompok petani yang telah mengikuti sertifikasi kelapa sawit kelapa sawit berkelanjutan yaitu Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) dan Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO). “Para petani kesulitan mendapatkan pupuk organik. Dengan adanya usaha produksi pupuk kompos ini, diharapkan semua petani dapat mengaplikasikan pupuk minimal setahun sekali dalam rangka meningkatkan unsur hara dan memperbaiki struktur tanah”, ujar Pak Sartono.

Rencana usaha produksi kompos ini telah dipersiapkan dengan matang oleh pengurus usaha desa sejak November 2020 lalu. Sartono, yang bertugas sebagai manajer kelompok di Internal Control System (ICS) BUMDes KMM, sudah lama ingin membangun usaha pertanian yang dapat meningkatkan pendapatan masyarakat desa. Berbekal ilmu dari pendidikannya sebagai paramedis hewan ternak dan pengalamannya sebagai seorang penyuluh pertanian selama lebih dari 30 tahun, Sartono memanfaatkan pengetahuan dan pengalamannya untuk memajukan pertanian di desanya, baik itu dari segi budidaya tanaman agronomi dan hortikultura, perkebunan, dan peternakan.

Dana yang terbatas tak menyurutkan niat para pengurus BUMDes KMM. Mereka menyiapkan dan mengirim proposal ke beberapa pihak untuk mencari sumber dana. Perjuangan tersebut membuahkan hasil: Bambang Purwanto, ST, MSi, anggota komisi IV DPR RI, memberikan bantuan dana untuk membeli ternak sapi, membuat kandang, pengadaan mesin dan peralatan yang dibutuhkan untuk produksi kompos. BUMDes KMM juga mendapat dana hibah dari Bank Indonesia yang diperuntukkan membangun laboratorium produksi mikroorganisme untuk fermentasi pupuk kompos (MA-11), beserta kelengkapan alat laboratorium.

BUMDes KMM memanfaatkan tanah seluas setengah hektar untuk mendirikan kandang peternakan sapi yang berdampingan dengan bangunan produksi pupuk kompos berupa dua bak fermentasi permanen dan mesin pengolahan, serta akan didirikan bangunan laboratorium untuk produksi MA-11. Lokasinya jauh dari pemukiman masyarakat, sehingga diharapkan aktivitas produksi pupuk ini tidak mengganggu masyarakat. Sartono menerangkan bahwa pengolahan kotoran sapi menjadi pupuk kompos membutuhkan proses yang panjang. Adapun tahapan proses yang perlu dilalui yaitu proses persiapan kotoran, fermentasi, filtrasi air kotoran sapi, penguraian, pelapukan hingga pengeringan, dan selanjutnya penggilingan menjadi pupuk kompos yang siap digunakan.

Uji coba produksi pupuk kompos sudah mereka lakukan pada Desember 2020 lalu. Sartono menyatakan pupuk yang dihasilkan memiliki kualitas yang bagus, tidak kalah dengan pupuk kompos produsen besar yang beredar di pasaran.

“Walaupun saat ini BUMDes masih mempersiapkan produksi pupuk ini, calon-calon pembeli sudah merespon cepat,” ujar Sartono. “Sudah ada beberapa calon pembeli yang menginginkan pupuk BUMDes, bahkan diminta menyiapkan sampai 100 ton per bulan.”

Kendala utama dalam produksi pupuk ini adalah mendapatkan bahan baku kotoran sapi. Selain kotoran sapi dari ternak sendiri, BUMDes KMM juga menerimanya dari ternak sapi swadaya petani. BUMDes KMM menyatakan tetap optimis dapat memenuhi permintaan pasar dan menyiapkan berbagai rencana untuk mendapatkan bahan baku tersebut.

Bak fermentasi kotoran sapi

“Sebelum dijual, produksi pupuk BUMDes pertama ini akan diperuntukkan bagi seluruh anggota BUMDes KMM, yang juga mengikuti program sertifikasi kelapa sawit berkelanjutan,” jelas Sartono.

Ia mengharapkan penggunaan pupuk organik ini akan menunjukkan perbedaan hasil yang nyata sehingga lebih banyak petani yang akan bergabung menggunakan pupuk organik di kebun mereka.

Usaha peternakan dan produksi pupuk kompos ini akan mengambil tenaga kerja dari pemuda setempat dan didampingi oleh pengurus ICS BUMDes sendiri. Sementara itu, pengecekan kesehatan dan petugas inseminator buatan ternak akan dikerjakan langsung oleh Sartono yang memiliki keahlian di bidang tersebut. Khusus untuk tenaga kerja di laboratorium, Bank Indonesia akan mendatangkan tenaga ahli untuk mengawali produksi mikroorganisme MA-11 di laboratorium dan memberikan pelatihan kepada pemuda setempat agar dapat melanjutkan produksi MA-11 secara mandiri.

Sartono menyatakan desanya masih membutuhkan mesin mixer untuk produksi pakan ternak sapi. Sementara ini, pakan ternak masih diproduksi secara manual dan belum bisa menghasilkan bahan-bahan pakan yang tercampur merata. Seiring berjalannya usaha ini, BUMDes KMM akan terus berusaha melengkapi kebutuhan produksi agar dapat berproduksi secara optimal dan memenuhi permintaan petani.

Sartono juga menyampaikan harapannya agar usaha ini bisa berkelanjutan dan berdampak bagi masyarakat dalam jangka panjang.

“Saat ini kami yang merintis sudah tua dan fisik tidak sekuat dulu. Kami menaruh harapan besar agar beberapa tahun ke depan dapat dilanjutkan oleh generasi muda mendatang,” tutupnya.