Petani Sawit di Kalimantan Tengah dan Petani Pala di Papua Barat: Profesi Utama dan Pendidikan

Salah satu aktivitas yang dilakukan Inobu dna Agricultural Facility di Seruyan, Kalimantan Tengah

Tidak bisa dipungkiri bahwa minyak kelapa sawit (CPO) dan pala merupakan komoditas unggulan Indonesia di pasar global. Indonesia mengekspor CPO sebesar ±6,6 juta ton dengan nilai 546 USD per ton-nya pada tahun 2018 (trademap.com). Untuk komoditas pala, Indonesia telah mengekspor 2.943 ton dalam bentuk bubuk senilai 6.962 USD per ton, serta 13.706 ton dalam bentuk non-bubuk yang bernilai sebesar 4.962 USD per ton di tahun yang sama (trademap.com). Hal ini menjadikan Indonesia sebagai eksporter CPO dan pala terbesar di dunia pada tahun 2018.

Direktorat Jenderal Perkebunan mencatat Indonesia memproduksi sekitar 40 juta ton CPO dan 36 ribu ton pala kering pada 14 juta hektar lahan sawit dan 200 ribu hektar lahan pala di tahun 2018. Tingkat produksi nasional pada kedua komoditas tersebut merupakan jumlah produksi terbesar sepanjang sejarah. Pencapaian ini tidak luput dari hasil kerja keras petani swadaya (smallholder) yang berkontribusi besar terhadap produksi CPO dan pala. Petani swadaya berkontribusi sekitar 34% dari produksi CPO dan sekitar 99% dari produksi pala secara nasional pada tahun 2018. Melihat besarnya kontribusi petani swadaya pada ketersediaan CPO dan pala, maka informasi sosio-ekonomi petani swadaya sawit dan pala menjadi penting. Oleh karena itu, Yayasan Inobu bekerja sama dengan Kementerian Pertanian, dan Dinas Perkebunan Provinsi dan Kabupaten terkait di Kalimantan Tengah (Kabupaten Seruyan, Kotawaringin Barat, dan Gunung Mas) dan Papua Barat (Kabupaten Fakfak) melaksanakan pemetaan petani swadaya sawit dan pala.

Sampai saat ini, Yayasan Inobu telah memetakan 575 petani pala di Papua Barat, dengan total plot, 968 plot dan luas lahan 1.100 hektar. Di Kalimantan Tengah, terdapat 6.268 petani sawit yang sudah dipetakan, dengan total plot lahan 9.790 dan luas lahan mencapai 19 ribu hektar. Melalui artikel ini, kami memaparkan informasi kondisi tingkat pendidikan, profesi utama, dan produktivitas petani swadaya sawit di Kalimantan Tengah dan petani pala di Papua Barat.

Buah pala yang sedang dalam proses pengeringan di salah satu desa di Kabupaten Fakfak, Papua Barat

 

Profesi Utama dan Pendidikan Petani

Berdasarkan hasil pemetaan, tidak semua petani yang menganggap bahwa bertani adalah pekerjaan utama. 54% petani yang dipetakan di Kalimantan Tengah dan 61% petani yang dipetakan di Papua Barat menyatakan bahwa bertani/berkebun merupakan pekerjaan utama, sisanya mengaku pekerjaan lain seperti pegawai swasta, PNS, dan pedagang adalah pekerjaan utamanya. Bahkan, 16% dari total petani yang dipetakan di Kabupaten Fakfak mengaku bahwa nelayan adalah pekerjaan utama mereka dan bertani hanya sebagai profesi sampingan. Tentu saja hal ini tidak terlepas dari kondisi geografis kabupaten Fakfak yang terletak di pinggir laut.

Pada umumnya pilihan kegiatan bertani sebagai prioritas atau tidak, berkaitan erat dengan tingkat pendidikan terakhir yang dimiliki petani tersebut. Seseorang yang mempunyai tingkat pendidikan yang tinggi memiliki kesempatan bekerja yang lebih luas dibandingkan seseorang dengan tingkat pendidikan yang lebih rendah. Hasil pemetaan menunjukkan 61% dari 5.200 petani di Kalimantan Tengah tidak lulus SMP. Untuk Fakfak, 48% dari 575 petani di Fakfak memiliki jenjang pendidikan yang sama. Gambar 1 menunjukkan presentase kepala keluarga yang memilih bertani sebagai pekerjaan utama berdasarkan tingkat pendidikan terakhir di kedua provinsi. Berdasarkan gambar tersebut, individu yang memilih petani sebagai pekerjaan utama didominasi oleh individu yang jenjang pendidikannya tidak sampai SMP. Di Kalimantan Tengah, 76,91% petani yang memilih bertani sebagai pekerjaan utama tidak lulus SMP dan di Papua Barat, 58,5% petani yang dipetakan tidak lulus SMP dan memilih bertani sebagai pekerjaan utama.

Gambar 1: Petani Sebagai Pekerjaan Utama, terpisah dalam Tingkat Pendidikan

 

Namun, sepertinya kegiatan bertani akan lebih baik jika dibarengi dengan tingkat pendidikan yang cukup. Data hasil pemetaan mengindikasi bahwa petani yang memiliki tingkat pendidikan yang lebih tinggi juga memiliki produktivitas perkebunan yang lebih tinggi. Gambar 2 menunjukkan produktivitas petani sawit di Kalimantan Tengah yang memilih berkebun sebagai pekerjaan utama. Petani kelapa sawit di Kalimantan Tengah yang mempunyai pendidikan yang lebih tinggi mempunyai tingkat produktivitas yang lebih tinggi dibandingkan dengan petani dengan tingkat pendidikan yang lebih rendah. Petani penuh waktu yang telah lulus SMP mempunyai tingkat produktivitas sebesar 15,6 FFB Ton/Ha/Tahun. Sedangkan, petani penuh waktu yang tidak lulus SMP hanya mempunyai tingkat produktivitas sebesar 14,5 FFB Ton/Ha/Tahun.

Gambar 2: Rata-rata produktivitas kelapa sawit para petani di Kalimantan Tengah 
yang menyatakan bahwa bertani adalah pekerjaan utama mereka.

 

Namun, hal yang sama tidak dapat disimpulkan untuk petani Pala di Kabupaten Fakfak karena lahan pala yang dipetakan sebagian besar non-monokultur sehingga alokasi waktu berkebun untuk lahan perkebunannya sangat mungkin terbagi pada berbagai komoditas. Oleh karena itu, penelitian lebih lanjut perlu dilakukan untuk melihat korelasi pendidikan dan produktivitas petani swadaya. Dari hal ini dapat dilihat bahwa menganalisa kondisi sosio-ekonomi petani menjadi hal yang penting mengingat kontribusi besar petani swadaya akan sektor pertanian Indonesia. * Fauzan Kemal Musthofa