Pengepul Pala sebagai Penyedia Jasa Keuangan

Biji Mentah Pala Papua

Siapa sangka bahwa pengepul pala di Fakfak juga bisa mendapatkan keuntungan dari menyediakan “fasilitas keuangan” kepada petani? Bulan lalu, saya ditugaskan untuk berangkat ke Fakfak dan tinggal di sana selama sebulan untuk mengamati pergerakan harga pala yang diperjualbelikan di kota tersebut. Dalam mengamati pergerakan pala di kota tersebut, saya menemui dan berbincang dengan beberapa petani, pengepul, dan pembeli besar. Selama pengumpulan informasi harga pala tersebut, saya mendapati adanya sebuah bentuk interaksi yang menarik antara petani, pengepul, dan pembeli besar, yaitu kegiatan pinjam-meminjam uang dimana pala menjadi alat pembayaran kembali hutang tersebut.

Secara umum, rantai pasokan pala di Fakfak terdiri dari petani pala, pengepul kampung, dan pembeli besar. Petani pala memproduksi pala mentah maupun pala kering. Petani pala mampu menjual pala kering jika petani tersebut memiliki fasilitas pengeringan. Petani pala menjual pala mentah atau pala keringnya kepada pengepul kampung. Jika lokasi lahan tidak terlalu jauh, petani pala dapat langsung menjual produk palanya ke pembeli besar tanpa perantara pengepul kampung. Pengepul kampung membeli pala mentah atau pala kering dari petani. Jika pengepul kampung membeli pala mentah, maka pengepul kampung akan mengolahnya menjadi pala kering. Keuntungan pengepul kampung didapat dari margin yang diperoleh dari mengolah pala mentah menjadi pala kering. Pengepul kampung menjual pala yang sudah dikeringkan kepada pembeli besar. Pada umumnya atau sebagian besar, pembeli besar mendistribusikan pala papua ke luar Fakfak. Gambar berikut ini menunjukkan ilustrasi rantai pasokan pala di Fakfak.

Kegiatan pinjam-meminjam terjadi pada interaksi petani dengan pengepul kampung, dan interaksi antara pengepul kampung dan pembeli besar.

Pengepul Kampung sebagai Penyedia Jasa Keuangan

Petani pala menjual pala, baik mentah atau kering, kepada pengepul kampung karena lokasi pembeli besar yang pada umumnya berada di kota. Selain menjadi pengepul pala, pengepul kampung pada umumnya juga menjual barang-barang kebutuhan sehari-hari, layaknya toko kelontongan. Petani menjual palanya dengan mengantarkan hasil panen mereka ke toko pengepul kampung atau sebaliknya, pengepul kampung menjemput panen pala ke lokasi petani.

Aktivitas panen pala tidaklah murah atau mudah bagi petani. Selain membutuhkan keluarga atau orang lain untuk melakukan proses panen biji mentah, banyak petani yang lokasi kebunnya berada jauh dari pemukiman. Mereka bisa menginap berhari-hari di kebun sampai proses panen selesai atau hasil pala yang dipanen sudah banyak. Oleh karena itu, petani membutuhkan sumber daya dan dana untuk menutupi biaya jasa buruh tani dan perbekalan selama proses panen. Biaya panen inilah yang mendorong petani untuk melakukan pinjamanan uang kepada pengepul kampung.

Setelah pala selesai dipanen, petani menyetorkan hasil palanya ke pengepul yang meminjamkan uang kepadanya. Hasil penjualan pala petani pun dipotong sejumlah nilai pinjaman sebelumnya. Sebagai contoh, seorang petani meminjam uang sebesar dua ratus ribu rupiah ke pengepul kampung untuk keperluan sekolah anaknya pada musim panen. Beberapa hari kemudian, petani tersebut datang ke pengepul untuk menjual pala mentah sebanyak seribu biji. Pada saat itu, harga biji pala mentah berkisar 450–500 rupiah per biji. Jika diasumsikan bahwa pengepul menerima pala mentah petani dengan harga 500 rupiah per biji. Maka, petani hanya akan menerima uang sebanyak tiga ratus ribu rupiah setelah dipotong pinjaman.

Beberapa pengepul mengambil margin dari aktivitas pinjam-meminjam ini. Contohnya, petani pinjam uang sebesar 500 ribu rupiah dengan syarat menyetor biji pala mentah sebesar 1300 biji yang bernilai 650 ribu rupiah. Dalam perjanjian ini, pengepul mendapatkan margin sebesar 150 ribu rupiah.

Jika petani membutuhkan uang dalam jumlah besar dalam waktu dekat, mereka bisa “menggadaikan” pohon palanya kepada pengepul kampung. Dalam perjanjian ini, petani menjual hak panen pala kepada pengepul selama satu atau beberapa musim. Oleh karena itu, jika musim panen tiba, pengepul akan memanen pohon pala petani tersebut yang hak panennya sudah dijual kepada pengepul. Praktek perjanjian ini bisa sangat menguntungkan bagi pengepul karena perjanjian ini tidak berdasarkan pada jumlah pala yang dipetik, melainkan berdasarkan waktu pengepul bisa panen pala di pohon petani.

Salah satu pengepul yang saya wawancarai mengaku bahwa keuntungan yang didapatkan untuk aktivitas ini bisa dua kali lipat dari keuntungan pembelian pala. Pernyataan pengepul ini didukung oleh hasil wawancara saya dengan salah satu petani pala di wilayah Danaweria. Ia mengaku pernah menggadaikan pohon palanya selama dua musim pada tahun 2017 dengan nilai gadai/pinjaman sebesar lima juta rupiah dari pengepul. Petani tersebut memperkirakan bahwa dalam setahun (2 musim), ia bisa mendapatkan sekitar 4.5 lasa atau 45 ribu biji pala mentah. Jika diasumsikan harga pala mentah pada saat itu sebesar 400 rupiah per biji (menurut pengakuan petani), maka pengepul mendapatkan hasil pala sebesar 18 juta rupiah untuk 5 juta rupiah nilai pinjaman.

Meski menggiurkan, aktivitas ini tidak lepas dari risiko yang harus ditanggung oleh pengepul. Salah satu pengepul yang saya wawancarai pernah mengalami kerugian atas perjanjian gadai pala dengan petani karena ketika pengepul tersebut hendak panen pala di pohon petani, pala tersebut “dicuri” oleh orang lain.

Perlunya Akses Kredit untuk Petani

Praktek pinjam-meminjam dan gadai pala ini sudah lama dan cukup umum dilakukan. Salah satu pengepul yang saya wawancarai telah menerima gadai pohon pala semenjak 1995. Hal ini menandakan bahwa petani memerlukan akses kredit untuk memenuhi kebutuhan aktivitasnya, terutama pada saat panen pala. Hanya saja, karena institusi keuangan seperti bank dan koperasi sepertinya belum bisa menyerap permintaan itu, petani akhirnya mengonsumsi jasa keuangan dari lembaga non-keuangan, yakni pengepul kampung.

Aktivitas pinjam-meminjam dan gadai pala ini sepertinya akan efektif dan efisien jika dilakukan oleh lembaga keuangan, baik bank maupun non-bank, seperti koperasi. Petani bisa mendapatkan akses kredit dengan biaya yang lebih rendah. Di sisi lain, lembaga keuangan sudah mempunyai mekanisme khusus untuk mengurangi risiko gagal bayar petani. Pengepul pun juga bisa mendapatkan untung secara tidak langsung dengan mendapatkan pala yang lebih banyak dari petani karena perbekalan untuk proses panennya terpenuhi tanpa biaya yang lebih tinggi. Untuk memajukan industri pala dan menyejahterakan petani pala di Fakfak, mungkin pemerintah serta lembaga keuangan dapat membuat sebuah program yang dapat memudahkan petani pala untuk mendapatkan akses kredit. Fauzan Kemal Musthofa