Pengepul: Kawan atau Lawan?

Kelapa sawit yang telah dikumpulkan

Keberadaan pengepul selalu ada hampir di setiap mata rantai pasok suatu komoditas. Tidak terkecuali untuk komoditas kelapa sawit yang melibatkan petani swadaya dan petani tersertifikasi. Bagaimana kiprah para pengepul dalam menjalankan bisnisnya? Dan bagaimana petani menilai keberadaan para pengepul? Tulisan ini akan mengupas kedua hal tersebut berdasarkan pengalaman saya sebagai pendamping petani kelapa sawit di dua kabupaten di Kalimantan Tengah, yaitu Seruyan dan Kotawaringin Barat.

Pengepul dan Transaksi Bersama Petani Kelapa Sawit

Pengepul, atau yang lebih dikenal dengan istilah tengkulak, selalu ada di setiap rantai pasok komoditas termasuk kelapa sawit. Petani kelapa sawit yang mengusahakan sendiri lahannya bukan menjadi binaan perusahaan atau yang dikenal dengan petani plasma sering disebut sebagai petani swadaya, dimana sebagian dari petani swadaya ini telah memperoleh sertifikat dari lembaga sertifikasi atas jerih payahnya dalam menerapkan praktek pengelolaan kelapa sawit yang memenuhi prinsip-prinsip berkelanjutan. Petani biasa memanggil pengepul dengan panggilan “bos” karena dianggap memiliki kewenangan, kekuasaan, dan uang. Keberadaan pengepul di tengah-tengah masyarakat dinilai menguntungkan oleh sebagian orang, namun ada juga yang menilai sebaliknya. Bagi mereka yang tidak mendapatkan manfaat, tentu akan berpendapat berlawanan dengan mereka yang memperoleh manfaat, baik manfaat berupa uang atau bantuan lainnya.

Pada petani kelapa sawit yang saya dampingi di Kalimantan Tengah, pengepul adalah bagian dari masyarakat desa yang juga berperan sebagai petani. Mereka memiliki beberapa layanan jasa diantaranya menyediakan tenaga pemanen, mengambil hasil panen di lahan dan mengantarkannya ke pabrik pengolahan. Untuk layanan yang mereka berikan ini, pengepul memotong sejumlah uang dari harga per kg yang dibayarkan oleh pabrik untuk produk yang mereka antarkan sesuai dengan kesepakatan kedua belah pihak. Sebagian dari pengepul, ada yang memiliki perjanjian dengan pabrik kelapa sawit secara langsung atau yang dikenal dengan istilah DO, dan sebagian lagi meminjam DO dari pengepul lain dan membayarkan sejumlah uang kepada pemilik DO tersebut.

Transaksi pengepul dengan petani dilakukan secara lisan, panggilan telpon atau pesan singkat. Petani menyampaikan terlebih dahulu bahwa lahan mereka akan dipanen dan meminta pengepul untuk membawa hasil panen mereka ke pabrik. Setelah itu, pengepul akan memanen lahan petani jika ada permintaan panen atau mengambil hasil panen di area masuk kebun atau dikenal dengan TPH (tempat penampungan hasil). Di TPH tersebut telah terpancang kayu yang dapat digunakan untuk menggantung timbangan. Penimbangan hasil panen dilakukan oleh pengepul sendiri atau karyawan dari pengepul dengan disaksikan oleh petani. Namun, ada juga yang hanya dilakukan oleh pengepul atau karyawannya saja, tanpa disaksikan oleh petani, karena sudah ada rasa saling percaya. Dari hasil timbangan tersebut, petani akan menerima secarik kertas yang berisi rincian hasil panen. Kertas tersebut digunakan untuk mengambil uang di hari berikutnya. Pengepul sendiri biasanya membuat catatan kecil di buku mereka dengan informasi seperlunya sesuai kebutuhan mereka.

Pengepul menggunakan armada berupa mobil pick up atau dumptruck dalam melakukan pengangkutan dari lahan ke pabrik. Biasanya mereka mengumpulkan hasil panen dari beberapa lahan terlebih dahulu, lalu setelah mencapai 1 rit atau sudah memenuhi kuota, baru akan dibawa ke pabrik. Setibanya di pabrik, armada tersebut mengantri bersama armada pengepul lain atau armada yang mengangkut hasil panen dari kebun perusahaan. Dikarenakan kapasitas pabrik yang tidak mencukupi, maka antrian panjang akan terjadi bahkan bisa lebih dari 1 hari pada musim panen raya.

Setelah hasil panen diserahkan ke pabrik, maka ada proses grading dan perhitungan jumlah uang yang akan diterima oleh pengepul atas hasil yang diantarkan ke pabrik. Uang dikirim ke rekening pengepul dalam jangka waktu 3–7 hari setelahnya.

Pengepul… kawan atau lawan

Pengepul adalah aktor penting bagi petani swadaya dalam memastikan ketelusuran buah dari lahan hingga ke pabrik pengolahan. Hal ini dikarenakan pengepul memiliki catatan dan mengetahui persis dimana lokasi kebun yang menjadi pelanggannya. Disamping itu, mereka juga menjadi pihak yang dapat diandalkan untuk memenuhi kebutuhan modal kerja, seperti kebutuhan petani untuk membeli pupuk atau kebutuhan lainnya, bahkan memberi pinjaman uang. Sistem pembayarannya dilakukan dengan melakukan pemotongan ketika hasil panen petani disetor ke pengepul. Pemotongan dapat dilakukan secara penuh sesuai dengan besarnya pinjaman atau bisa juga dilakukan secara cicilan.

Hal yang dinilai merugikan petani adalah penetapan harga yang dilakukan secara sepihak oleh pengepul. Jika petani telah meminta bantuan seorang pengepul maka petani tersebut, secara tidak langsung, berkewajiban untuk menjual hasil panennya kepada pengepul tersebut. Petani tidak punya pilihan untuk menjual ke pengepul lainnya yang menawarkan harga yang lebih baik.

Petani yang sedang bersiap memasukkan sawit ke keranjang motor

Pada petani yang sudah tersertifikasi, organisasi yang menjadi wadah bagi petani, mulai melirik untuk menjalin kerjasama langsung dengan pabrik atau dengan kata lain menjadi pengepul juga. Dengan memiliki kerjasama sendiri dengan pabrik, maka hasil panen petani dapat dijual langsung ke pabrik melalui organisasi tersebut dengan menggunakan DO organisasi. Dengan demikian, ketelusuran dan kualitas hasil panennya tentu akan lebih terjaga.

Melihat perkembangan tersebut, respon pengepul cukup beragam, sebagian ada yang memandang hal itu akan mematikan usaha mereka dan sebagian lainnya cenderung menanggapinya dengan biasa-biasa saja. Beberapa organisasi juga menerapkan kebijakan dan pendekatan yang berbeda dalam merespon keberadan pengepul. Salah satu yang dinilai baik adalah mengajak pengepul menjadi bagian dari tim pemasaran di organisasi petani tersertifikasi tersebut. Artinya, pengepul tidak dimatikan usahanya, tapi justru berkolaborasi dengan organisasi tersebut bersama petani dalam memastikan ketelusuran agar standar hasil panen yang baik dapat dipenuhi. Pengepul bisa menjadi speaker ke petani dalam mensosialisasikan praktik berkebun yang baik dan praktik panen yang standar agar grading di tingkat pabrik menjadi lebih baik. Hal ini akan berdampak pada peningkatan pendapatan petani dan pengepul. Dampak menyeluruh dari proses berkelanjutan di tingkat petani swadaya diharapkan dapat memberikan keuntungan pada semua pihak termasuk meningkatkan taraf hidup petani.* Heni Martanila