Penerapan Teknologi dan Keberterimaan Masyarakat Pesisir

Gambar 1. Keindahan salah satu pantai di Kabupaten Fakfak, Provinsi Papua Barat. Sumber: Inobu

Penelitian di bidang perikanan, saat ini, cukup banyak dilakukan. Bukan hanya oleh universitas dan lembaga pemerintah saja, tetapi juga oleh perusahaan swasta, organisasi independen, startup, dan lain-lain. Secara umum, salah satu tujuan penelitian tersebut adalah untuk menggali potensi dan manfaat yang bisa diperoleh untuk kesejahteraan manusia. Jika kita membahas detail mengenai potensi perikanan, khususnya di Indonesia, sepertinya akan terlalu panjang. Maka, mari kita sederhanakan dengan kalimat “sekitar 65% wilayah Indonesia adalah perairan” untuk menggambarkan besarnya potensi perikanan Indonesia.

Gambar 2. Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Indonesia, menunjukkan luasnya wilayah perairan yang dapat dikelola oleh Indonesia. Sumber: http://www.marineregions.org [1]

Sejak menjalankan tugas akhir di bidang budidaya perikanan (udang vannamei), saya beberapa kali ikut terlibat dalam penelitian dan pengembangan terkait penerapan teknologi untuk meningkatkan produktivitas perikanan budidaya, mulai dari skala laboratorium hingga skala industri. Pada satu kesempatan, saya mendapat tugas untuk melakukan penelitian terkait peningkatan produktivitas perikanan di pesisir pantai utara Jawa Barat. Selama kurang lebih satu bulan di lapangan, saya mengamati dan berdiskusi dengan masyarakat daerah Indramayu dan Subang bagian utara. Mencari ikan (nelayan) dan membudidayakan ikan (petambak) adalah kegiatan yang banyak dilakukan oleh masyarakat di sana.
Dari pengalaman singkat tersebut, saya mengamati bahwa nelayan di Indramayu terbiasa menghadapi sumber daya yang bersifat terbuka (open access) dan relatif tidak terkontrol. Kebiasaan ini menyebabkan nelayan harus berpindah lokasi untuk memperoleh hasil tangkapan ikan yang maksimal. Bagi nelayan kecil tentu hal ini menjadi cukup sulit karena terbatasnya sarana dan prasarana yang dimiliki. Selain itu, jumlah tangkapan ikan yang tidak pasti juga menjadi risiko yang harus dihadapi oleh nelayan, khususnya nelayan kecil.

Berbeda dengan nelayan, para petambak ikan terbiasa dengan sumber daya yang relatif lebih terkontrol, yakni pengelolaan area atau lahan untuk produksi komoditas perikanan dengan hasil yang dapat diprediksi. Petambak di daerah pesisir utara Jawa Barat banyak yang membudidayakan udang vannamei, udang windu, dan ikan bandeng. Dengan pengalamannya, para petambak biasanya sudah mengetahui jumlah input produksi seperti benih dan pakan yang harus disiapkan, serta output (hasil panen) yang akan diperoleh. Wabah penyakit dan kematian massal menjadi risiko yang harus dihadapi oleh petambak, sehingga hasil produksi menurun dan mengakibatkan kerugian.

Berkembangnya teknologi saat ini, baik pada perikanan tangkap maupun perikanan budidaya berdampak pada produktivitas perikanan. Penemuan teknologi baru diharapkan dapat meningkatkan produktivitas perikanan sehingga meningkatkan pendapatan masyarakat. Sebagai bagian dari inovasi teknologi perikanan budidaya (akuakultur), berbagai lembaga penelitian seperti Balitbang Kelautan & Perikanan melakukan rekayasa genetika untuk sejumlah varietas perikanan seperti ikan nila pasopati, nila srikandi, lele mutiara, dan rumput laut [2]. Selain itu, penemuan teknologi budidaya Bioflok juga menjadi salah satu contoh berhasilnya penerapan teknologi perikanan di masyarakat. Bioflok merupakan sistem budidaya yang memanfaatkan mikroorganisme untuk mengurai limbah budidaya sehingga air di dalam kolam menjadi lebih bersih & sehat bagi ikan atau udang.

Gambar 3. Salah satu contoh teknologi budidaya perikanan (Bioflok) yang dikembangkan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan untuk meningkatkan produktivitas perikanan budidaya [3]. Sumber: Kementerian Kelautan dan Perikanan

Penerapan teknologi di masyarakat bukanlah hal yang sederhana, apalagi teknologi yang dianggap baru oleh masyarakat. Diperlukan waktu adaptasi bagi masyarakat untuk mengenal kemudian menggunakan teknologi tersebut. Dalam buku berjudul “Pengantar Sosiologi Masyarakat Pesisir”[4], disebutkan bahwa dalam inovasi, penemuan teknologi baru dalam masyarakat sering disebut discovery. Apabila penemuan tersebut diakui dan diterima oleh masyarakat, maka penemuan baru tersebut dinamakan invention. Dari tahap discovery menuju invention membutuhkan waktu yang berbeda-beda, bergantung pada “keberterimaan” masyarakat setempat, karena bagaimanapun masyarakat ingin memastikan apakah temuan teknologi baru tersebut akan benar-benar bermanfaat atau tidak. Bagi masyarakat pesisir, menerima suatu temuan baru mesti didasarkan pada bukti empiris. Artinya, apakah sudah ada orang yang pernah mencoba? Apakah percobaan tersebut berhasil atau tidak? Apakah hasil percobaan tersebut layak diterapkan? [4]. Bagi masyarakat yang memiliki karakter enggan ambil risiko tentu waktu tempuh dari discovery menuju invention ini akan lebih lama.

Berbagai teknologi perikanan terus mengalami perkembangan dan penyesuaian, sesuai dengan kondisi dan keberterimaan masyarakat di masing-masing daerah. * cnurhuda

 

Referensi:

[1] Flanders Marine Institute (2020). marineregions.org. Diambil kembali dari http://www.marineregions.org/eezdetails.php?mrgid=8492
[2] Ambari, M. (2015, June 14). Diambil kembali dari Mongabay: https://www.mongabay.co.id/2015/06/14/inovasi-dan-teknologi-untuk-tingkatkan-budidaya-perikanan-di-indonesia/
[3] KKP (2020). Diambil kembali dari https://kkp.go.id/djpb/artikel/3741-kkp-kembangkan-teknologi-budidaya-baru-sistem-bioflok-untuk-ikan-nila
[4] Satria, A. (2015). Pengantar Sosiologi Masyarakat Pesisir. Jakarta: Yayasan Pusaka Obor Indonesia