Pendekatan Kelompok dalam Dinamika Pembangunan di Tingkat Kampung

Salah satu staf INOBU mendampingi salah satu kelompok di dalam pembahasan rencana tata ruang desa

Dalam menjalankan program pembangunan bersama dengan masyarakat di dalam suatu wilayah desa atau kampung, pendekatan dengan pembentukan kelompok-kelompok masyarakat menjadi solusi dalam melaksanakan program tersebut. Mengapa demikian? Karena, dengan pendekatan kelompok, proses pembinan lebih efisien dan efektif. Pendekatan ini terbilang efektif terutama dalam pelaksanaan program pembangunan di bidang pertanian. Contoh beberapa kriteria dalam pembentukan kelompok di bidang pertanian, antara lain: lahan sehamparan, kesamaan komoditi yang diusahakan, tata letak permukiman, ataupun kelompok yang pernah ada dan dapat diaktifkan kembali (revitalisasi).

Walaupun pendekatan ini terbilang efisien dan efektif, tentu saja tantangan tetap mungkin dijumpai ketika masa pelaksanaan program, contohnya fluktuasi jumlah representasi/kehadiran dari setiap kelompok selama proses pembinaan program. Oleh karena itu, selain pembentukan kelompok, dalam menjalankan program bersama masyarakat, perlu juga dilaksanakan penguatan organisasi dari kelompok tersebut. Berikut, beberapa tips dalam memperkuat kelompok binaan antara lain :

a. Pelatihan dasar-dasar beroganisasi

Dalam pelatihan dasar-dasar beorganisasi memiliki tujuan untuk: membangun rasa percaya diri, memberikan pengertian dari manfaat berorganisasi, membangun kerjasama dan komunikasi dalam organisasi, memberikan pengetahuan mengenai struktur, fungsi, peran organisasi, membentuk anggaran dasar dan rumah tangga kelompok, serta membuat rencana kerja kelompok selama 3–6 bulan.

Lebih rinci lagi, dalam proses perencanaan, hal yang paling penting adalah bahwa rencana kelompok tersebut berdasarkan skala kepentingan, dapat direalisasikan, dapat terukur, dan berdasarkan keterlibatan/aspirasi anggota kelompok. Membangun perencanaan kelompok, merupakan bentuk proses belajar bagi anggota kelompok dalam mengelola dan memanfaatkan kelompoknya selama menjalankan program. Rencana kerja dimaksud juga sebaiknya berjangka pendek (3–6 bulan) agar anggota di dalam organisasi atau kelompoknya dapat belajar mengukur kemajuan dari kelompoknya dalam melaksanakan program pembangunan pembangunan kampung/desa.

Salah satu staff INOBU melaksanakan pelatihan untuk kelompok Fasilitas Pertanian di Seruyan.

 

Bila matriks rencana organisasi telah disusun maka dapat dibuat dalam lembaran kertas plano (berukuran besar) dan ditempelkan di balai pertemuan desa/kampung atau rumah ketua kelompok agar dapat diketahui dan ikut diawasi semua anggota kelompok. Ini sekaligus menjadi materi diskusi pada kunjungan periodik dari penggerak kelompok. Pelatihan dasar-dasar berorganisasi ini dapat dilakukan dengan diskusi kelompok, bermain peran, presentase dan lain-lain. Metode pembelajaran yang aktif dan partisipatif ini penting dalam membangun rasa persaya diri anggota di dalam kelompoknya dan membangun rasa memiliki akan kelompoknya.

b. Kunjungan ke rumah-rumah anggota kelompok

Hal ini perlu dilakukan sebagai bentuk sarana dalam memotivasi anggota kelompok yang kurang aktif. Dengan demikian anggota yang dikunjungi akan merasa diperhatikan sehingga dapat kembali aktif dalam berorganisasi.

Kunjungan rumah juga tidak semata dilakukan pada anggota yang kurang aktif, tetapi juga pada anggota yang menandakan kemajuan dan perkembangan yang baik. Kunjungan ini sebagai wujud penghargaan terhadap perilaku individu tersebut dalam beorganisasi. Kunjungan rumah terhadap anggota kelompok yang berprestasi dapat dijadikan wadah penggerak untuk tetap memotivasi anggota kelompok yang sudah memberikan kontribusi di dalam menjalankan program bersama kelompoknya. Dengan demikian kompetisi secara sehat dapat terbangun dan organisasi akan semakin kuat.

c. Studi banding lokal

Studi banding lokal bersama kelompok perlu dilaksanakan untuk memacu rasa kebersamaan di dalam kelompok dalam melaksanakan program. Contohnya, kunjungan sehari ke kelompok di desa tetangga. Kegiatan ini dapat diisi dengan forum diskusi tentang pengalaman keberhasilan kelompok desa tetangga dalam melaksanakan program pembangunan kampung atau desa. Dari pelaksanaan kegiatan kunjungan tersebut, dapat dibentuk suatu kesepakatan atau komitmen tertulis dari kelompok untuk menjalankan arahan-arahan baru dalam mencapai keberhasilan program pembangunan. Studi banding lokal ini dapat dianggap sebagai terapi psikologis untuk memacu anggota anggota kelompok binaan dalam mencapai tujuan program pembangunan yang dilaksanakan. * Herman Donatus Pelix Orisoe