Pemanfaatan Citra Satelit dalam Perwujudan Tata Kelola Hutan yang Baik

Oleh : Rafika Rosmalida

 

Satelit Himawari-8 (Sumber BMKG)

Citra satelit dapat membantu pengelolaan hutan yang baik dan mengatasi masalah pembalakan liar dengan cara memantau tutupan hutan. Data geospasial yang terkumpul ini digunakan dalam penentuan kebijakan dan kegiatan pemanfaatan ruang di muka bumi.

Pengelolaan hutan yang baik membantu upaya mitigasi perubahan iklim. Hutan juga menyediakan banyak jasa lingkungan, seperti menyerap dan menyimpan karbon, meregulasi air serta menyediakan berbagai sumber daya alam. Sebagaimana tercantum dalam Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang kehutanan, praktik pengelolaan hutan yang baik mengutamakan keadilan, pemerataan, persamaan, efisiensi, transparansi dan akuntabilitas.

Salah satu indikator bagi pengelolaan hutan adalah tutupan hutan. Banyak faktor yang mempengaruhi berkurangnya tutupan hutan, seperti kebakaran hutan, pembalakan liar, serta peralihan fungsi lahan hutan untuk pertanian, perkebunan, dan pemukiman.

Pengawasan dan pembatasan ruang gerak dari tim patroli hutan tentu membantu mencegah kejahatan kehutanan yang bersifat merusak, seperti pembalakan liar dan pengambilan hasil non-kayu lainnya yang dilakukan tanpa izin.

Selain itu, perlindungan hutan juga dilakukan melalui pemantauan citra satelit. Data spatial dalam kehutanan berperan dalam menciptakan tata kelola hutan yang baik, seperti penentuan kebijakan dan kegiatan pemanfaatan ruang. Citra satelit juga bisa menentukan titik panas, atau hotspot, untuk mengantisipasi terjadinya kebakaran hutan.

Pemantauan perubahan tutupan hutan secara langsung (real time) dapat mendeteksi pembalakan liar dengan mengidentifikasi area terindikasi penebangan ilegal dan menentukan peringkat berdasarkan luas wilayah tutupan hutan terluas. Kemudian, dilakukan verifikasi perubahan jumlah tutupan hutan dan identifikasi apa yang menjadi penyebab pembukaan hutan sebagai petunjuk awal indikasi penebangan ilegal.

Pantau jejak penebangan hutan ilegal berfungsi sebagai referensi dalam pengawasan dan penegakan hukum, termasuk dalam mendorong peran pemerintah untuk mengimplementasikan hukum secara efektif. Selain itu, sebelum melaksanakan penegakan hukum pada wilayah terindikasi penebangan ilegal, perlu ada identifikasi dan verifikasi dengan pemangku kepentingan. Sistem pengawasan dini, seperti Global Land Analysis & Discovery (GLAD) Forest Alerts misalnya, dapat dijadikan alat pemantauan dan pengawasan terhadap terjadinya pembalakan liar.

GLAD Forest Alerts, yang dikembangkan oleh University of Maryland dengan memanfaatkan Google Earth Engine, merekam dan menyimpan data perubahan jumlah tutupan hutan. Kata “alerts” di dalam GLAD Forest Alerts merupakan suatu peringatan yang diberikan dari sistem tersebut tiap kali mendeteksi perubahan tutupan hutan yang mengindikasikan terjadinya deforestasi akibat pembalakan liar dan berbagai jenis kejahatan terhadap hutan lainnya. Informasi ini dapat menjadi dasar bagi penegak hukum untuk melakukan pemeriksaan di area tersebut.

Data akurat dari citra satelit dan penegakan hukum yang berkeadilan dapat membantu menangani deforestasi dari pembalakan liar serta mendukung Indonesia menuju tata kelola hutan yang baik.