Pelestarian Tumbuhan Buah Lokal Kalimantan

Gambar 1 Durian lai (D. kutejensis) (sumber: dokumentasi pribadi)

Banyak buah-buahan endemik dari Kalimantan yang terancam kelestariannya. Kegiatan restorasi menjadi strategi yang baik untuk pelestarian buah lokal, meningkatkan perekonomian masyarakat, dan memperkuat ketahanan pangan.

Hutan Kalimantan memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi baik flora dan fauna, termasuk tumbuhan penghasil buah-buahan yang mungkin masih asing di telinga kita. Misalnya saja, kapul (Baccaurea macrocarpa) yang buahnya memiliki rasa asam dan segar. Ada juga buah kelengkeng manis dan beraroma khas asli Kalimantan yang bernama buah ihau atau mata kucing (Dimocarpus longan).

Hutan Kalimantan juga kaya dengan keanekaragaman sumber plasma nutfah. Contohnya varian durian (Durio zibethinus) yang memiliki perbedaan karakter baik dari rasa, warna, ketebalan daging buah, dan aroma. Dari 14 jenis durian endemik Kalimantan, terdapat tujuh varian yang dapat dimakan, yakni Durio dulcis (lahung), Durio excelcus (apun), Durio grandiflorus (sukang), Durio graveolens (tuwala), Durio kutejensis (lai), Durio oxleyanis (kerantungan), Durio testudinarum (sekura), dan Durio zibethinus (durian).

Gambar 2 terap (Artocarpus odoratissimus) (sumber: www.naviri.org)

Sayangnya, buah-buahan lokal ini terancam kelestariannya akibat deforestasi dan degradasi hutan. Padahal, buah endemik merupakan sumber plasma nutfah yang perlu dilestarikan untuk menjaga sumber ketahanan pangan. Pelestarian jenis buah lokal ini juga bisa menjadi upaya untuk diversifikasi pangan dan menekan angka impor buah.

Upaya pelestarian tumbuhan buah lokal terkendala oleh kurang lengkapnya data, termasuk aspek ekologi dan budidaya. Kondisi ini menyulitkan dalam pengukuran laju penurunan populasi buah lokal di habitatnya. Oleh karena itu, langkah pertama yang harus dilakukan dalam upaya pelestarian buah lokal adalah inventarisasi — informasi dari inventarisasi ini kemudian dapat dijadikan dasar dalam strategi pelestarian. Kegiatan inventarisasi terdiri dari kajian potensi, identifikasi jenis, sebaran, tingkat kelangkaan, karakteristik secara morfologi, serta seleksi pohon induk.

Pemilihan pohon induk yang tepat sangat krusial karena akan digunakan sebagai sumber benih untuk perbanyakan tanaman. Adapun kriteria pohon induk adalah memiliki tinggi minimal sama dengan rata-rata tinggi pohon pembanding, memiliki diameter batang minimal 10% lebih besar dengan pohon pembanding, sudut cabang minimal 50°, pohon sehat, pohon produktif, dan memiliki batang lurus minimal 25% dari tinggi total pohon.

Strategi pelestarian tumbuhan buah lokal Kalimantan dapat dilakukan melalui konservasi in situ (di habitat aslinya), seperti taman nasional dan cagar alam, atau konservasi ex situ (di luar habitat aslinya), seperti penanaman jenis buah lokal di pekarangan rumah masyarakat atau ruang terbuka hijau di setiap kabupaten yang ada di Kalimantan. Strategi konservasi ex situ lainnya dapat dilakukan dengan pembangunan bank biji.

Yayasan Inobu telah melakukan inisiasi kegiatan restorasi ekosistem di dua kabupaten di Kalimantan Tengah, yakni di Kabupaten Kotawaringin Barat dan Seruyan. Kegiatan ini dilatar belakangi oleh berkurangnya tutupan hutan akibat deforestasi dan degradasi hutan. Harapannya, kegiatan penanaman pohon ini dapat meningkatkan kapasitas dan jasa ekosistem di kedua kabupaten tersebut.

Program restorasi ekosistem ini melibatkan masyarakat desa dalam tiap tahapan kegiatan: penyiapan bibit, penanaman, dan pemeliharaan tanaman. Pemilihan jenis tumbuhan lokal didasari oleh hasil penggalian informasi dan preferensi masyarakat lokal, serta hasil studi literatur.

Peneliti di Yayasan Inobu juga melakukan analisis biaya manfaat sebagai salah satu dasar dalam pemilihan jenis tumbuhan untuk program restorasi, termasuk jenis buah lokal. Berdasarkan hasil analisis, jenis tumbuhan buah lokal yang memiliki nilai manfaat tinggi diantaranya adalah durian, lai, petai, jengkol, nangka, cempedak, dan rambutan. Jenis-jenis buah tersebut akan menghasilkan buah dan harapannya masyarakat dapat merasakan manfaat ekonomi secara langsung.

Kegiatan restorasi menjadi pilihan yang strategis dalam upaya pelestarian buah lokal Kalimantan. Penanaman jenis buah lokal pada kegiatan restorasi merupakan salah satu bentuk untuk meningkatkan perekonomian dan ketahanan pangan masyarakat lokal, serta sebagai bentuk konservasi plasma nutfah. Tantangan kedepannya adalah bagaimana meningkatkan keragaman jenis buah lokal dalam kegiatan restorasi, mengingat terbatasnya sumber benih khususnya jenis buah lokal yang masih jarang dibudidayakan.

Daftar Pustaka

Uji T. 2005. Keanekaragaman jenis dan sumber plasma nutfah Durio (Durio spp.) di Indonesia. Buletin Plasma Nutfah. 11(1): 28–33.

Widyatmoko D. 2019. Strategi dan inovasi konservasi tumbuhan Indonesia untuk pemanfaatan berkelanjutan. Di dalam Nurcahyanto G dan Roziaty E, editor. Isu-isu strategis sains, lingkungan, dan inovasi pembelajarannya. Seminar Nasional Pendidikan Biologi dan Saintek (SNPBS) ke-IV; 2019 Apr 27; Surakarta. Surakarta (ID): Program Studi Pendidikan Biologi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan UMS. hlm 1–22.

Hasibuan M, Indriyanto, Riniarti M. 2013. Inventarisasi pohon plus dalam blok koleksi di Taman Hutan Raya Wan Abdul Rachman. Jurnal Sylva Lestari. 1(1): 9–16