Pasar Kokas, Menanti Perubahan: Cerita Mama di Pasar

Pasar Induk Kokas, Kabupaten Fakfak, Papua Barat

Kokas adalah salah satu Kacamatan penting di Kabupaten Fakfak. Wilayah ini adalah perhentian strategis menuju bintuni, tempat beroperasinya Tangguh dengan karyawan ribuan. Kokas, sebuah kota pelabuhan, juga menyimpan sejarah peninggalan Perang Dunia II. Di beberapa tempat, benteng pertahanan Jepang masih sangat utuh. Kisah perang sejagat itu masih dapat ditelusuri dari lorong-lorong pertanahan bawah tanah raksasa yang dibangun Jepang menghadapi Armada Pasifik MacArthur. Di bibir gua itu, waktu seolah berhenti. Di Kecamatan Kokas terdapat pasar induk yang letaknya langsung berbatasan dengan laut.

Bagian depan pasar, sebelah barat adalah halaman yang luas, langsung menghadap ke laut. Sisi kanan atau bagian utara, melingkar bentangan laut dengan pemandangan menakjubkan. Pasar ini terdiri dari beberapa bangunan yang beratapkan seng dan dibuat terbuka tanpa dinding. Tidak ada bau pengap seperti yang terjadi pada pasar-pasar tertutup. Lantai pasar cukup bersih. Pojok belakang timur terdapat dua bangunan kecil yang merupakan kios kelontong tertutup dan dijejali oleh macam rupa barang. Sebelah selatannya adalah sebuah parit berair yang membatasi pasar dengan rumah penduduk dan sebuah toko kelontong cukup besar.

Di dalam pasar utama, pajangan barang campur aduk antara produk yang berasal dari komoditas lokal dengan produk industri. Ada macam-macam produk jualan barang modern, dari pakaian hingga barang makanan. Sejenis keripik berbahan ubi yang diselimuti siraman bumbu tersedia. Jenis yang lain berupa manisan juga cukup banyak. Di pajangan yang berbeda terjajar produk pertanian seperti sagu, pisang, tomat, ikan kering, cabe, buah-buahan, lengkuas, sereh, labu, dan masih banyak lagi.

Penjual disana tidak hanya orang asli papua. Bagian depan ada orang Bugis yang menjual berderet tumpukan barang dagangan seperti: ikan kering, sagu, kecap, dan produk yang lebih beragam. Mereka malu-malu mengaku dirinya pendatang yang menjual produk berciri khas lokal seperti ikan kering asap yang khas di daerah ini. Tetapi mereka tidak segan menjajakan barang dagangannya kepada kami. Di belakang sana, agak ke pojok ada seorang mama warga asli Papua yang menjual pisang, labu, sereh. Barang dagangannya hampir laku semua. Dialog singkat dengan mama ini mengupas segelintir informasi soal pasar ini.

Perahu menjadi salah satu transportasi menuju Pasar Induk Kokas

 

Si mama, saya lupa tanya namanya, kira-kira berusia 50an. Dia punya dua anak perempuan, satu sudah menjadi mantri kesehatan dan seorang lagi baru akan wisuda sekolah kesehatan di Fakfak.

Setiap hari jualan di Pasar, si mama bermodalkan rata-rata Rp. 50.000 untuk mendapatkan beberapa jenis barang dagangan. Satu kumpulan labu hijau berisi 5 buah dihargai Rp. 5000. Dari modal ini, dia bisa mendapatkan untung antara Rp. 20.000 — Rp. 30.000. Kalau pelanggan berkurang, mama bisa banting harga. Rp. 5000 untuk setumpuk labu yang ditambahkan jadi 6–7 buah labu. Untungnya tentu lebih kecil dari yang seharusnya didapat. Menurut si mama, demi kebutuhan sehari-hari dan menghidupi anak sekolah, banting harga pun tidak mengapa. Si mama menjual pisang tanduk dengan kualitas bagus seharga Rp. 150.000. Hasil penjualan pisang akan digunakan si mama untuk membiayai wisuda anaknya.

Untuk mendapatkan modal, bisa saja mama meminjam dari tukang kredit keliling. Namun, nyali dagang mama terusik karena pengembalian kredit harus berlangsung tiap hari. Pinjam Rp. 150.000 harus dicicil tiap hari Rp. 25.000. Tiap penundaan harus bayar denda. “Sampai siang belum tentu dapat Rp. 25.000. Belum lagi buat makan”, demikian kata mama. Apa daya, sebagian dari mereka bisnisnya kerap terhambat karena kekurangan modal. Tukang kredit keliling pun jadi solusi karena kondisi terdesak. Namun, implikasi cicilan utang berlangsung lama. Seringkali denda akibat pengembalian yang macet ditutup oleh pinjaman berikutnya. Repotnya, pinjaman itu tidak hanya jadi modal, tetapi bisa jadi dialokasikan untuk pengeluaran mendesak lainnya. Hal ini kerap kali mengakibatkan peminjam menjadi terlilit hutang. Untunglah, si mama enggan mengambil pilihan itu. Dia memilih menyalurkan produk pertanian lokal dari kampungnya sendiri atau titipan orang lain, daripada harus menggadaikan keuntungan ke tukang kredit keliling. Meski lapaknya hanya kecil-kecilan dan keuntungannya terbatas, si mama masih bisa mendapatkan keuntungan.

Sore itu, langit cerah. Waktu memang bergerak lambat di Pasar Kokas. Cerita yang hadir sore itu, seperti kaset rusak yang tidak sedap didengar, terus berulang dan berulang di berbagai wilayah di tanah yang kaya ini. Waktunya si mama bergegas ketika satu tandan pisang tanduk yang seharga Rp. 150.000 telah laku terjual. Wajah si mama ikut sumringah seperti semilir tipis angin sore ini mengingat biaya wisuda si anak sudah siap di kantong. Dia siap-siap mau pulang. Labu, sereh, dan beberapa lainnya yang belum laku akan dipajangkan kembali besok, sejauh masih segar.

Penelitian yang dilakukan INOBU di Desa Pang Wadar, Kabupaten Fakfak, Papua Barat didanai oleh the Agriculture, Livelihoods and Conservation Program, David dan Lucile Packard Foundation serta didukung oleh Earth Innovation Institute melalui Forests, Farms and Finance Initiative (didanai oleh Norwegian Agency for Development Cooperation) and the Sustainable Tropics Alliance (didanai oleh German International Climate Initiative) dan the European Forest Institute melalui European REDD Facility. * Bernadinus Steni