Mengatasi Perubahan Iklim Mulai dari Piring Kita

“Sedikit demi sedikit, lama-lama menjadi bukit” merupakan pepatah lama yang diartikan sebagai usaha kecil yang dilakukan secara konsisten, lama kelamaan akan membuahkan hasil yang memuaskan. Namun, lain halnya dengan kisah sisa makanan kita. Berawal dari sisa makanan di satu piring saja yang dilakukan secara terus menerus oleh banyak orang, maka akan membawa bencana.

Indonesia juga menyumbang limbah makanan yang dapat memperparah perubahan iklim. Bagaimana bisa? Potensi sampah yang dihasilkan Indonesia kurang lebih mencapai 4 juta ton/tahun. Potensi gas metana yang bisa dihasilkan mencapai 11.390 ton per tahun, atau setara dengan 239.199 ton karbon dioksida per tahun. Jumlah ini merupakan 64% dari total emisi sampah dari 10 kota besar di Indonesia.

Gas metana dan karbon dioksida merupakan salah satu Gas Rumah Kaca (GRK) yang dapat menyebabkan efek rumah kaca yang berujung pada pemanasan global. Hal ini tentunya berdampak pada seluruh kehidupan di planet Bumi, termasuk sering munculnya bencana alam, gagal panen, dan dampak buruk terhadap kesehatan.

Lebih baik mencegah daripada mengobati

Sebuah kajian mengenai sampah di Indonesia menemukan bahwa sampah tertinggi dihasilkan dari 10 kota besar dan 60% di antaranya berasal dari limbah makanan yang kaya akan bahan organik, termasuk buah, sayur, roti, kue kering, dan makanan siap saji.

Padahal kita dapat menghindari limbah makanan ini untuk meminimalkan dampak efek rumah kaca.

Strategi pengelolaan limbah makanan yang paling efektif merupakan kombinasi dari strategi pencegahan dan daur ulang untuk mitigasi perubahan iklim. Meskipun terdengar sepele dan sederhana, aksi kecil untuk mengolah limbah makanan dapat membantu kita mengurangi emisi gas metana dan karbon dioksida di masa depan. Hal ini dapat dilakukan di kehidupan sehari-hari dengan berbagai cara, misalnya:

  1. Menghabiskan setiap makanan yang kita ambil.
  2. Hindari membeli makanan atau kebutuhan dapur berlebihan. Kita bisa membuat daftar belanja terlebih dahulu dan merencanakan menu masakan dalam jangka waktu tertentu.
  3. Perhatikan tanggal kadaluarsa produk makanan yang dibeli. Terapkan sistem First In, First Out (FIFO) pada lemari penyimpanan makanan atau kulkas. Makanan yang masuk ke lemari penyimpanan lebih awal harus dikonsumsi terlebih dulu sesuai urutannya.
  4. Hindari membuang makanan. Coba pikirkan cara kreatif untuk mengolah makanan yang lezat. Contohnya, roti yang sudah mendekati kadaluarsa dapat diolah menjadi roti panggang atau roti kering sebagai camilan.
  5. Jika sudah terpaksa, kita bisa membuat kompos dari makanan-makanan sisa.

Mari kita tingkatkan kepedulian terhadap perubahan iklim sembari melakukan hal-hal sederhana tapi berdampak luar biasa. Langkah awal bisa dimulai dengan menghabiskan makanan yang ada di piring kita dan mulai melakukan manajemen pengelolaan makanan yang baik.