Menatap masa depan Beruang madu di Kabupaten Seruyan

Beruang madu (Sun bear, Helarctos malayanus)

Beruang madu (Helarctos malayanus) merupakan salah satu dari 8 jenis tersisa di keluarga beruang (Family Ursidae) yang ada di dunia. Di antara sepupunya yang lain, beruang madu memiliki postur tubuh terkecil, dengan bobot individu dewasa berkisar antara 50–65 Kg. Nama “Beruang madu” diduga berasal dari kebiasaan satwa ini meminum madu yang diperoleh dari lebah yang suka membuat sarang di pepohonan di hutan. Guna mencukupi kebutuhan hidupnya, beruang madu mempunyai daerah jelajah seluas 4–5 Km2 untuk menemukan sumber makanan yang berupa binatang kecil termasuk anak burung, kadal, semut, rayap, dan kumbang serta berbagai jenis buah-buahan seperti durian (Durio spp.), meritam (Nephelium ramboutan-ake), dan mata kucing (Dimocarpus longan). Selain memakan buah, beruang madu turut berperan menyebarkan biji dari buah-buahan sehingga membantu regenerasi tumbuhan penyusun ekosistem hutan. Habitat satwa ini adalah hutan hujan tropis primer dan sekunder dengan ketinggian hingga 3000 m di atas permukaan laut. Persebaran alaminya mulai dari China bagian selatan hingga Indonesia termasuk Sumatra dan Kalimantan.

Badan konservasi dunia IUCN (International Union for Conservation of Nature) menyatakan bahwa status beruang madu termasuk kategori rentan (Vulnerable). Artinya, jika ancaman terhadap kelestariannya terus berlangsung dan perkembangbiakannya terhambat, maka kepunahan jenis satwa ini di masa depan tidak akan terelakkan. Hingga saat ini, ancaman terbesar terhadap kelangsungan beruang madu adalah hilangnya tutupan hutan yang menjadi habitat, degradasi lahan, konflik satwa dan manusia, serta perburuan dan perdagangan liar. Pun tidak banyak informasi mengenai jumlah populasi yang merupakan kebutuhan mendasar pengelolaan satwa liar ini di alam. Dari sedikit informasi dan penelitian yang ada menyebutkan bahwa kerapatan sebesar 1 individu/25 Km2 di Taman Nasional Kayan Mentarang, Kalimantan Utara dan 1 individu/1.4 Km2 di Barito Ulu, Kalimantan Tengah.

Survei keanekaragaman hayati yang dilakukan INOBU di Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah pada tahun 2018 yang lalu menyebutkan keberadaan beruang madu di kawasan hutan sebelah utara dan selatan serta perkiraan habitat yang sesuai meskipun belum menyertakan jumlah populasinya.

Habitat yang sesuai untuk Beruang madu di Kabupaten Seruyan

 

Wilayah Kabupaten Seruyan membentang dari utara yang merupakan perbukitan dengan tutupan hutan hujan tropis seluas 4773 Km2 atau 77% dari seluruh hutan yang tersisa di kabupaten ini. Daerah selatan didominasi rawa gambut dengan ratusan fragmen hutan berbagai ukuran termasuk yang masih luas di kawasan Taman Nasional Tanjung Puting yang merupakan habitat utama bagi satwa terancam punah seperti orang utan, bekantan, dan macan dahan. Bagian tengah adalah dataran rendah dimana sebagian besar lahannya dialokasikan sebagai perkebunan kelapa sawit yang dikelola baik oleh perusahaan maupun petani swadaya. Wilayah tanpa hutan di bagian tengah ini telah memisahkan populasi satwa liar, termasuk beruang madu, di sebelah utara dan selatan (Gambar 3). Lantas, dengan situasi seperti disebutkan di atas, apa yang mungkin dilakukan guna mempertahankan kelangsungan hidup beruang madu berikut peran pentingnya di dalam ekosistem hutan di masa depan?

Salah satu jawabannya adalah dengan mempertahankan dan mengembalikan tutupan hutan tempat beruang madu menggantungkan hidupnya. Dibutuhkan tutupan hutan paling sedikit 5000 Km2 sebagai habitat bagi 1000 individu beruang madu — jumlah minimum populasi untuk bertahan dari ancaman kepunahan. Namun demikian, kondisi hutan yang berbeda di wilayah utara, tengah, dan selatan Kabupaten Seruyan memerlukan penanganannya masing-masing. Di sebelah utara, koordinasi antara pemerintah kabupaten dan pusat selaku pemegang otoritas kawasan hutan perlu dibangun untuk mempertahankan tutupan hutan yang tersisa. Konversi hutan sangat tidak disarankan disini karena tinggal di sebelah utara inilah tutupan hutan yang relatif luas dan utuh masih tersisa. Di wilayah tengah, restorasi bisa dimulai dengan penanaman pohon di sempadan Sungai Seruyan, di lokasi yang jelas kepemilikan dan status peruntukan lahannya, untuk mengembalikan tutupan hutan sekaligus sebagai koridor yang menghubungkan habitat di sebelah utara dan selatan.

Tutupan hutan dan usulan koridor sempadan S. Seruyan

 

Disamping itu, restorasi sempadan Sungai Seruyan juga dimaksudkan untuk meningkatkan kemampuan mitigasi banjir dan longsor di wilayah tengah dan selatan. Pilihan jenis pohon untuk ditanam meliputi tumbuhan asli, penghasil buah, cepat tumbuh, serta mampu beradaptasi dengan kondisi lahan dan iklim setempat. Tantangannya adalah bahwa selain penanaman, restorasi juga mencakup perawatan dan pemeliharaan yang membutuhkan waktu lama sebelum dapat dinikmati hasilnya. Partisipasi masyarakat setempat dalam program restorasi adalah salah satu faktor penentu keberhasilan dan oleh karena itu, memilih tanaman komersial yang bisa dipanen, misalnya karet dan bambu menjadi penting pula untuk dipertimbangkan. Di bagian selatan, tutupan hutan yang tersisa mutlak harus dipertahankan. Prioritas pengelolaan perlu ditekankan pada pencegahan dan pengendalian api baik di kawasan hutan maupun non-hutan dengan melibatkan pihak terkait di tingkat pusat hingga desa. Harapannya, tutupan hutan di Kabupaten Seruyan akan mampu menyediakan ruang yang cukup di masa depan, bukan hanya bagi beruang madu, namun juga keragaman hayati lainnya. Semoga.

Penelitian yang dilakukan INOBU di Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah didukung oleh Earth Innovation Institute melalui Forests, Farms and Finance Initiative (didanai oleh Norwegian Agency for Development Cooperation), danthe David and Lucile Packard Foundation serta the Sustainable Tropics Alliance (didanai oleh German International Climate Initiative). * Michael Padmanaba