KUD Tani Subur Menghidupkan Perekonomian Desa Pangkalan Tiga

Contoh biji kelapa sawit yang diambil penulis dari hasil produksi KUD Tani Subur

Koperasi Unit Desa (KUD) Tani Subur didirikan pada tahun 1984 yang pada awalnya bertujuan, untuk melayani transmigran yang sudah tidak lagi menerima bantuan dari pemerintah, namun KUD Tani Subur kini telah tumbuh menjadi koperasi bernilai milyaran Rupiah dengan berbagai macam aset. KUD Tani Subur yang terletak di Desa Pangkalan Tiga, Kabupaten Kotawaringin Barat adalah salah satu contoh nyata dari kesuksesan sertifikasi berkelanjutan.

Sutiyana yang lahir di Boyolali pada 26 Oktober 1968 kini telah memimpin KUD sejak tahun 2006, Sutiyana juga sudah terpilih dua kali sebagai anggota DPRD Kotawaringin Barat. Sebagai ketua dari koperasi, Sutiyana menyadari apabila dikelola dengan baik perkebunan sawit rakyat akan sangat menguntungkan untuk petani. Maka dari itu sejak tahun 2016 KUD Tani Subur menjadi desa dampingan Yayasan Inobu untuk program sertifikasi berkelanjutan. Perjalanan mencapai sawit berkelanjutan ini tidaklah mudah dan salah satu tantangan terbesar yang dihadapi adalah bagaimana membujuk petani swadaya kelapa sawit lainnya bahwa sawit berkelanjutan akan banyak membawa manfaat bagi mereka.

Sertifikat RSPO dan ISPO yang koperasi dapatkan pada tahun 2017 merupakan sebuah tanda bahwa KUD Tani Subur sudah melaksanakan program sertifikasi berkelanjutan. KUD Tani Subur saat ini telah mendapatkan premium berupa dana dari sertifikat RSPO yang dijual melalui sistem PalmTrace. Selain itu, koperasi memperkaya manfaat dari sertifikasi dengan mengembangkan beberapa usaha lain yang berdampingan dan tumpang sari dengan kelapa sawit, diantaranya adalah peternakan sapi, perikanan, dan agrowisata.

Salah satu wahana di agrowisata yang dikembangkan oleh KUD Tani Subur

 

Usaha koperasi yang paling menonjol adalah agrowisata, yaitu pusat rekreasi dan pendidikan dengan menggunakan lahan tidak produktif ditengah-tengah perkebunan kelapa sawit. Agrowisata ini diresmikan pada tahun 2017 dengan berbagai macam fasilitas seperti kolam renang, danau buatan, tempat pemancingan, restoran, dan lain-lain. Pada tahun 2018 agrowisata ini berhasil menyumbang pendapatan koperasi sebesar 2 milyar rupiah.

Peternakan Sapi yang dimiliki dan dikembangkan oleh KUD Tani Subur

 

Selain agrowisata koperasi juga memiliki peternakan sapi yang terintegrasi dengan perkebunan sawit, dimana limbah perkebunan kelapa sawit dijadikan pakan ternak kemudian kotoran sapi digunakan kembali sebagai pupuk perkebunan. Pada awalnya peternakan ini memiliki 50 ekor sapi, namun kini jumlah sapinya sudah mencapai 200 ekor. Program ini juga membuka pelatihan pengelolaan peternakan sapi bagi siapapun yang tertarik.

Aset KUD Tani Subur saat ini telah mencapai sekitar 15 milyar rupiah dan mampu menyediakan lapangan kerja yang layak bagi masyarakat sekitar. Hingga saat ini KUD Tani Subur mendapatkan sertifikat ISPO dan RSPO pada tahun 2017 dan 2018 untuk 708 anggota petaninya dengan total luas lahan 1.420 hektar. Diharapkan kedepannya keberhasilan KUD Tani Subur mampu mendorong kelompok petani lainnya untuk berusaha mendapatkan sertifikasi berkelanjutan dari RSPO maupun ISPO. * Muhammad Adli Pramana