Konservasi Menjamin Ketersediaan dan Pemanfaatan SDA secara Berkelanjutan

Oleh : Herman Orisu

Hutan di Kalimantan

Konservasi adalah upaya pelestarian dan perlindungan lingkungan, baik biotik maupun abiotik terhadap sistem penyanggah bagi keberlangsungan hidup manusia. Pemahaman lingkungan sebagai suatu sistem menunjukan bahwa adanya keterkaitan dan ketergantungan antara satu komponen dengan komponen lainnya. Dalam perspektif ekonomi, lingkungan merupakan sumber daya alam sebagai modal yang diperlukan lebih khusus sebagai faktor produksi yang kemudian menjadi input dalam proses produksi untuk memenuhi kebutuhan manusia yang tak terhingga. Apabila dilihat dari sifat sumber daya alam itu sendiri menjadi sumber daya alam yang dapat diperbaharui dan sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui, yakni sumber daya alam yang dapat habis jika digunakan secara terus-menerus.

Dengan bertambahnya populasi manusia, ekstraksi sumber daya alam semakin meningkat guna memenuhi kebutuhan manusia sehingga ketersediaannya akan berkurang bahkan bisa habis. Dampaknya adalah bencana yang timbul dalam berbagai dimensi kehidupan manusia. Oleh karena itu sebagai antisipasi terhadap munculnya fenomena ini perlu dilakukan upaya seperti program atau kegiatan konservasi. Konservasi sistem (kawasan) meliputi kawasan pelestarian alam (KPA) seperti taman nasional dan kawasan suaka alam (KSA) seperti cagar alam. Kegiatan konservasi dapat berfungsi sebagai perlindungan, restorasi dan pemanfaatan alam.

Fungsi perlindungan secara inklusif mencakup aspek pengawasan dan penegakan hukum dengan beberapa tahapan pendekatan antara lain: persuasif, pre-emtif, preventif dan penindakan hukum (P5) bila telah melanggar aturan dan wajib dikenakan sanksi sesuai aturan hukum. Sedangkan fungsi restorasi alam bertujuan untuk memberikan kesempatan pada sumber daya alam (biotik) untuk proses reproduksi dan regenerasi sehingga lingkungan dan ketersediaan sumber daya alam dapat selalu terjaga. Hal ini mirip dengan kearifan lokal masyarakat pedesaan yang disebut sasi, yakni larangan mengambil sumber daya laut di suatu kawasan dalam jangka waktu tertentu. Pola ini dapat dilakukan secara berulang dan berlanjut dengan sistem buka–tutup dan ini identik dengan konsep konservasi in-situ.

Bagi orang yang belum paham soal konsep dan manfaatnya, konservasi sering kali dianggap sebagai larangan pembatasan dan perlindungan terhadap lingkungan tersebut. Padahal tidaklah demikian. Konservasi memiliki tiga fungsi penting, yakni fungsi perlindungan, fungsi pengawetan alam atau restorasi melalui proses reproduksi dan regenerasi biotik (flora dan fauna), serta fungsi pemanfaatan.

Fungsi pemanfaatan merupakan nilai jasa lingkungan yang didapatkan dari upaya konservasi. Contohnya, dengan konservasi hutan, kita dapat menikmati udara sejuk dan air bersih untuk keperluan rumah tangga, fasilitas mandi-cuci-kakus (MCK), pengairan (persawahan) dan budidaya perikanan darat atau kombinasi cabang usaha tani seperti mina padi.

Selain itu, pengembangan energi listrik dengan pembangkit listrik mikrohidro untuk penerangan, pengembangan usaha industri rumah tangga skala kecil, dan kontribusi terhadap kegiatan wisata alam. Dengan demikian upaya konservasi dapat memberikan manfaat nyata bagi keberlangsungan hidup manusia.

Untuk memastikan upaya konservasi dapat berlangsung dengan baik, maka perlu adanya rencana pengelolaan yang memuat program konservasi secara berjangka sesuai dengan fungsi-fungsinya. Rencana pengelolaan ini akan menjadi alat pengawasan dan evaluasi secara berkala sekaligus sebagai dasar untuk rencana pengelolaan berikutnya.

Uraian di atas menunjukan apabila lingkungan dapat dikelola secara baik melalui konservasi akan memberikan manfaat lebih baik dan merata sehingga prinsip Pareto, atau aturan 80/20, dapat terwujud.