Kekerabatan Masyarakat Pang Wadar: Pilar Ekonomi Desa

Warga Desa Pang Wadar bersama-sama di atas perahu memancing ikan untuk mempersiapkan makan malam

Desa Pang Wadar terletak di daerah pesisir Kokas, Kabupaten Fakfak, Papua Barat. Walau terletak di pesisir pantai, Desa Pang Wadar ini dapat dikunjungi dengan menggunakan angkutan darat, seperti mobil dan sepeda motor. Perjalanan menuju Desa Pang Wadar dari pusat kota di FakFak ditempuh dalam waktu kurang lebih dua sampai dengan tiga jam, melewati jalan aspal berbukit dan berliku di antara hutan.

Di Desa Pang Wadar terdapat kurang lebih 59 rumah tangga. 30 diantaranya merupakan rumah tangga dengan mata pencaharian sebagai petani pala, dan sisanya memiliki mata pencaharian di sektor formal, seperti guru, pegawai negeri sipil, dan pegawai swasta. Rata-rata pendapatan tahunan masyarakat Desa Pang Wadar berkisar antara enam sampai dengan empat puluh juta rupiah. Hasil panen pala merupakan faktor pendorong pendapatan tahunan masyarakat Desa Pang Wadar. Selain bergantung pada hasil panen pala, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, masyarakat Desa Pang Wadar juga masih melakukan pertanian subsisten. Oleh karena itu, kepedulian masyarakat desa terhadap kelestarian alam disekitarnya sangatlah besar.

Tidak hanya dengan alam, masyarakat Desa Pang Wadar juga memiliki kepedulian yang besar terhadap keluarga, kerabat, dan bahkan seluruh penduduk desa. Kekerabatan ini bahkan menjadi pilar ketahanan perekonomian masyarakat desa. Kesulitan-kesulitan seperti anggota keluarga yang meninggal dunia, anggota keluarga yang tidak dapat berkerja untuk sementara waktu karena jatuh sakit, atau bahkan jika salah satu keluarga mengalami kegagalan panen pala, pasti akan diselesaikan secara bergotong-royong.

Penduduk Desa Pang Wadar bergotong-royong membangun tenda.

 

Salah satu contoh gotong-royong yang terwujud dalam tradisi budaya mereka adalah tradisi tomburmage. Tomburmage adalah tradisi kumpul harta yang dilakukan atas permintaan calon pengantin perempuan kepada calon pengantin pria untuk membiayai pernikahan sekaligus menjadi mas kawin. Dalam tomburmage ini akan terjadi redistribusi aset dari keluarga inti, keluarga besar, dan kerabat lainnya untuk diberikan kepada calon pengantin pria. Jumlah aset atau uang yang diredistribusikan atau disumbangkan bersifat sukarela. Namun, tidaklah jarang kerabat dekat memberikan hampir seluruh uang yang dimiliki untuk kebutuhan tomburmage tersebut.

Kekerabatan yang erat ini juga terbentuk dalam lingkungan sosial yang lebih luas lagi, yaitu lingkungan masyarakat desa. Contohnya pendidikan-mage. Pendidikan-mage merupakan bentuk pengejawantahan budaya gotong-royong yang tertanam di kehidupan sehari-hari masyarakat desa. Pendidikan-mage memiliki konsep yang sama dengan tomburmage, yakni kumpul harta yang ditujukan untuk pendidikan. Pendidikan-mage melibatkan banyak pihak dan siapapun dapat menggunakan dana yang dikumpulkan melalui pendidikan-mage ini. Pendidikan-mage tersebut biasanya dilaksanakan untuk membiayai kebutuhan pendidikan yang jumlahnya cukup besar, seperti biaya kuliah.

Hubungan sosial yang terbentuk dari tradisi dan budaya masyarakat Pang Wadar telah menciptakan kewajiban moral antara anggota keluarga, bahkan seluruh penduduk desa. Kekerabatan yang terjalin erat ini terlihat memiliki dampak yang baik karena mampu menjadi penjamin keberlangsungan rumah tangga masyarakat Desa Pang Wadar.

Penelitian yang dilakukan INOBU di Desa Pang Wadar, Kabupaten Fakfak, Papua Barat didanai oleh the Agriculture, Livelihoods and Conservation Program, David dan Lucile Packard Foundation serta didukung oleh Earth Innovation Institute melalui Forests, Farms and Finance Initiative (didanai oleh Norwegian Agency for Development Cooperation) and the Sustainable Tropics Alliance (didanai oleh German International Climate Initiative) dan the European Forest Institute melalui European REDD Facility.Reza Adji Budiman