Integrasi Sawit Sapi untuk Penuhi Kebutuhan Daging dalam Negeri

Peternakan sapi yang terintegrasi dengan perkebunan sawit dan dikelola oleh KUD Tani Subur

Salah satu program diversifikasi usaha tani untuk mencapai target swasembada pangan daging sapi ialah melalui sistem integrasi limbah kebun kelapa sawit dan limbah peternakan sapi. Sistem integrasi ini dapat membantu sistem produksi sawit dan sapi menjadi lebih efisien serta mendukung perekonomian nasional.

Indonesia masih mengalami defisit pasokan daging sapi. Kementerian Pertanian memperkirakan akan terjadi defisit stok daging sapi sebanyak 1.526 ton pada bulan Mei mendatang meskipun sudah melakukan impor.

Sistem integrasi sawit-sapi, yakni suatu sistem yang mengolah limbah kelapa sawit menjadi pakan ternak dan mengolah kotoran sapi menjadi pupuk untuk kelapa sawit, dapat meningkatkan produksi dan tentunya akan menguntungkan pekebun dan peternak.

Serat kasar dan limbah sawit dapat menjadi sumber energi dalam tubuh sapi dengan bantuan mikroba dalam perutnya dan kotoran sapi dapat digunakan sebagai pupuk organik untuk menyuburkan kelapa sawit. Sistem ini mampu mendukung usaha ternak sapi di tengah-tengah perkebunan sawit tanpa menghalangi aktivitas budidaya sawit.

Menurut Husain dan Nursyamsi dalam jurnal berjudul Peranan Bahan Organik dalam Sistem Integrasi Sawit-Sapi tahun 2015, program integrasi ini telah dimulai beberapa tahun lalu. Lahan sawit yang luas memungkinkan untuk kegiatan budidaya dan sistem penggembalaan sapi ternak. Selain itu, jika hewan ternak ini menjalankan program penggemukan dengan pola pemeliharaan intensif atau semi intensif, daging yang dihasilkan pun lebih banyak. Sistem integrasi sawit-sapi, yang mengoptimalkan penggunaan lahan dan industri peternakan, merupakan alternatif terbaik yang dapat dilakukan untuk mencapai hal tersebut.

Lahan sawit juga telah terbukti bisa menjadi lahan penggembalaan dan sapi yang dilepas dan memakan rumput di perkebunan sawit dan menekan biaya pengendalian gulma dan tenaga kerja. Selain itu,kotoran sapi dapat meningkatkan kesuburan tanah. Bahan organik dari kotoran sapi diperlukan untuk memperbaiki sifat fisik, kimia, dan biologi tanah.

Menurut data spasial yang dimiliki oleh Kementerian Pertanian, saat ini total luas lahan tutupan kebun sawit saat ini mencapai 16,38 juta hektar. Kegunaan lahan perkebunan sawit dapat ditingkatkan dengan melakukan integrasi perkebunan sawit dan peternakan sapi.

Pada 2019, Kementerian Pertanian telah melakukan Program Integrasi Sawit-Sapi untuk mendukung peningkatan populasi sapi potong dengan memanfaatkan lahan sawit di Indonesia. Melalui Peraturan Menteri Pertanian №105/Permentan/PD.300/8/2014 pemerintah mengatur usaha perkebunan kelapa sawit dengan usaha budidaya sapi potong. Peraturan tersebut menjadi regulasi sistem integrasi sawit-sapi yang disediakan pemerintah guna menjawab tantangan peternak, seperti keterbatasan pakan berkualitas.

Salah satu contoh kelompok tani yang telah mengadopsi sistem integrasi sawit-sapi adalah Koperasi Unit Desa (KUD) Tani Subur dan Kelompok Peternak Subur Makmur, Desa Pangkalan Tiga, Kecamatan Pangkalan Lada, Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah. Kelompok tani ini memanfaatkan pelepah daun sawit dan serbuk gergaji sebagai pakan sapi. Campuran bahan tersebut juga ditambah hasil samping pengolahan inti sawit, seperti bungkil sawit dan solid, untuk menambah nutrisi pakan. Selain itu, pupuk kompos dari kotoran sapi juga dicampur dengan limbah yang berasal dari tandan sawit, seperti solid, abu boiler dan jangkos, serta kotoran sapi, dan probiotik yang mampu menyuburkan lahan.

Menurut pengusaha kelapa sawit, sistem integrasi ini dapat menekan biaya herbisida sebesar 30% dan di sisi lain, biaya pakan sapi dapat dihemat sampai 80% karena memanfaatkan solid, pelepah, dan bungkil sawit sebagai pakan sapi (Amri 2014).

Meskipun sederhana dan bermanfaat, sistem ini masih belum banyak diterapkan oleh petani. Penyebabnya adalah petani sawit masih kekurangan bibit sapi dari induk yang berbeda dan menganggap bisnis sapi potong tidak menjanjikan. Usaha integrasi sawit- sapi merupakan bisnis di sektor pertanian yang mempunyai tingkat resiko tinggi. Kebutuhan modal yang relatif besar dan siklus yang relatif panjang membuat realisasi kredit usaha menjadi rendah (Ilham dan Salim, 2011).

Harapannya sistem integrasi ini dapat meningkatkan produksi dan produktivitas komoditas sawit dan daging sapi. Pemberian insentif dan akses permodalan juga layak dipertimbangkan pemerintah maupun penyedia jasa keuangan guna menstimulasi kegiatan para petani, peternak, dan pengusaha di industri sapi dan kelapa sawit. * Adella Adiningtyas