Yadi: Menemukan Solusi dalam Kelapa Sawit Berkelanjutan

Yadi, seorang pekebun swadaya dari kelompok suku Dayak Ngaju, Seruyan, Kalimantan Tengah.

Minyak sawit berkelanjutan telah meningkatkan kehidupan banyak keluarga pedesaan, termasuk mereka yang berasal dari masyarakat adat di Kalimantan. Bagi Yadi, seorang pekebun swadaya dari kelompok suku Dayak Ngaju yang tinggal di Seruyan, hasil panen sawit yang tinggi telah mengubah jalan hidupnya: setelah bertahun-tahun berjuang sebagai pekebun karet dan nelayan, dia akhirnya dapat menemukan sumber pendapatan yang stabil sebagai pekebun kelapa sawit.

Ketika masih berusia 20-an, Yadi ingin pindah dari Desa Sandul di Kecamatan Batu Ampar, di mana ia dilahirkan dan dibesarkan. Yadi ingin keluar dari zona nyaman dan melihat hal baru di luar desanya. Maka pada tahun 1996, ia ikut program transmigrasi dan pindah ke Desa Sukorejo yang telah direncanakan untuk dikembangkan menjadi perkebunan kelapa sawit.

Perjalanan hidup Yadi di desa baru tersebut tidak selalu berjalan mulus.

Krisis ekologi mengancam mata pencaharian dan pasokan makanan penduduk Desa Sukerojo. Bergulat dengan iklim yang semakin memanas dan keanekaragaman hayati yang semakin berkurang, Yadi harus berganti pekerjaan beberapa kali untuk bertahan hidup.

Pernah ia mencoba menanam pohon karet, tetapi kebunnya ikut terbakar akibat kebakaran hutan yang sering terjadi. Kemudian dia mencoba mencari ikan di sungai-sungai terdekat, tetapi hasil tangkapannya tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Dulu, Yadi bercerita, ia melihat lonjakan deforestasi yang pada akhirnya juga merusak sungai.

“Sebagai orang yang dulu mencari nafkah dengan mencari ikan, saya sangat sedih melihat sungai-sungai rusak,” kata Yadi. “Orang-orang menebang pohon di sepanjang tepian sungai, yang kemudian mengganggu hewan-hewan liar di sekitarnya, termasuk buaya. Maka itu, buaya kemudian menyerang manusia.”

Pada 2007, Yadi beralih ke kelapa sawit. Ia mendapatkan kesempatan untuk bekerja sebagai pekebun plasma untuk sebuah perusahaan perkebunan lokal. Hasil panen sawitnya bisa mendatangkan keuntungan yang menjanjikan, memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarganya, termasuk ketiga anaknya. Tapi perjalanan Yadi sebagai seorang pekebun sawit tidak selalu mudah.

Sama seperti perkebunan karetnya, kebun kelapa sawitnya mengalami kebakaran di tahun-tahun awalnya membudidayakan kelapa sawit. Dia membeli bibit kelapa sawit dari pekebun non-plasma, tetapi kemudian dia tidak bisa menjual hasil panennya ke perusahaan swasta karena tandan buah segar tidak memenuhi standar.

Bertahun-tahun kemudian, Yadi akhirnya menerima pelatihan tentang kelapa sawit berkelanjutan dan meningkatkan praktik pertaniannya. Baru setelah mengadopsi praktik pertanian yang baik, seperti cara memanen tandan buah segar dengan benar, dan mendapatkan sertifikat Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO), ia mulai menikmati hasil panen dan pendapatan yang meningkat secara signifikan.

“Sejak saya mengikuti pelatihan, hasil panen dan pendapatan saya meningkat. Kelapa sawit sudah menjadi kebanggaan bagi kami pekebun di sini,” kata Yadi yang juga seorang damang,atau tokoh adat, di komunitasnya.

Dengan sertifikat berkelanjutan di tangan mereka, pekebun kecil dapat menghindari perantara yang eksploitatif dan mendapatkan harga yang lebih adil untuk tandan buah segar mereka. Selain itu, pupuk, di antara elemen terpenting untuk produksi tanaman maksimum, juga menjadi lebih terjangkau bagi pekebun kecil bersertifikat.

Yadi berharap praktik berkelanjutan yang ia terapkan ini dapat terus membantunya meningkatkan hasil panen dan menunjang keluarganya.

Selain itu, ada pelajaran dari pelatihan RSPO yang sangat ia amini, antara lain prinsip menjaga sungai dan menjaga tutupan vegetasi dengan menanam pohon di sepanjang bantaran sungai. “Itulah mengapa saya sangat bangga dengan sertifikasi RSPO milik saya,” katanya. “Saya setuju bahwa kita harus melindungi sungai.”

Selain bekerja sebagai pekebun kelapa sawit, Yadi juga bekerja di koperasi bersama rekan-rekan pekebun lainnya serta memiliki peternakan ayam kecil. Mengurus banyak pekerjaan, Yadi kini mempekerjakan dua orang yang sudah dilatih untuk merawat kelapa sawitnya, sementara terkadang ia sesekali mengunjungi dan memeriksa sendiri perkebunannya yang memiliki luas 2,5 hektar.

“Saya sangat bangga menjadi pekebun bersertifikat,” katanya. “Ini menjamin hidup saya dan memberikan kehidupan yang lebih baik bagi pekebun kecil seperti saya. Saya tidak bisa membayangkan meninggalkan kelapa sawit.”

Share on facebook
Share on twitter
Share on google
Share on email
Share on whatsapp