Yadi: Petani Sawit yang Gigih Berbisnis Untuk Meningkatkan Perekonomian Keluarganya

Yadi, anggota Koperasi Unit Desa (KUD) Tani Subur di Desa Pangkalan Tiga, Kabupaten Pangkalan Lada, Kalimantan Tengah.

Kesempatan tidak datang dua kali. Inilah yang menjadi motivasi Yadi, 50 tahun, bekerja sebagai petani sawit sekaligus usaha ternak sapi dan usaha tahu keliling untuk meningkatkan perekonomian keluarganya. 

Saat masih berusia 13 tahun, Yadi meninggalkan kampung halamannya di suatu desa kecil di Kecamatan Wilayangan, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur untuk merantau ke Kalimantan bersama orang tuanya. 

Keluarganya mengikuti program transmigrasi pada masa kepemimpinan Presiden Suharto tahun 1983, menjadi bagian dari komunitas transmigran dan kemudian menetap di Desa Pangkalan Tiga, Kecamatan Pangkalan Lada, Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah. 

Melalui program tersebut, Yadi mendapatkan lahan seluas dua hektar: seperempat hektar untuk lahan pekarangan, satu hektar untuk lahan tanaman pangan, tiga perempat untuk hutan. Lahan pekarangan sebagai lahan perumahan, lahan tanaman pangan ditanami jenis-jenis tanaman palawija, ubi jalar dan jagung, dan lahan hutan ditanami jenis tanaman berkayu seperti sengon (Falcataria moluccana) dan meranti (Shorea sp.). Falcataria moluccana dan Shorea sp.

Yadi dan warga desa bergabung menjadi anggota KUD Tani Subur, yang dibangun dengan tujuan untuk menyejahterakan warga Desa Pangkalan Tiga, Kecamatan Pangkalan Lada. 

Selain mendapatkan lahan dari program transmigrasi, Yadi dan anggota KUD Tani Subur lainnya juga mendapatkan lahan lagi seluas satu hektar untuk ditanam pohon kelapa sawit dari program sebuah perusahaan kelapa sawit dan dikelola bersama dengan KUD Tani Subur. Hasil panen mereka kemudian dijual ke sebuah perusahaan kelapa sawit tersebut.

Kebun kelapa sawit Yadi

Pada tahun 2017, Yadi juga sering mengikuti pelatihan-pelatihan yang diselenggarakan oleh KUD Tani Subur dan dibantu oleh Yayasan Inobu.

Satu tahun kemudian, KUD Tani Subur mengadakan sertifikasi perkebunan kelapa sawit berkelanjutan dari Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) dan Indonesian Sustainable Palm Oil System (ISPO). Sejak Yadi mendapatkan sertifikat RSPO dan ISPO, penjualan hasil panen kelapa sawitnya semakin meningkat dan pembeli menjadi lebih banyak. Keuntungan hasil penjualan sawit tersebut digunakan Yadi untuk membeli pupuk untuk sawit, perawatan kebun, kebutuhan sandang pangan, serta biaya pendidikan untuk anak-anaknya.

Ketiga anaknya yang masih duduk di Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Atas dan mengikuti kursus sebagai pendidikan non-formal. Anaknya yang paling tua, kini berusia 27 tahun, telah berkeluarga dan menjadi guru honorer taman kanak-kanak. 

Selain itu, setiap tahunnya, Yadi dan anggota kelompok petani sawit di desanya juga mendapat insentif dari perusahaan besar yang membeli kredit sertifikasi kelapa sawit berkelanjutan. 

“Meskipun telah mendapatkan reward, warga tetap berlomba-lomba untuk mengembangkan sawitnya agar dapat meningkatkan penjualannya,” ujar Yadi

Selain itu, kegigihan Yadi tampak dari usahanya dalam berbisnis. Ia mulai menjual tahu keliling dan melakukan pekerjaan sampingan untuk meningkatkan pendapatannya.

Kini, Yadi mengembangkan usaha ternak sapi dan memanfaatkan kotoran ternak sapinya untuk pupuk. Dengan demikian, Yadi tidak perlu membeli pupuk lagi untuk lahan pekarangannya.

Di samping itu, Yadi, yang pernah mengikuti pelatihan penggemukan sapi, juga mengajak petani kelapa sawit lainnya untuk memulai usaha ternak sebagai pekerjaan sampingan dan sebagai bentuk investasi di masa mendatang.

Selain ternak, lahan pekarangan yang ditanam jenis buah-buahan, tanaman sayuran dan tanaman pangan juga dijadikan sumber pemasukan. Hasil panen dari lahan tanaman pangannya tidak hanya dimanfaatkan oleh Yadi dan keluarganya sendiri tapi juga dijual ke pasar dan warga sekitar.

Namun demikian, hasil penjualan kelapa sawit tetap menjadi pemasukan paling banyak dibandingkan usaha lainnya. Harapan Yadi adalah usaha bisnisnya sebagai petani kelapa sawit dapat semakin berkembang dan menjadi semakin berkelanjutan sehingga ia tetap bisa meningkatkan perekonomian keluarganya.

Bisnis tahu goreng Yadi
Share on facebook
Share on twitter
Share on google
Share on email
Share on whatsapp