Perempuan Dalam Rantai Perdagangan Pala

 

Salah satu aspek penting dalam perdagangan pala adalah peran perempuan. Studi INOBU-AKAPe sepanjang 2018 di Kabupaten Fakfak, Papua Barat, menunjukkan sejumlah alasan faktual dan kebijakan pentingnya peran perempuan.

Tulisan ini hanya mengungkap sekilas masalah domestik yang dihadapi perempuan. Mulai partisipasi mereka dalam mata rantai pala, kebijakan pala sebagai tantangan pasar yang terkait dengan petani, pemerintah, maupun pemangku kepentingan.

Informasi yang disampaikan bukan sebagai generalisasi persoalan. Tetapi, mencerminkan situasi sekaligus mencari solusi.

Cerita mama

Banyak perempuan di Fakfak kawin muda. Tak terkecuali mereka yang orangtuanya memiliki kebun pala. Isunya bukan semata uang. Tetapi, tidak banyak keluarga yang menempatkan pendidikan sebagai pilihan untuk meningkatkan kesadaran, atau tangga menaikkan status sosial.

Setelah tamat SD, sebagian perempuan tidak melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi. Opsi di kampung tidak banyak: selain bertani, berikutnya adalah menunggu waktu nikah. Alhasil, banyak yang memiliki anak di usia belia sekaligus menghadapi tugas ganda: sebagai ibu rumah tangga yang mengurus segala pekerjaan domestik dan sebagai ibu dari anak-anak.

Banyak yang mengkritik peran ganda sebagai masalah tradisi. Tradisi telah mendomestifikasi perempuan dalam batas-batas diskriminasi hak dan kemampuan yang seharusnya setara laki-laki.

Repetisi dan replikasi tradisi, menimbulkan ketimpangan gender dalam berbagai struktur sosial. Terutama ruang publik, seperti lemahnya partisipasi perempuan di tingkat pengambilan keputusan bersama. Namun, tradisi budaya melekat erat dari para leluhur untuk diteruskan ke generasi berikutnya.

Mengubah tradisi tidak bisa dilakukan sekejap. Pendidikan yang diharapkan mengubah kesadaran, tidak merata. Lebih tidak merata untuk perempuan. Ketika masih usia sekolah, mereka tidak mendapat peluang setara laki-laki.

Ketika menjadi ibu rumah tangga, mereka kesulitan menjalankan peran ganda efektif karena layanan dasar seperti pelayanan kesehatan ibu dan anak dan transportasi publik tidak memadai. Transportasi publik sangat penting manakala mereka menghadapi masalah kesehatan bayi.

Dalam hal ekonomi, perempuan terlibat membantu rumah tangga, terutama pengelolaan pala pasca-panen. Mereka terlibat dalam mata rantai pala yang menghubungkan dengan interaksi dagang lebih luas. Tidak hanya pada lingkup Fakfak, tetapi juga skala nasional dan global.

Buah pala yang telah dipanen. Foto: INOBU

Perempuan dalam mata rantai pala

Secara faktual, pala merupakan ekonomi yang mengandalkan perempuan. Dari biji hingga ke pengguna terakhir, perempuan adalah pelaku strategis yang menentukan produktivitas dan kualitas pala.

Meskipun tidak diberikan hak atas tanah pada kebun pala, perempuan mempunyai hak makan yang menggerakan mereka untuk terlibat dalam ekonomi. Secara budaya, pala juga ditradisikan melekat pada karakter perempuan.

Baron van Hoevall pada abad ke-19, dalam catatan pribadinya, telah mengobservasi cerita rakyat bahwa pala dimitologikan sebagai manusia, seorang perempuan cantik [Turner, 2008]. Hingga kini, keyakinan itu masih nampak dalam sejumlah praktik budaya dan tutur lokal di kampung-kampung pala di Fakfak.

Kebun-kebun pala saat ini sebagian besar warisan orangtua. Hanya sedikit penanaman baru. Dalam dialog di Kampung Pangwadar, para petani menuturkan, tidak ada pembagian peran tegas antara laki-laki dan perempuan dalam penanaman dan pemeliharaan pala. Semua dilakukan tanpa memandang gender. Namun ada satu pantangan yang tidak boleh dilakukan: perempuan dilarang memanjat untuk memetik pala. Peran itu domain laki-laki.

Perempuan di Kabupaten Fakfak, Papua Barat, yang berperan penting dalam perdagangan pala. Foto: INOBU

Pasca-panen, perempuan atau mama-mama terlibat lebih aktif. Tahap ini merupakan bagian paling krusial dalam pengelolaan menuju koneksi pasar. Di sini tingkat kebersihan, penataan tempat penyimpanan, pengeringan, penjemuran, hingga penjualan memerlukan peran mama-mama. Peralatan pengelolaan yang digunakan masih tradisional, seperti pisau hingga tempat penyimpanan yang masih warisan tradisi.

Pengeringan pala menggunakan teknik pengasapan atau penjemuran. Perempuan terlibat kolaboratif dengan para pria untuk memastikan fase ini berlangsung sempurna. Pengasapan menggunakan kayu bakar, namun lebih sering sabut kelapa karena hasil pengapiannya dinilai lebih baik.

Setelah pengeringan, pala dijual ke pengepul lokal: pengepul utama dan pengepul keliling. Beberapa mama terlibat penjualan karena dipercaya keluarga mereka lebih mampu menyimpan uang ketimbang lelaki. Pendapatan itu digunakan untuk keperluan rumah tangga, bayar utang di toko, dan biaya sekolah anak.

Dusun pala di Fakfak. Foto: INOBU

Budidaya dan budaya pala

Berdasarkan survei INOBU-AKAPe di Kampung Pangwadar, pada 35 dusun pala, luas rata-rata kebun per keluarga inti adalah 2.5 hektar. Luas terkecil 0.3 hektar, sementara terbesar 31 hektar. Petani pala usia 50-60 tahun mengatakan, dusun pala sudah ada sebelum mereka lahir.

Keluarga pemilik pala mendapatkan semua pengetahuan budidaya turun temurun. Menanam pala ibarat “mengawini” perempuan. Saat menanam, petani meminta izin kepada tanah dan para leluhur, memanjatkan doa:

“Saya tanam, saya punya hidup ada di kau, kau yang kasih makan saya sampai seumur hidup saya. Matahari naik, kau ikut naik ya…”

Di Pangwadar, semua petani mengatakan mewariskan pengetahuan budidaya pala ke anak-anaknya, melalui tutor maupun mengajak langsung ke kebun. Pengetahuan tradisional merupakan perpaduan pengaruh masa lalu, informasi pedagang, petani, bahkan Pemerintah Belanda yang memberlakukan aturan ketat pemetikan pala layak panen.

Pengetahuan berputar di tengah keluarga dengan substansi yang tidak selalu sama dengan keluarga lain. Misalnya, metode menentukan jenis kelamin benih pala. Meskipun pengetahuan tradisional menganjurkan teknik penilaian visual, hasil yang ditunjukan petani dalam satu garis keturunan cenderung memiliki kesamaan dengan petani keturunan berbeda.

Terkait tradisi, perubahan pengetahuan mendorong penggunakan teknik moderen. Namu, tidak semua komunitas bisa melakukan perubahan secara cepat. Sering, perubahan dipertanyakan karena tidak sejalan dengan praktik yang lumrah, berbiaya mahal, dan minimnya plot demonstrasi yan ditunjukan ke petani.

Dinas Perkebunan setempat pernah mempromosikan teknik sambung pucuk [epicotyl grafting] di kampung Pangwadar dan kampung-kampung lain. Teknik ini memberi kemungkinan sukses di atas 80% terhadap upaya dini menentukan jenis kelamin benih pala.

Sementara, teknik visual tradisional tidak selalu meyakinkan, harus menunggu di atas lima tahun baru bisa diketahui pohon pala jantan atau betina. Meski begitu, mereka lebih nyaman melanjutkan praktik tradisional, meski tiga petani di Pangwadar pernah mengikuti pelatihan teknik sambung pucuk.

Hutan pala di di Kabupaten Fakfak, Papua Barat. Foto: INOBU

Berikutnya, guna meningkatkan nilai tambah pala, beberapa inisiatif telah dilakukan dalam pembentukan UMKM. Melatih perempuan terampil mengelola produk pala, seperti membuat manisan, sirup, hingga sambal.

Untuk urusan ini, banyak perempuan terlibat dengan alasan membantu suami mencari penghasilan tambahan. Bila ada permintaan tambahan, mereka diminta memproduksi lebih banyak. Tantangannya adalah, UMKM bekerja layaknya buruh industri. Para mama terampil jadi pekerja, tetapi tidak dengan pasar.

Setelah bekerja beberapa tahun, mereka tidak tahu berapa sesungguhnya hasil kerjanya. Bahkan, mereka tidak paham orientasi pasar produk pala sesungguhnya. Para mama hanya diinformasikan bahwa pasar mereka kurang luas, sehingga tidak bisa memproduksi lebih banyak.

Mereka sendiri, belum memiliki pemahaman utuh mata rantai pala, mengapa organisasi perlu dibentuk, bagaimana menggerakan organisasi secara partisipatif, mulai perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi. Singkatnya, para mama tidak menggerakkan organisasi, menentukan secara sadar ke arah mana melangkah.

Standar Pala

Petani di Fakfak, Papua Barat, mengelola pala karena bernilai ekonomi dan yang menentukan adalah pasar. Karakter pasar menerima produk pala, tidak statis, melainkan fleksibel mengikuti tuntutan konsumen dan regulasi.

Secara bersama, tuntutan tersebut menjadi ukuran yang diambil pasar sebagai standar transaksi. Perlahan, pala dihadapkan sejumlah ketentuan: kualitas dan kualifikasi, terlebih sanitasi. Salah satu yang paling umum adalah keamanan pangan.

Indonesia sudah mengembangkan standar biji pala melalui SNI 0006 – 1993 dan versi update SNI 0006-2015 yang mengatur persentase kadar air, biji berkapang, serangga utuh matai, dan syarat bebas kotoran mamalia, binatang lain, juga benda asing.

Di samping itu, diatur pula syarat visual dan kontaminasi jamur. Misal, standar fuli atau bunga pala SNI 0006 – 1993 masih memberikan toleransi terbatas terhadap kotoran mamalia dan hewan lain. Namun pada SNI 0006-2015, tidak ada toleransi terhadap benda-benda asing tersebut.

Namun, sebagaimana diakui Kementerian Pertanian, standar ini lebih banyak mencerminkan parameter untuk pala Banda[Myristica fragrans Houtt]. Belum ada yang spesifik untuk pala papua[Myristica argentea Warb].

Buah pala yang berada di wilayah Fakfak, Papua Barat. Foto: INOBU

Untuk Pasar Uni Eropa, General Food Law, Regulation (EC) No. 178/2002 mengatur ketentuan hukum keamanan pangan dengan sejumlah syarat, antara lain: [1] kontaminasi dari mikotoksin, salmonella dan pestisida, [2] batas toleransi aflatoksin [senyawa toksik yang disebabkan oleh jamur].

Khusus aflatoksin, Komisi Uni Eropa telah mengeluarkan Commission Regulation [EU] No. 165/2010 yang mengatur batas toleransi kontaminasi aflatoxins pada Capsicum sp, lada, pala, jahe, kunyit, dan semua produk rempah dengan campuran komoditas tersebut.

Toleransi untuk kategori aflatoxin B1 hanya dibolehkan sebesar 5.0 μg/kg dan 10 μg/kg untuk total aflatoxins [aflatoxins B1, B2, G1 and G2]. Aflatoksin B1 adalah senyawa yang paling beracun dari tipe-tipe aflatoksin karena berpotensi merangsang kanker, terutama kanker hati.

Saat ini berkembang pula diskusi standar keberlanjutan yang berusaha melacak [traceability] komoditas untuk mengantisipasi sumber yang menimbulkan kerusakan dan pencemaran lingkungan hidup.

Standar dimaksudkan pula untuk memeriksa sejauh mana komoditas bersumber dari pengelolaan yang tidak menimbulkan konflik sosial dan pelanggaran hak asasi manusia. Petani diminta memenuhi standar-standar ini agar produk mereka layak masuk pasar.

Satu tuntutan yang acapkali diminta adalah indikator tidak merusak hutan. Kenyataannya, banyak dusun pala di Fakfak berada dalam kawasan hutan. Di Pang Wadar, sebagian dusun pala justru berada di kawasan hutan produksi terbatas. Kenyataan ini tentu perlu kerja sama dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan agar tidak menyulitkan petani menghadapi standar keberlanjutan, selain berjuang memenuhi standar lainnya yang sudah berlaku.

Fuli pala yaitu selapaut tipis merah cerah yang menutupi kulit buah pala. Foto: INOBU

Orientasi ke depan

Isu sosial

Fakfak menunjukan bahwa pala adalah tradisi, namun sedang berjuang dalam gelombang perubahan sosial yang dapat meminggirkan tradisi. Peran perempuan untuk mewariskan pengetahuan pala ke generasi berikut bergulat dengan perubahan sosial tersebut. Terutama, saat generasi muda tidak banyak yang kembali ke dusun pala, berorientasi menjadi sarjana untuk kerja halus [opus sprituale], bukan kerja kasar sebagai petani [opus manuale].

Suara ibu bukan semata cara seorang mama mendorong anaknya sekolah lebih tinggi, tetapi juga refleksi dari pandangan dan kesadaran bahwa pala sulit diandalkan sebagai masa depan.

Harga yang tidak pasti di tengah kebutuhan yang meningkat, mengurangi nilai pala. Watak pala yang tidak membutuhkan banyak perawatan, memungkinkan petani mencari sumber penghasilan tambahan sekaligus tantangan budidaya pala.

Dusun pala di Fakfak. Foto: INOBU

Peran pemerintah daerah

Pemerintah Daerah perlu hadir memfasilitasi petani agar prasyarat dalam standar tersebut perlahan dapat dipenuhi. Dari segi kebijakan, sudah ada dua ketentuan di tingkat nasional terkait pala, yakni: Kepmentan 320/2015 dan Permentan 53/2012. Namun, substansi dua aturan ini belum menyasar pala papua, yang seharusnya menyediakan aspek peran perempuan muncul dalam mata rantai pala.

Perda Fakfak No. 6/2016 sudah menyentuh isu lokal pala papua. Sejalan dengan kebijakan tersebut, pemerintah daerah aktif mempromosikan pengetahuan baru tentang pala. Akan tetapi, upaya itu baru berkembang di beberapa lokasi. Diperlukan replikasi di tempat lain.

Selain itu, ada kebijakan yang memfasilitasi perubahan sikap dasar petani terhadap pentingnya pengetahuan baru budidaya sebagai tuntutan ekonomi pasar saat ini.

Sebuah organisasi perempuan yang kuat mesti hadir memfasilitasi kemampuan perempuan sebagai pelaku pengelolaan pala. Peran ini signifikan, membantu menggerakan kelompok-kelompok tani yang saat ini pelaksanaannya mengandalkan perempuan, menuju tercapainya standar pala.

Tiga hal yang perlu didukung pemerintah daerah. Pertama,penguatan kelompok perempuan petani pala sebagai agen perubahan budidaya. Dukungan kelembagaan memprioritaskan kelompok perempuan dalam alokasi pembiayaan kelompok tani. Kedua,menyediakan ruang pembelajaran dan lokasi percontohan tingkat kabupaten sebagai forum berbagi kelompok perempuan mengenai budidaya dan pengelolaan produk akhir pala.

Ketiga,mempertemukan pembeli dengan kelompok perempuan guna mengetahui langsung standar yang dibutuhkan pembeli, terlebih ada kesepakatan pembelian jangka panjang.

Pemerintah daerah harus membuat banyak plot, contoh, dan teknik visual yang memudahkan masyarakat untuk meniru. Program pembuatan banyak kebun baru pala, diarahkan untuk menginformasikan metode dan teknik baru, bukan hanya menambah luas.

Peta wilayah administrasi Kabupaten Fakfak, Papua Barat. Peta: INOBU

Pala dalam kawasan hutan

Tantangan isu traceability ke depan adalah legalitas pala. Banyak dusun pala saat ini berada dalam kawasan hutan. Solusi legal perlu dibahas untuk menyelesaikan persoalan ini. Salah satunya, mengakui wilayah-wilayah itu sebagai penguasaan komunal adat.

Institusi negara bisa berkolaborasi dengan lembaga tradisional untuk memastikan fungsi perlindungan berjalan. Sejumlah studi menyatakan pala mempunyai karakter tutupan hutan yang efektif.

Upaya perhutanan sosial tengah digalakkan di Fakfak. Program ini seharusnya memperkuat ikatan masyarakat dengan tanah dan sumber daya alamnya. Ikatan antara orang Papua dengan tanah dan wilayahnya dengan basis tradisi yang bisa mereka tuturkan, sebagaimana kebun pala.

Pemerintah sebagai regulator tetap mendampingi cara dan metode pengelolaan yang tepat. Tentunya, dalam skema kerja sama saling menguntungkan. [Selesai]

**Bernadinus Steni, Sekretaris Inovasi Bumi [INOBU].

Tulisan ini sudah dimuat di Mongabay dan dapat dilihat pada link berikut ini: https://www.mongabay.co.id/2019/06/29/perempuan-dalam-rantai-perdagangan-pala-bagian-1/ dan https://www.mongabay.co.id/2019/06/30/perempuan-dalam-rantai-perdagangan-pala-bagian-2/

Share on facebook
Share on twitter
Share on google
Share on email
Share on whatsapp