Tohhari: Bagaimana Inisiatif Restorasi Mendukung Desa di Pesisir

Tohhari, seorang petani yang juga kepala Desa Sabuai, menanam pohon di lahan restorasi.

Dalam sebuah inisiatif restorasi berbasis komunitas, sebuah desa di pesisir Kalimantan Tengah telah meningkatkan usahanya untuk menanam pohon di lahan seluas 50 hektar. Pendekatan ini memberikan rasa kepemilikan kepada komunitas, berkontribusi pada ekonomi lokal, dan membantu merestorasi lahan yang rusak. 

Lahan tempat Desa Sabuai terletak dikategorikan sebagai lahan yang rusak menurut peta lahan kritis yang dikeluarkan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Kami mendukung desa ini mengimplementasikan restorasi berbasis komunitas karena komitmen komunitas tersebut serta perangkat daerah untuk melindungi dan mengelola hutan mereka. 

Restorasi di Desa Sabuai merupakan sebuah kegiatan yang dirancang dengan hati-hati dan terorganisir. Perencanaan dan pembentukan tim restorasi dimulai pada awal 2020. Usaha penghijauan disambut hangat oleh komunitas, banyak di antara mereka yang terlibat dalam diskusi pemilihan spesies tanaman, berpartisipasi dalam mencari bibit tanaman lokal, dan turun ke lapangan untuk menanam pohon di lahan kosong.

Saat ini, 38 hektar lahan telah direstorasi. Dan 12 hektar lahan disiapkan untuk ditanami aren serta pohon berkayu keras yang disebut kanenasihan

Namun, beberapa titik restorasi mengalami banjir saat musim hujan. Para anggota komunitas menanti hingga lahan tersebut kering terlebih dahulu. 

“Begitu situasi membaik, kami akan menanam sisa lahan dan menyelesaikan proyek ini segera,” ujar Tohhari, ketua tim restorasi.

Program restorasi, yang didukung oleh Inobu dan Unilever, membawa banyak keuntungan langsung bagi komunitas, termasuk sumber pendapatan tambahan, terutama karena banyak petani lokal yang kesulitan untuk beradaptasi dengan bencana iklim yang semakin sering terjadi yang juga mempengaruhi hasil panen mereka. Selain kelapa sawit, petani juga menanam kelapa, tanaman hortikultura serta pohon berkayu.

Dalam jangka panjang, ia berharap masyarakat setempat dapat menikmati manfaat menanam pohon dengan menjual tanaman bernilai tinggi, seperti durian dan kelengkeng. 

Tohhari, yang juga seorang kepala desa, merasa bertanggung jawab untuk mendukung komunitasnya di Desa Sabuai dengan berbagai cara.

Program restorasi 50 hektar ini merupakan kali pertama desanya melakukan usaha penanaman pohon. Tim restorasi dibentuk untuk mengorganisir aktivitas dan memastikan dampak jangka panjang dari aktivitas-aktivitas tersebut, termasuk memonitor pertumbuhan pohon dan menyingkirkan gulma di area restorasi.

Terlebih, tim tersebut juga memastikan bahwa pohon hanya ditanam di area publik, bukan di lahan milik pribadi. Hal ini dilakukan untuk meminimalisir risiko konflik. 

“Ketika pohon telah dewasa, siapa saja dapat memanen buahnya. Tim restorasi kami akan mendesain pola panen masyarakat nanti,” ujar Tohhari.  

Tohhari dan tim restorasi di Desa Sabuai

Tidak lama lagi, mereka akan melakukan proyek baru restorasi mangrove atau pohon bakau sebagai usaha untuk merestorasi area pesisir. Di saat perubahan iklim semakin mengancam masyarakat di pesisir, usaha restorasi tersebut diharapkan dapat meningkatkan ketahanan terhadap perubahan iklim dan mengurangi risiko bencana alam, seperti kebakaran hutan dan banjir.

“Kami baru saja mengalami banjir pesisir di akhir 2021,” ujar Tohhari, seraya menambahkan bahwa ombak yang tinggi dan angin kencang membuat air laut mencapai lokasi perumahan yang terletak sekitar 700 meter dari garis pantai. “Ini merupakan kali pertama dalam beberapa dekade.” 

Salah satu cara efektif untuk merealisasikan solusi iklim adalah dengan mempercayakan aktivitas ke masyarakat setempat. Inisiatif restorasi berbasis komunitas ini memungkinkan masyarakat memahami keuntungan menanam pohon, menjalankan aktivitas, dan mendapat keuntungan atas kerja keras mereka.