Inisiatif Mosaik: Menemukan model baru sistem produksi pedesaan skala kecil untuk alam dan masyarakat

Inisiatif Mosaik bertujuan untuk melindungi dan memulihkan bentang alam sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani dan masyarakat adat. Bentang alam ini juga merupakan tempat komoditas penting dunia , seperti kelapa sawit, karet, dan kopra, diproduksi. Bentang alam Seruyan-Bedaun menggabungkan dua kabupaten yaitu Seruyan dan Kotawaringin Barat di Kalimantan Tengah, yang juga mencakup Taman Nasional Tanjung Puting yang terkenal secara global, yang merupakan rumah bagi satwa liar seperti orangutan, bekantan, owa dan beruang madu.

Bagi konsumen tidak cukup lagi mengetahui negara asalnya, tetapi perlu mengetahui lanskap asalnya. Bentang alam adalah tempat di mana alam dan masyarakat berinteraksi. Interaksi ini terlihat melalui rangkaian mosaik penggunaan lahan dan fitur alam di seluruh lanskap. Bentang alam juga merupakan tempat komoditas diproduksi. Namun, produksi komoditas telah sering mengorbankan lingkungan dan masyarakat.

Inisiatif Mosaik bertujuan untuk mengubah hal ini dan menjadikan produksi komoditas lebih berkelanjutan dan inklusif. Melalui sertifikasi yurisdiksi, konsumen mengetahui bahwa produk diproduksi dengan cara yang melindungi hutan dan ekosistem lainnya, mengurangi kemiskinan dan menjunjung tinggi hak asasi manusia. Inisiatif Mosaik tidak hanya berfokus pada sertifikasi minyak sawit tetapi juga pada semua komoditas di bentang alam tersebut. certifying palm oil but also eventually all commodities in the landscape.

Bekerja di tingkat lanskap (yurisdiksi)

Untuk mewujudkannya, diperlukan kepemimpinan pemerintah daerah, bekerja sama dengan sektor swasta dan organisasi non-pemerintah, didukung oleh pemerintah pusat dan donor. Inti dari pendekatan ini adalah konsep sertifikasi yurisdiksi.

Upaya menghentikan deforestasi dan degradasi lingkungan hanya melalui inisiatif rantai pasokan memiliki efektivitas yang terbatas. Salah satu alasan utamanya adalah ekosistem perlu memiliki area yang luas dan terhubung untuk menyediakan layanan seperti habitat dan koridor satwa liar, pengaturan dan penyediaan air, perlindungan tanah, dan penyerapan karbon. Daerah yang terdegradasi juga lebih rentan terhadap kebakaran hutan, yang dapat menyebar ke lahan pertanian serta menyebabkan kabut asap. Tanpa layanan yang disediakan oleh ekosistem yang sehat, pertanian dan perkebunan akan menjadi kurang produktif dan lebih rentan terhadap bahaya seperti kekeringan dan kebakaran. Untuk mengatasi masalah ini, kita perlu bekerja dalam skala yang lebih besar, yang dikenal sebagai skala lanskap. Untuk mengatasi banyak masalah pada skala lanskap, kami membutuhkan dukungan pemerintah. Pemerintah subnasional, baik pemerintah provinsi atau kabupaten, berada pada posisi terbaik untuk menangani masalah tingkat lanskap melalui pendekatan yurisdiksi.

Alat utama untuk memastikan ekosistem yang sehat adalah: perlindungan, restorasi, dan pengelolaan berkelanjutan. Melindungi hutan dan ekosistem membutuhkan perpaduan antara aturan, undang-undang, dan insentif. Restorasi membutuhkan kegiatan seperti penanaman pohon dan pemulihan fungsi hidrologi. Pengelolaan berkelanjutan memerlukan rencana dan aturan berdasarkan bukti ilmiah untuk memastikan bahwa sumber daya dapat digunakan untuk generasi sekarang dan masa depan.

Teori Perubahan

Akibatnya, dibutuhkan model-model baru sistem produksi pedesaan skala kecil yang bermanfaat bagi alam dan masyarakat.

Sistem produksi pedesaan tidak berkelanjutan atau menguntungkan bagi petani kecil karena mereka menghadapi tantangan sistematis, termasuk akses pasar, kebijakan, akses ke informasi, teknologi dan keuangan. Situasi ini merugikan rumah tangga pedesaan dan kemampuan mereka untuk mengakses dan memanfaatkan sumber daya mereka. Mengatasi tantangan ini akan membutuhkan pemahaman penyebab kerugian serta mengusulkan model produksi pedesaan yang bermanfaat, bekerja sama dengan rumah tangga pedesaan, sektor swasta, organisasi masyarakat sipil dan pemerintah.

Petani adalah pelaku yang secara langsung memanfaatkan lahan untuk menghasilkan komoditas pertanian. Petani seringkali bersaing dengan pihak lain, seperti perusahaan besar, dalam menggunakan lahan. Tantangan yang dihadapi petani berbeda-beda bergantung pada jenis komoditas yang diproduksi, keterkaitannya dengan pasar, dan perilaku petani yang dipengaruhi oleh kondisi geografis dan demografis. Misalnya, petani sawit terhubung dengan pasar internasional yang menerapkan standar ketat saat membeli produk dari petani. Para petani dipaksa untuk memenuhi standar ini atau mereka akan dikeluarkan dari rantai pasokan. Di sisi lain, petani tradisional dan lokal telah menanam tanaman secara tradisional seperti kelapa dan aren di hutan adat mereka. Tanpa insentif pasar untuk komoditas tradisional tersebut, petani seringkali memilih monokultur yang lebih menguntungkan.

Melalui Inisiatif Mosaik, kami menggunakan pendekatan kolaboratif untuk penelitian, pengembangan teknologi, dan pengembangan kelembagaan untuk mengatasi masalah lingkungan, sosial, ekonomi, dan agronomi yang dihadapi oleh petani (Gambar 1). Dengan menggunakan pendekatan ini, kami bekerja dengan tipologi petani berikut untuk meningkatkan sistem produksi pedesaan:

  1. Praktik pertanian bebas api bagi petani tradisional
  2. Ekonomi desa berbasis restorasi termasuk misalnya kayu cepat tumbuh dan tanaman berharga lainnya
  3. Produksi komoditas yang berkelanjutan dengan pasar internasional (termasuk kelapa sawit, karet, cengkeh, kakao dan kayu)
  4. Hasil hutan non-kayu di kawasan konservasi (termasuk madu, vanili, pala, sagu dan gula aren)
  5. Perikanan dan budidaya berkelanjutan sebagai mata pencaharian alternatif untuk mengurangi tekanan terhadap hutan

Gambar 1. Teori Perubahan