Sumarni: Sejahtera Berkat Sertifikasi RSPO

Ibu Sumarni 

Proses produksi kelapa sawit berkelanjutan telah memberikan banyak manfaat bagi Sumarni, petani kelapa sawit di Desa Lada Mandala Jaya. Sumarni (53) dan suaminya telah menjadi seorang petani selama 15 tahun. Meskipun demikian, baru dalam dua tahun terakhir ini Sumarni menjadi petani bersertifikat Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) di Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Karya Mandala Makmur yang beranggotakan lebih dari 200 petani.

“Kami para petani juga mulai dari nol untuk mendapatkan sertifikat RSPO. Awalnya, kami tidak mengetahui apa itu RSPO dan apa manfaat yang akan kami peroleh. Namun, saya pribadi merasa bersyukur telah melewati proses tersebut dan memperoleh sertifikat ini,” ujar Sumarni. “Sebab, selain diuntungkan dari segi harga pasar, saya mendapat banyak pengalaman baru terkait pelestarian lingkungan dan cara bercocok tanam.”

BUMDes Karya Mandala Makmur merupakan organisasi petani binaan Yayasan Inobu yang telah membantu beberapa kelompok tani memperoleh sertifikat RSPO sejak 2016.

Para petani kelapa sawit melewati beberapa tahap guna belajar mengenai menerapkan sistem produksi kelapa sawit berkelanjutan dan memperoleh sertifikat RSPO. Alhasil, mereka bisa menikmati kenaikan kualitas dan kuantitas tandan buah segar (TBS) serta mendapat insentif dari penjualan kredit RSPO.

Selain mengajarkan cara berkebun kelapa sawit yang berkelanjutan, Internal Control System (ICS) BUMDes Karya Mandala Makmur juga menyediakan penyuluh tentang cara menjaga kesuburan tanah serta pengendalian hama dan gulma.

“Awalnya saya hanya asal tanam dan menunggu panen. Dan ternyata hasil yang didapatkan itu berbeda,” kata Sumarni. “Saya mendapatkan banyak keuntungan menjadi petani bersertifikasi RSPO.”

Sumarni juga diajarkan cara menanam tanaman karet dan sayuran, seperti terong, cabai, dan kangkung, di ladang dekat kebun sawit. Hal ini sangat membantu Sumarni dan keluarganya untuk bertahan hidup. Contohnya saja terong yang dipanen Sumarni bisa mencapai 3-4 ton setiap dua bulan.

Ibu Sumarni di ladang sayur dekat perkebunan kelapa sawit 

“Sayuran yang saya tanam ini ternyata sangat membantu saya memenuhi kebutuhan hidup saya sehari-hari. Selain dijual ke pasar, sayur yang saya tanam itu juga untuk dikonsumsi keluarga,” Sumarni menjelaskan, lalu menambahkan bahwa hasil panen kebun sayurnya tersebut dijual ke seorang pengepul di Desa Lada Mandala Jaya setiap 3 hari sekali.

Walaupun aktivitas di kebun tidak terlalu terkena dampak dari pandemi Covid-19, Sumarni merasa sedih karena aktivitas pertemuan yang biasanya dilakukan harus dialihkan dengan kunjungan rutin oleh ICS dan penyuluhan. Tatap muka dengan anggota kelompok tani lainnya juga sudah lama tidak dilakukan.

“Biasanya kami saling bercerita tentang kondisi kebun. Apakah sedang untung atau sama seperti bulan sebelumnya,” cerita Sumarni. “Karena saya tidak mempunyai handphone jadi mengobrol dengan petani lain sangat terbatas, jika papasan di jalan saja kami saling ngobrol. Itu juga tidak lama karena kondisinya masih belum aman.”

Selama masa pandemi ini, Sumarni mendapatkan bantuan sembako dari Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Barat. Pemerintah Desa Lada Mandala Jaya juga aktif memberikan penyuluhan terkait bahaya Covid-19 sehingga Sumarni dan warga lainnya tetap waspada hingga pandemi mereda atau usai.

“Semoga pandemi ini segera berakhir sehingga kami para petani dapat kembali belajar melalui pelatihan dan pertemuan kelompok setiap bulannya tentang penanaman kelapa sawit berkelanjutan,” ujar Sumarni.

Share on facebook
Share on twitter
Share on google
Share on email
Share on whatsapp