Soewarno: Mendukung petani kelapa sawit dengan komitmen tinggi

Soewarno di depan sebuah kebun kelapa sawit di Kabupaten Kotawaringin Barat.

Mengorganisasi petani kelapa sawit untuk bergabung dengan kelompok tani membawa banyak manfaat tetapi juga merupakan pekerjaan yang sukar dilakukan, yang tentunya membutuhkan dukungan konsisten dari semua pemegang kepentingan. Soewarno, seorang tokoh penggerak pembangunan komunitas pedesaan di Kotawaringin Barat, bersedia melakukannya.

Di Kotawaringin Barat, sebuah kabupaten penghasil minyak kelapa sawit di Kalimantan Tengah, petani kelapa sawit terus mendorong gelombang baru sertifikasi minyak kelapa sawit berkelanjutan. Pada beberapa malam, petani yang tergabung di dalam asosiasi petani kelapa sawit tingkat kabupaten berkumpul dengan dengan petani setempat untuk melakukan pertemuan maupun sesi pelatihan. 

“Kadang kala kami melakukan pertemuan di malam hari karena petani sibuk bekerja di perkebunan seharian,” ujar Soewarno, ketua asosiasi yang bernama Asosiasi Petani Lestari Kelapa Sawit (APLKS) dari Desa Pangkalan Dewa.

Gelombang pengorganisiran ini menjadi semakin aktif di desanya dan desa lain di Kotawaringin Barat. Namun, beberapa tahun lalu, banyak petani kelapa sawit swadaya di Desa Pangkalan Dewa yang belum mendapatkan sertifikasi. Saat itu, proses sertifikasi dirasa sangat kompleks dan membutuhkan banyak biaya. Namun, ketika mendengar banyak manfaat dari sertifikasi dan pelatihan berkelanjutan, termasuk meningkatkan produktivitas dan penghasilan bagi petani kelapa sawit di desa sekitar, mereka menjadi tertarik.

“Kami mendengar bagaimana petani kelapa sawit dari desa tetangga kami mendapatkan pelatihan dari Inobu, mendapat sertifikasi, dan menikmati berbagai manfaat,” ujar Soewarno sambil mengingat kembali. “Kami berharap kami juga bisa mendapatkan kesempatan yang sama,”

Pada September 2020, Inobu mulai mendirikan asosiasi petani kelapa sawit yurisdiksi yang dinamakan Asosiasi Petani Lestari Kelapa Sawit (APLKS) yang mencakup seluruh wilayah Kotawaringin Barat. 

Dengan beberapa tahun bekal pengalaman seputar pengembangan komunitas bagi perusahaan perkebunan di tangannya, Soewarno, yang juga seorang petani kelapa sawit, ditunjuk untuk mengelola asosiasi sertifikasi di tingkat kabupaten.

“Asosiasi petani kelapa sawit yurisdiksi berada di skala yang berbeda. Di perkebunan plasma, hanya ada sekitar 400 petani, tetapi di sini kita berbicara tentang sertifikasi terhadap 1.320 petani,” jelas Soewarno. 

Soewarno, ketiga dari kiri, memimpin pertemuan

Dukungan utama bagi petani mencakup pelatihan khusus bagi para pelatih mengenai sertifikasi berkelanjutan. Tokoh-tokoh penting di dalam kelompok petani di beberapa desa dilatih dan diberi kapasitas mengenai prinsip-prinsip keberlanjutan, praktik agrikultur yang baik, dan proses auditing. Para pelatih ini nantinya akan membantu para petani anggota kelompok untuk mendapatkan dan mempertahankan sertifikasi, baik RSPO maupun ISPO.

Asosiasi ini juga membantu petani kelapa sawit untuk mencatat aktivitas di kebun serta kegiatan panen mereka. “Petani akan memberi tahu mengenai hasil panen kepada para pelatih, yang akan mengumpulkan data dari semua anggota petani,” jelas Soewarno.

Sejauh ini, para petani perlahan-lahan mulai mengadopsi praktik perkebunan yang berkelanjutan, seperti menggunakan alat pelindung diri serta menggunakan pupuk secara efisien. 

Kadang kala, pekerjaan juga terasa berat. Meskipun berbagai kampanye yang mempromosikan bahwa perkebunan berkelanjutan mudah dilakukan dan menguntungkan sudah masif digelar, beberapa petani masih enggan melakukannya. Mereka mengatakan bahwa ‘Kami tidak perlu mengikuti prosedur yang rumit seperti itu karena saat ini pun kami sudah mampu mendapatkan pemasukan,’” katanya. “Meski demikian, saya terus mempromosikan kelapa sawit berkelanjutan. Saya ingin menunjukkan kepada mereka bahwa apa yang kami usahakan saat ini adalah hal yang benar.”

Soewarno (kiri) pada sebuah pertemuan dengan para petani

Bergabung dengan organisasi petani dan mendapatkan sertifikasi akan berkontribusi pada pendapatan petani kelapa sawit dan memberikan mereka posisi tawar yang lebih tinggi. Berbagai program yang dilakukan organisasi akan membantu petani kelapa sawit untuk memperoleh hasil panen yang lebih banyak dengan kualitas yang lebih tinggi, di samping mengelola lahannya secara berkelanjutan, mengakses pasar dan kredit, dan mencapai ketahanan pangan.

Di masa mendatang, Soewarno memiliki harapan yang tinggi terhadap asosiasi tersebut untuk semakin meningkatkan kesejahteraan para petani. “Saya juga berharap kami dapat meraih pencapaian lainnya, seperti melakukan sertifikasi terhadap 2.000 petani atau lebih, serta memperluas cakupan kami ke daerah lainnya,” ucap Soewarno. “Saya berharap kami dapat melakukan sertifikasi terhadap semua petani kelapa sawit di seluruh wilayah Kotawaringin Barat.”