Sarbiyanto: Disiplin Adalah Kunci Utama bagi Petani Sawit RSPO

Pak Sarbiyanto

Setelah menyadari pentingnya keberlanjutan dalam mengelola kebun kelapa sawit, Sarbiyanto, seorang petani kelapa sawit bersertifikat Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO), mulai menerapkan praktik-praktik ramah lingkungan secara disiplin saat menanam kelapa sawit dan memanen Tandan Buah Segar (TBS).

Sarbiyanto merupakan salah satu dari banyak petani di Desa Sukorejo, Kabupaten Seruyan, Provinsi Kalimantan Tengah, yang telah bersertifikat RSPO. Sebanyak lebih dari 50 persen petani kelapa sawit di desa tersebut telah bersertikat dan mereka dapat menikmati penjualan sawit yang lebih baik dan pendapatan yang lebih tinggi.

Bersama dengan istrinya, Sarbiyanto mengadu nasib ke Desa Sukorejo pada tahun 2003 dan menjadi karyawan di salah satu perusahaan kelapa sawit selama sembilan tahun. Pada tahun 2010, memutuskan untuk menjadi petani sawit swadaya dan mulai menanam kelapa sawit di kebun miliknya sendiri di sela-sela waktu bekerja untuk perusahaan.

Beberapa tahun kemudian, para petani kelapa sawit di desanya mendapatkan kesempatan mengikuti pelatihan untuk memperoleh sertifikat RSPO melalui pendampingan dari Yayasan Inobu. Sarbiyanto dan petani swadaya lainnya di Koperasi Sawit Bangkit mendapatkan sertifikat RSPO pada tahun 2019.

“Saya, bersama petani lain yang sudah bersertifikat RSPO, merasakan banyak manfaat dari pelatihan yang diberikan oleh tim sertifikasi,” ungkap Sarbiyanto. “Mereka dengan sabar dan telaten, terus mendukung kami, para petani untuk disiplin dalam proses penanaman sawit hingga panen TBS dengan mematuhi skema dan penggunaan APD (Alat Pelindung Diri).”

Manfaat yang didapat oleh para petani dari pelatihan-pelatihan tersebut, yakni pengetahuan tentang pemupukan yang benar, pengelolaan sawit berkelanjutan yang baik, dan cara pengendalian hama yang ramah lingkungan. Petani kelapa sawit juga menikmati peningkatan penjualan.

Sarbiyanto tak lagi asal-asalan dalam berkebun kelapa sawit. Seluruh aktivitas berkebunnya juga semakin terorganisir dan pertumbuhannya terlihat secara nyata.

Kebun kelapa sawit milik Pak Sarbiyanto

“Masa panen TBS sudah semakin terencana. Saya tidak asal ambil buah lagi, saya mulai melakukan pemilihan buah TBS yang sudah berwarna merah oranye untuk dijual dan tetap membiarkan buah warna hijau di batangnya,” Sarbiyanto menjelaskan. “Pemupukan juga saya lakukan lebih sering untuk hasil yang maksimal. Selain menjadi petani sawit saya juga beternak sapi dan kambing, dan kotoran ternaknya bisa saya gunakan sebagai pupuk kandang di kebun.”

Sarbiyanto juga rajin menebas rumput dan menjadikannya sebagai sumber pakan ternak sapi dan kambing. Bak sekali dayung dua tiga pulau terlampaui, beternak dan bertani adalah aktivitas yang membawa keuntungan bagi Sarbiyanto. “Karena rajin melakukan pembersihan di kebun, kegiatan penyemprotan di lahan juga sudah sangat berkurang,” papar Sarbiyanto.

Di kondisi pandemi ini, Sarbiyanto menjelaskan, aktivitas sosialisasi antar petani di Desa Sukerejo menjadi terbatas. Para petani menjadi enggan untuk keluar desa karena khawatir akan tertular Covid-19. Para petani tak lupa untuk saling menjaga jarak dan menggunakan masker saat berada di luar rumah. Berkumpul di kebun ataupun bertemu secara langsung untuk rapat juga sudah jarang dilakukan.

Namun, itu tidak menjadi masalah besar karena petani bersertifikat RSPO memiliki kelompok dan jaringan yang kuat. Pembatasan tatap muka akibat pandemi tidak menghalangi para petani untuk saling bertukar kabar satu sama lain secara virtual melalui grup chat WhatsApp, memperbaharui informasi terkait harga TBS dan pupuk di pasar serta saling bercerita tentang kondisi lahan masing-masing.

Selama masa pandemi, hasil produksi TBS sawit tetap stabil. “Saya akan tetap disiplin untuk meningkatkan produktivitas kebun sawit ke depannya. Dan saya yakin, seiring berjalannya waktu, akan ada banyak petani bersertifikat baru untuk hasil kebun yang semakin baik,” ujar Sarbiyanto.

Share on facebook
Share on twitter
Share on google
Share on email
Share on whatsapp