Rosdiana: Penghijauan untuk Restorasi Habitat Orangutan dan Peningkatan Ekonomi Lokal

Rosdiana, 50, a member of the restoration team in Tanjung Hanau Village in Seruyan, Central Kalimantan.

Warga Desa Tanjung Hanau, Seruyan, Kalimantan Tengah, akan memiliki wilayah hutan baru yang berasal dari aktivitas penanaman pohon yang dipimpin oleh komunitas lokal. Warga setempat akan menanam bibit pohon di area dengan total luas 10 hektar yang diharapkan berkontribusi dalam restorasi skala kabupaten yang telah dimulai di Seruyan. Program restorasi skala kabupaten ini bertujuan untuk mengembalikan habitat bagi satwa liar dan membantu meningkatkan perekonomian warga.

Letak desa ini cukup unik, yakni di perbatasan antara perkebunan kelapa sawit milik perusahan besar, hutan produksi dan lahan penyangga. Tak jauh dari sana terdapat kawasan konservasi yakni Taman Nasional Tanjung Puting.

Warga desa yang tadinya mempraktikkan ladang berpindah, sekarang sebagian besar bekerja sebagai buruh di perusahaan kelapa sawit. Sebagian lainnya menjadi petani kelapa sawit swadaya atau ada pula yang menjadi petani buah-buahan di lahan kebun tumpang sari.

“Namun lahan semakin kecil karena sebagian besar sudah menjadi kebun kelapa sawit,” ujar Rosdiana, 50, salah seorang anggota tim restorasi yang kesehariannya bekerja sebagai tenaga pengajar di desanya.

Beberapa warga juga menyambi sebagai nelayan yang mencari ikan di sungai. Tetapi aktivitas mereka terganggu oleh banjir yang semakin sering melanda Desa Tanjung Hanau.

Selain banjir, warga juga harus was-was dengan risiko kebakaran. Sebagian besar kawasan Desa Tanjung Hanau berada di gambut berawa, menjadikan desa tersebut daerah yang rawan kebakaran hutan dan lahan. Kebakaran yang terjadi pada 2016 menghanguskan wilayah hutan di sana.

Kini, warga setempat berusaha menghijaukan kembali lahan hutan yang terbakar. Proyek restorasi ini merupakan suatu usaha mitigasi untuk mengatasi bencana alam, seperti banjir dan kebakaran hutan dan lahan, yang kerap kali terjadi di Kalimantan.

Untuk tahap pertama yang dilakukan awal November ini, warga menanam area seluas empat hektar di dekat anakan sungai dengan berbagai macam bibit pohon, seperti gaharu, nangka, durian, dan cempedak. Di tahap restorasi selanjutnya, warga akan menanam di area seluas enam hektar dengan menambah variasi bibit pohon, seperti kemiri, petai, dan jengkol. Pohon yang ditaman memang kebanyakan merupakan pohon berbuah yang bisa dimanfaatkan lebih jauh oleh warga sekitar.

Warga juga belajar cara stek tanaman unggul--misalnya pohon jambu biji--yang bertujuan untuk mempercepat pertumbuhan buah. Dengan pengetahuan dan keterampilan baru ini, warga lokal diharapkan tetap dapat melanjutkan restorasi dan menambah tutupan hutan.

Ibu Rosdiana

Pohon-pohon berbuah ini diharapkan bisa meningkatkan perekonomian desa dan menambah sumber pendapatan warga. “Nantinya warga bisa memanen buah-buahan dari pohon-pohon ini untuk dijual,” kata Rosdiana.

Selain memiliki fungsi ekonomi, program rehabilitasi hutan yang didampingi oleh Yayasan Inobu ini juga bertujuan untuk mengembalikan fungsi ekologi hutan, terutama terkait dengan habitat satwa liar seperti orangutan.

Desa Tanjung Hanau berada berdampingan dengan suatu pusat rehabilitasi orangutan, sehingga tidak mengherankan terdapat banyak orangutan yang melewati pepohonan di daerah tersebut. Akhir-akhir ini, orangutan sering masuk ke perkebunan kelapa sawit milik warga untuk mencari makan.

Terlebih lagi, sejak banjir melanda desa dan menyebabkan gagal panen pada pohon-pohon pisang di sana. Padahal pisang-pisang tersebut biasanya warga jual ke pusat rehabilitasi orangutan sebagai makanan untuk satwa primata ini.

“Pisang yang dijual warga pun berkurang sehingga orangutan kekurangan makanan,” ujar Rosdiana.

Hutan buatan ini diharapkan dapat memberikan dampak positif bagi satwa primata dengan mobilitas tinggi dan cakupan daerah jelajah yang luas. Jika bibit sudah tumbuh menjadi pohon-pohon yang kokoh dan berbuah, wilayah ini bisa menjadi koridor orangutan di tengah-tengah perkebunan sawit di Seruyan sekaligus menyediakan makanan bagi para orangutan.

“Nanti buah yang tersisa akan dimanfaatkan oleh warga untuk dijual dan membantu perekonomian mereka,” kata Rosdiana.

Dia kemudian menyoroti bagaimana masyarakat akan berbagi tanah dan pepohonan dengan orangutan dan pentingnya hidup harmonis dengan alam.

“Kami tidak mungkin membatasi pohon mana saja yang bisa diambil oleh orangutan,” ujar Rosdiana. “Namanya juga kami yang tinggal di lingkungan mereka. Kita yang butuh alam, bukan sebaliknya.”

Share on facebook
Share on twitter
Share on google
Share on email
Share on whatsapp