Kelapa Sawit di Indonesia

Deforestasi hutan tropis, kebakaran hutan, dan degradasi lahan gambut di Indonesia menjadi penyebab utama emisi gas rumah kaca dan hilangnya keanekaragaman hayati. Kelapa sawit (Elaeis guineensis) adalah salah satu komoditas pertanian yang paling populer dan menguntungkan yang dianggap telah mendorong terjadinya ekspansi perkebunan skala kecil maupun industri ke kawasan hutan dan lahan gambut. Meski bukan menjadi pendorong utama deforestasi, perkebunan kelapa sawit menjadi fase terakhir dan paling menguntungkan dari sistem tata kelola lahan yang mendorong degradasi dan konversi hutan alam, yang dimulai dengan konsesi hutan. Khusus untuk kawasan Asia Tenggara, budidaya kelapa sawit identik dengan deforestasi tropis dan menjadi sasaran berbagai kampanye lingkungan, termasuk seruan boikot dan upaya-upaya lain untuk mencegah penggunaannya. Terbebas dari deforestasi dan konflik sosial, minyak sawit yang diproduksi secara berkelanjutan telah menjadi keinginan dan harapan banyak konsumen, pembeli, dan pemerintah, yang diperkuat melalui janji rantai pasokan komoditas tanpa deforestasi. Jalur yang paling efektif untuk memastikan keberlanjutan minyak kelapa sawit, yang seharusnya memicu penurunan skala luas dalam laju deforestasi, tetap sulit dipahami.
Laporan ini mengevaluasi enam pendekatan berbeda yang telah diterapkan untuk mengubah produksi minyak sawit: (1) Sistem sertifikasi rantai pasokan swasta; (2) Sistem sertifikasi rantai pasokan pemerintah; (3) Komitmen perusahaan untuk tidak melakukan deforestasi; (4) Kebijakan dan peraturan pemerintah; (5) Produktivitas dan intensifikasi petani kecil; dan (6) pendekatan yurisdiksi terhadap sertifikasi.

Unduh Jurnal

Share on facebook
Share on twitter
Share on google
Share on email
Share on whatsapp