Margini: Jerih Payah dan Pencapaian Petani Sawit Perempuan

Ibu Margini

Margini, 47, adalah seorang transmigran yang kemudian menjadi pekebun sawit mandiri di Desa Pangkalan Tiga, Kecamatan Pangkalan Lada, Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah. Di desa itulah, Margini berkembang menjadi wanita yang ulet dan tangguh.

Sebelum menginjakkan kakinya di Pulau Borneo, Margini tadinya bekerja di sebuah pabrik tekstil di Boyolali, Jawa Tengah. Setelah tiga tahun bekerja di sana dengan gaji yang dirasa terlalu kecil, dia merasa tidak betah dan ingin merubah nasibnya dengan cara merantau ke Kalimantan lewat program transmigran.

Sekitar tahun 1995, Margini pergi ke Kalimantan Tengah dan menjadi salah satu pendatang di pemukiman transmigran paling awal di Desa Pangkalan Tiga. Ketika itu, desa tersebut masih dalam proses pembukaan lahan untuk perkebunan kelapa sawit. Pemukiman transmigran di sana masih sepi, belum ada listrik. Bangunan rumah-rumah masih terbuat dari kayu.

Di tahun-tahun awalnya, Margini sempat bekerja di koperasi daerah dan perusahaan kayu, sebelum akhirnya bertemu dan menikah dengan suaminya yang bekerja sebagai karyawan kontraktor.

Margini pelan-pelan mengumpulkan uang dari penghasilan suaminya untuk membeli tanah. Margini dan suaminya pun membangun rumah di Pangkalan Lada. Dan di sekitar daerah itu pula, Margini memiliki lahan tidur seluas setengah hektar yang dibeli dengan uang tabungannya saat dia masih lajang.

Margini yang dilarang bekerja setelah menikah sibuk mengurus suami dan anak-anaknya yang masih kecil.

Baru ketika anak-anaknya masuk SD, Margini mulai berkebun sawit di lahan tidur yang letaknya tidak jauh dari rumah. Di pagi hari, saat anak-anaknya sudah pergi ke sekolah, Margini membuka lahan yang masih dipenuhi semak belukar. Dia membersihkan lahan tersebut selama dua hingga tiga jam setiap hari.

Lalu, Margini memanggil dan mempekerjakan buruh tani untuk menanam sawit. Awalnya, Margini tidak mengerti tentang kelapa sawit, sehingga dia perlu belajar secara otodidak dan bertanya ke suaminya atau teman-temannya yang juga menanam kelapa sawit.

Pada tahun 2016, Yayasan Inobu melakukan sosialisasi dan pembinaan sertifikasi petani sawit di desa-desa perkebunan sawit di Kalimantan Tengah, termasuk Desa Pangkalan Tiga, yang menjadi desa percontohan untuk program sertifikasi.

Margini tertarik dengan program sertifikasi tersebut dan terlibat dalam berbagai macam pelatihan termasuk. Pembinaan yang dia terima pun membuahkan hasil yang nyata.

“Terlihat hasil panen kami menjadi lebih baik,” kata Margini.

Ibu Margini

Setelah terlibat dalam program sertifikasi, dia bisa mengakses pasar yang lebih transparan dan mulai menikmati pendapatan yang lebih tinggi karena dia tidak lagi menjual hasil panennya ke tengkulak. “Hasil panen saya sekarang ditimbang secara akurat dan hasil penjualan juga lebih tinggi.”

Pada tahun 2017, Desa Pangkalan Tiga berhasil mensertifikasi seluruh petani swadaya kelapa sawit. Program sertifikasi di desa ini hanya memakan waktu 1,5 tahun saja, salah satu yang tercepat dibandingkan dengan program sertifikasi lainnya.

Yang menarik adalah Desa Pangkalan Tiga tidak hanya berhasil memberdayakan petani sawit di sana namun juga berhasil melakukan diversifikasi usaha. Contohnya saja koperasi unit desa. Keuntungan finansial dari program sertifikasi digunakan untuk mempercepat perkembangan koperasi di sana — bernama KUD Tani Subur — dan kini koperasi tersebut mampu menawarkan pinjaman sejumlah Rp 2 miliar serta sarana dan prasaran untuk ternak, ikan, dan unggas.

Selain itu, desa ini juga memiliki supermarket bertingkat dua dan berhasil mengembangkan pusat agrowisata di tengah perkebunan kelapa sawit, yakni tempat pemancingan dan taman rekreasi air untuk keluarga.

Margini sendiri pernah merasakan keuntungan dari model usaha yang beragam dan berkelanjutan ini.

Margini, yang baru saja memulai usaha toko sembako kecil-kecilan di rumahnya pada bulan Februari tahun ini, harus mengalami kekurangan pendapatan akibat pandemi.

“Pas saya buka toko, pas dengan dimulainya pandemi,” kata Margini.

Pendapatan suaminya berkurang karena jam kerja yang dipotong, dan daya beli masyarakat setempat pun melemah. Untungnya, bisnis agrowisata ini masih bisa menarik wisatawan dari daerah lain. Salah temannya yang berjualan di area agrowisata membeli bahan sembako dari tokonya.

“Lumayan ada tambahan walaupun tidak terlalu besar,” kata Margini.

Dalam beberapa bulan terakhir, wisata sudah mulai ramai, namun wisatawan membawa makanan mereka sendiri. Hanya segelintir orang saja yang membeli makanan dari penjual-penjual di sana.

Margini tahu bahwa dia harus mendapatkan sumber pendapat lebih selain dari suaminya. Suatu hari suaminya akan menua dan berhenti bekerja sebagai karyawan kontraktor. Dengan modal sertifikasi dan bisnis desa yang beragam, Margini dan suaminya bisa tetap mencari nafkah bagi kedua anaknya yang sebentar lagi akan berkuliah.

“Saat suami saya sudah tua, dia akan berhenti bekerja dan berarti kami sudah nggak ada penghasilan lagi,” ujar Margini. “Maka itu, nanti kami akan fokus ke kebun untuk merawat sawit. Di waktu luang saya, saya juga menanam pisang sama singkong.”

Share on facebook
Share on twitter
Share on google
Share on email
Share on whatsapp