Turdin: Mencari Jalan Keluar bagi Peladang Tradisional di Kalimantan

Setelah pemerintah mengeluarkan larangan membakar lahan di hutan, Turdin yang dulunya berladang dengan sistem tebas bakar sekarang beralih ke pekerjaan alternatif, seperti ternak lebah dan menanam singkong dan tebu, untuk menafkahi keluarganya di Desa Kubu, Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah. Namun, tidak semua warga di desanya seberuntung Furdin. Banyak orang tua kini bingung bagaimana mereka bisa menyekolahkan anak-anak mereka dengan pendapatan yang berkurang.

Di usianya yang sudah memasuki 54 tahun, Turdin masih memiliki banyak tenaga untuk melakukan berbagai aktivitas di kesehariannya. Dia mengurus ladang singkong dan tebu, berternak lebah, dan menjaga warung makan yang terletak di rumahnya di Desa Kubu, Kumai, Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah.

Sebelumnya, Turdin adalah seorang peladang tradisional yang berladang dengan sistem tebas-bakar. Tradisi ini sudah diadopsi oleh masyarakat Kalimantan sejak turun-temurun. Namun, tradisi tersebut harus segera dihentikan saat pemerintah mengeluarkan larangan membakar lahan di hutan setelah kebakaran hutan dan lahan besar pada tahun 2015

Tradisi tebas-bakar ini sebetulnya bukanlah praktik yang dilakukan secara asal-asalan, Turdin menjelaskan. Peladang yang ingin membuka lahan perlu membersihkan semak belukar di sekeliling lahan yang ingin dibuka, kira-kira selebar satu meter, lalu kemudian membasahi tanah tersebut dengan air. Hal ini bertujuan untuk mencegah api menyebar ke lahan di sekitar mereka.

“Ini adalah yang sudah kami praktiknya dari dulu, oleh kakek dan ayah saya,” jelas Turdin. “Tidak pernah terjadi kebakaran jika dilakukan secara benar oleh peladang yang bertanggungjawab.”

Meskipun demikian, para peladang tradisional di Desa Kubu tetap patuh dan segera berhenti mempraktikkan tradisi mereka karena takut akan hukuman yang berlaku.

Di minggu-minggu awal saat larangan pembakaran mulai berlaku, ada warga yang kaget dalam beradapasi. Turdin sempat memberikan panen singkong dari kebunnya untuk tetangganya yang berkekurangan selama satu atau dua hari. “Mereka belum ada persiapan untuk mencari pekerjaan lain,” jelasnya.

Banyak warga akhirnya menemui kesulitan untuk menafkahi keluarga mereka, terutama untuk pendidikan anaknya. Lebih lagi, kebanyakan orang tua di sana memiliki banyak tanggungan. Rata-rata setiap keluarga di sana memiliki lebih dari empat orang anak.

Turdin termasuk salah satu yang beruntung. Walaupun memiliki sepuluh anak, dia masih mampu membiayai keluarganya. Turdin dan keluarganya mengolah hasil panen lain dan memulai beragam usaha di luar pertanian, seperti ternak lebah dan membuka warung makan. Tetapi banyak warga yang masih bingung cara untuk memiliki pendapatan yang cukup setelah mereka harus melepas praktik tebas-bakar ini. Mereka belum memiliki pengetahuan atau keterampilan lain yang memadai.

“Kami tidak pernah berladang tanpa membakar,” ujar Turdin. “Dan hingga sekarang, belum ada bantuan dari pemerintah untuk membantu kami walaupun para peladang sudah berhenti membakar lahan.”

Kurangnya pengetahuan dan keterampilan meninggalkan warga Desa Kubu dengan sedikit pilihan untuk mencari pendapatan, seperti mencari ikan di sungai di desa mereka atau berkebun sayur-mayur secara kecil-kecilan di lahan yang masih belum ditumbuhi ilalang. Sayangnya, kesempatan ini masih belum bisa dimaksimalkan oleh warga setempat. Misalnya, warga yang ingin menjadi masih perlu membuat jaring namun mereka belum tentu memiliki peralatan dan keterampilan yang cukup.

“Dan sekarang warga sudah mulai mengeluh bahwa rumput-rumput sudah mulai tumbuh di ladang mereka,” ujar Turdin.

Warga Desa Kubu sebenarnya ingin memulai usaha pertanian yang menguntungkan, seperti padi. Hanya saja, lahan di sana masih belum rata sehingga tidak bisa diubah menjadi persawahan. Warga di sana tengah memperjuangkan untuk mendapatkan bantuan alat berat dari pemerintah untuk meratakan tanah di sana supaya mereka bisa segera menjalankan budidaya padi.

Selain itu, masyarakat desa berencana untuk melaksanakan diversifikasi pangan dengan memperbanyak varian tanaman produktif di hutan mereka. Rencananya warga akan menanam kopi, terong, jengkol, dan buah-buahan, seperti nanas dan alpukat. Program diversifikasi pangan ini sejalan dengan rencana jangka panjang masyarakat desa untuk beralih dari pertanian tradisional, yakni sitem tebas bakar, menuju ke permakultur.

Petani di Desa Kubu merupakan petani dampingan Yayasan Inobu dan Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN). Rencananya, Desa Kubu akan pelan-pelan beralih menuju sistem pertanian sawah lalu kemudian menjadi desa ekowisata, yang menjadikan panorama sawah berundak atau terasering sebagai objek wisata.

“Harapannya pembagunan desa ekowisata ini bisa dirasakan dan dinikmati oleh anak dan cucu nanti,” ujar Turdin.

“Harapannya pembagunan desa ekowisata ini bisa dirasakan dan dinikmati oleh anak dan cucu nanti,” ujar Turdin.

“Pemerintah seharusnya memberikan persiapan kepada kami, dalam bentuk pelatihan,” kata Turdin.

Share on facebook
Share on twitter
Share on google
Share on email
Share on whatsapp