Hendriyono: Potret Kegigihan dan Optimisme

Pak Hendriyono

Hendriyono, seorang transmigran yang menjadi petani kelapa sawit swadaya di Desa Suka Maju, Kabupaten Seruyan, Provinsi Kalimantan Tengah. Lewat program pelatihan dan sertifikasi, Hendriyono belajar cara mengelola perkebunan kelapa sawit secara berkelanjutan, yang pada akhirnya meminimalkan dampak negatif dari kelapa sawit terhadap lingkungan dan sosial.

Hendriyono, 49, lahir dan besar di Kabupaten Barito Selatan, Provinsi Kalimantan Tengah, dari suku Dayak Dusun Maanyan. Dia pindah ke Kabupaten Seruyan sebagai seorang transmigran saat masih muda.

Melalui program transmigrasi, pemerintah mencoba mengembangkan perekonomian daerah pedalaman, seperti Lampung dan Kalimantan. Hendriyono, yang kala itu masih berusia sekitar 25 tahun dan lajang, tertarik untuk mendaftar program pemerintah tersebut, menantang diri untuk merantau dan memulai hidup baru di Desa Suka Maju di Kabupaten Seruyan yang berjarak sekitar 300 km dari kampung halamannya. Lokasi desa itu cukup terpencil. Dari pusat kabupaten butuh waktu 8 jam perjalanan, baik lewat jalur darat atau jalur sungai untuk tiba di desa tersebut.

Di komunitas transmigrasi itu, Hendriyono harus memulai hidupnya dari awal. Dan di sana pula, dia menikah dengan Ranisi, anak perempuan dari pasangan keluarga transmigran. Sekarang, Ia telah memiliki tiga orang anak.

Sementara itu, ada juga transmigran di desanya yang tidak betah hidup di sana karena orang transmigran kerap kali dianggap orang tidak mampu. Akhirnya banyak yang memilih kembali ke kampung halaman mereka karena malu. Namun, Hendriyono tetap bertekad untuk menjadi perantau yang berhasil. “Mungkin yang tetap tinggal di sini hanya sekitar 40 persen,” ujar Hendriyono. “Kalau saya sadar, namanya merantau itu memang untuk mengubah nasib.”

Sejak awal tinggal di Desa Suka Maju pada tahun 1995, Hendriyono selalu bekerja di bidang perkebunan kelapa sawit. Pekerjaan pertamanya adalah memetakan tanah dan membuat blok untuk proyek pembukaan lahan perkebunan kelapa sawit. Kemudian, dia pindah ke perusahaan sawit dan bekerja sebagai penimbang buah.

Sejak tahun 2015, Hendriyono tidak lagi bekerja untuk perusahaan kelapa sawit dan fokus menjadi petani swadaya penuh waktu.

Di Kabupaten Seruyan sendiri, kelapa sawit memang menjadi komoditas utama dengan produksi kelapa sawit yang tinggi dan jumlah perusahaan perkebunan kelapa sawit yang tinggi.

Petani-petani di Kabupaten Seruyan juga telah mendapatkan pelatihan dan pembinaan tentang kelapa sawit berkelanjutan dari organisasi nirlaba, Yayasan Inobu dan didukung oleh Unilever. Hendriyono menyadari bahwa sebagai petani swadaya dia perlu untuk terus belajar dan menambah wawasan mengenai legalitas lahan dan kelapa sawit berkelanjutan.

“Penting untuk mengetahui soal keberlanjutan supaya kita juga tahu cara menjaga lingkungan di sekitar kita,” ujar Hendriyono, yang dipercaya menjadi manajer kelompok di daerahnya yang beranggotakan lebih dari 170 petani.

Kebun kelapa sawit milik Pak Hendriyono

Banyak hal yang dipelajari oleh Hendriyono dan petani setempat dari pelatihan-pelatihan tersebut. Contohnya, setelah paham bahwa bahan-bahan kimia perkebunan bisa merusak sumber air, petani lokal di sana mengubah cara berkebun mereka. Petani tidak lagi menanam kelapa sawit di sempadan sungai karena bahan kimia perkebunan dapat mencemari sungai. Petani yang sudah terlanjur menanam pohon sawit di sempadan sungai berhenti menggunakan pupuk atau pembasmi hama yang mengandung bahan-bahan berbahaya. Petani-petani dianjurkan untuk membasmi hama dengan cara manual saja, seperti menebas atau menggaruk piringan.

“Di sini, saat musim hujan sumur warga penuh, namun saat musim kemarau kami harus pergi untuk mendapatkan air dari mata air,” ujar Hendriyono. “Kami perlu menjaga sumber air kami.”

Lewat pelatihan mengenai Nilai Konservasi Tinggi (NKT), petani juga diajarkan tentang bahaya dari praktik pembakaran lahan serta binatang-binatang yang harus dilindungi, seperti macan akar dan ular piton.

Selain itu, Hendriyono mendapatkan pelatihan teknis tentang cara memanen dan memilih buah sawit yang matang. Kualitas dan kematangan buah sawit ini akan mempengaruhi harga TBS, artinya pendapatan petani bisa bertambah jika mereka tahu cara memanen yang benar. Hendriyono dan petani lain di sana juga mendapat pelatihan mengenai keselamatan dan kesehatan kerja.

Program pendampingan ini mencoba membantu petani sawit swadaya seperti Hendriyono untuk mendapatkan sertifikat minyak sawit berkelanjutan dari Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) yang bertujuan untuk mengenalkan praktik mengelola kelapa sawit yang ramah lingkungan serta memberikan dana tambahan bagi para petani swadaya. Tahun lalu, Desa Suka Maju menerima kredit sertifikasi minyak sawit berkelanjutan senilai sekitar Rp 400 juta untuk dikelola dan dibagikan kepada petani bersertifikat RSPO di desa tersebut.

Share on facebook
Share on twitter
Share on google
Share on email
Share on whatsapp