Kisah inspiratif: Pak Heremba, petani pala dari Kabupaten Fakfak, Papua Barat

Mohammad Heremba adalah seorang petani pala Papua (Myristica argentea) yang karismatik dan penuh humor yang berasal dari Desa Pang Wadar. Desa Pang Wadar terletak satu jam perjalanan dari ibu kota kabupaten di Kabupaten Fakfak. Kabupaten Fakfak sendiri dapat dicapai setelah tujuh jam penerbangan dari Jakarta, ibu kota Indonesia. Selama beberapa generasi, keluarga Pak Heremba hidup dari memanen pala liar. Pala liar tersebut kemungkinan besar ditanam oleh kakek buyutnya dan sekarang Pak Heremba dapat menuai manfaatnya.

Mr. Haremba

Pada tahun 2016, lembaga non-pemerintah lokal, AKAPe, bersama dengan Inobu, datang ke desa Pak Heremba dan membantu memetakan kebun pala miliknya. Untuk pertama kali dalam hidupnya, Pak Heremba mengetahui berapa luas tanah yang dia miliki. “Saya sekarang tahu bahwa tanah saya 2,5 hektar. Jika orang bertanya bagaimana saya mengetahuinya, saya akan memberi tahu mereka bahwa saya memetakan tanah saya sendiri dibantu AKAPe dan Inobu,” kata Pak Heremba seraya tersenyum bangga. “Semua petani sangat gembira dan bersyukur bahwa tanah mereka dipetakan untuk pertama kalinya. Kami sekarang tahu tidak hanya luas total yang kami miliki tetapi juga jumlah pohon di kebun pala kami – jumlah pohon dan usianya yang berbeda pula!”

Mr. Haremba in his village

Dua musim panen dalam setahun adalah saat-saat yang dinantikan oleh Pak Heremba dan keluarganya. Selama panen terakhir, Pak Heremba mengumpulkan sekitar sepuluh orang – tujuh dewasa dan tiga anak-anak – untuk pergi bersamanya memanen pala di kebunnya yang luasnya 2,5 hektar. Butuh tiga hari baginya untuk memanen pala di kebunnya. Setiap hari, ia dan keluarganya pulang untuk membawa buah pala. Mereka duduk memisahkan fuli dan biji dari daging buah pala hingga larut malam. Segera setelah itu, Pak Heremba menjual sebagian hasil panennya. Sebagian lainnya dikeringkan selama sekitar 14 hari, pala kering ini dianggap sebagai tabungannya pada saat dibutuhkan.

Sama seperti petani lainnya, Pak Heremba membutuhkan uang tunai untuk membiayai panen. Ia harus membayar makanan dan bahan bakar untuk membawa anggota keluarganya ke kebun pala di hutan. Ia juga harus memberikan kompensasi untuk keluarganya yang telah menghabiskan waktunya membantu Pak Heremba memanen pala. Petani yang tidak memiliki uang tunai biasanya akan meminjam dari pedagang atau rentenir. Akibatnya, mereka harus segera menjual hasil panen daripada mengeringkannya, padahal pala kering memiliki nilai yang lebih tinggi.

Mapping nutmeg forest gardens

Di musim panen yang akan datang, Pak Heremba ingin menerapkan pelajaran yang baru saja didapatnya. Untuk pertama kalinya, dia mendengar tentang aflatoksin, jamur yang hidup di tanah dan dapat mencemari hasil panen pala miliknya. Dia dan kelompok tani yang baru dibentuk di desa Pang Wadar bertekad untuk menerapkan teknik panen yang benar untuk memastikan kualitas produk yang tinggi. Harapan mereka adalah akses yang lebih baik ke pasar pala.

Harvesting nutmeg

Beberapa minggu yang lalu, saya mendapat kesempatan istimewa untuk bertemu dengan Pak Heremba. Inobu memfasilitasi serangkaian pertemuan antara kelompok tani dari Fakfak dan pembeli potensial. Pada kesempatan tersebut, Pak Heremba baru mengetahui kalau ada banyak spesies pala di Indonesia. Pala Papua, yang juga dikenal sebagai pala Tomandin, dianggap memiliki kualitas yang lebih rendah dibandingkan dengan pala Banda (Myristica fragrans). Hal ini dikarenakan tidak adanya standar khusus untuk pala Tomandin saat ini. Standar internasional untuk pala dan turunannya mengacu pada pala Banda. Oleh karena itu, pala Tomandin tidak akan pernah dapat memenuhi standar tersebut karena memang spesiesnya berbeda. Kami memberi tahu Pak Heremba tentang upaya Inobu untuk meyakinkan Kementerian Pertanian agar menciptakan standar khusus untuk pala Tomandin sehingga produknya akan lebih dihargai di pasar.

Pertemuan dengan pembeli juga mengingatkan Pak Heremba pada pelajaran yang diperolehnya selama sesi pelatihan di desa tentang proses penilaian untuk pala. Dia mengerti bahwa pembeli akan membayar berdasarkan kualitas produk pala. Dalam pertemuan tersebut, dia memberi tahu kami bahwa pernah ada eksportir di Fakfak yang memasok produk langsung ke Singapura. Apa yang dilakukan eksportir tersebut adalah menilai pala secara berulang. Pada saat itu, dia tidak tahu mengapa itu diperlukan, dan tidak ada yang memberinya informasi tentang hal itu. Sekarang dia menyadari pentingnya menilai pala.

Ketika saya mengamati interaksi antara petani dan pembeli, saya merasa kagum. Saya menyaksikan sendiri bagaimana petani menjelaskan upaya mereka untuk mengubah praktik mereka agar memenuhi standar pembeli. Petani dapat mengartikulasikan dengan jelas perubahan apa yang diperlukan dan dukungan apa yang dibutuhkan. Petani membutuhkan mesin pengering kolektif untuk memastikan kualitas produk yang konsisten. Petani juga percaya bahwa menjual produk secara berkelompok akan meningkatkan daya tawar mereka dalam bernegosiasi dengan pembeli. Akana tetapi, petani juga membutuhkan dukungan keuangan untuk membayar biaya panen dan pascapanen sehingga mereka dapat memperoleh manfaat dari nilai tambah hasil panen mereka.

Mr. Heremba in the farmer-buyer discussion

Saya duduk bersama Pak Heremba sesaat sebelum dia meninggalkan Jakarta dan bertanya tentang kesannya tentang program kami di desanya. “Apa yang berbeda?” Dia menjawab,“prosesnya. Anda pertama kali datang ke desa untuk memetakan tanah saya, Anda kemudian kembali untuk bertanya kepada kami tentang bagaimana saya memanen dan mengeringkan pala, setelah itu Anda kembali untuk mengajari kami bagaimana kami harus memanen pala kami untuk memastikan kualitas yang baik, dan dalam beberapa hari terakhir, kami bertemu dengan pembeli dan pemerintah membicarakan pasar dan potensi pala. Semua menjadi jelas bagi saya setelah melalui proses panjang itu.”

Share on facebook
Share on twitter
Share on google
Share on email
Share on whatsapp