Pembangunan tanpa deforestasi: Jalur alternatif bagi petani Indonesia?

Kebun agroforestri di Sulawesi Tenggara, Indonesia

Meskipun dalam beberapa dekade terakhir Indonesia diidentikkan dengan penggundulan hutan tropis, namun masih tersedia model alternatif pembangunan pedesaan yang melindungi keanekaragaman hayati sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat Indonesia. Sistem agroforestri yang beragam, yang secara tradisional mendominasi pertanian Indonesia selama ratusan hingga ribuan tahun, dapat menjadi fondasi untuk melestarikan keanekaragaman hayati sambil memulihkan lanskap yang terdegradasi. Untuk itu, petani dan masyarakat adat memerlukan insentif agar mempertahankan dan memperluas sistem budidaya pertanian yang beragam ini antara lain melalui akses pasar dan harga komoditas yang lebih baik. Inobu berkeinginan agar masyarakat petani pala di Kabupaten Fakfak dapat mengakses pasar premium sebagai insentif bagi sistem pertanian mereka saat ini.

Ladang berpindah sebagai bagian dari sistem agroforestri di Sulawesi Tenggara, Indonesia

 

Indonesian farmers, throughout history, have relied on diverse farming systems for the livelihoods and lives. The forest gardens or kebun have typically encompassed complex and biologically diverse systems of forests, swidden fallows, and mixtures of subsistence crops and cash crops, such as spices and rubber. These smallholders, especially indigenous farmers, and their farming systems, protect biodiversity, sequester carbon and provide other ecosystem services such as regulating water.

In recent decades, however, the Indonesian archipelago, stretching across multiple bio-geographic regions, has experienced massive transformations. Driven by industrial-scale land uses, supported by government policies, biologically diverse landscapes have been degraded and transformed into expanses of monocultures of forest and plantation commodities.

Rural communities have been presented with few alternative pathways for farming. In many instances, farmers have lost their lands through land grabbing or forced acquisitions through government schemes. Other farmers have chosen to participate formally in plantation schemes. Those that have chosen to remain independent have either continued traditional farming systems, or converted part or all of their lands to monocultures, such as oil palm.

The ecological and economic limits of this transition are beginning to emerge. In parts of Indonesia, plantations have caused catastrophic floods. Degradation has driven further degradation, as exposed peatland and degraded forests have burned during prolonged droughts and dry spells. In response, strict bans on burning in other places has meant that farmers have had to convert to monocultures, continue to farm illegally or face hardship.

Turunnya permintaan dan harga minyak kelapa sawit mengakibatkan banyak petani kecil kehilangan pendapatan yang memengaruhi kesejahteraan keluarga mereka.

Apakah jalur alternatif itu memungkinkan untuk petani Indonesia?

Historically, the Indonesian policy and regulatory framework has focused on supporting farmers through schemes with companies. The institutional infrastructure for supporting independent smallholders in Indonesia to farm productively and sustainably is largely missing. Independent farmers have limited or no formal access to land and resources, limited access to training, technical knowledge, inputs and technology either through government or private sector.

Model pembangunan yang baru diperlukan untuk memberikan kesempatan kepada para petani mempertahankan sistem kebun hutan mereka yang beragam dan memformalkan hak-hak mereka atas tanah dan sumber daya sambil meningkatkan keuntungan dari hasil pertanian bagi masyarakat pedesaan.

Agroforestri pala di Fakfak, Papua Barat

 

Di Papua Barat, Inobu bekerja sama dengan lembaga adat setempat, AKAPe dan pemerintahan daerah, berupaya mencari model pengembangan produksi pala Papua yang bermanfaat bagi masyarakat lokal dan melindungi hutan di Kabupaten Fakfak. Tantangan yang dihadapi para petani pala di Papua Barat adalah tantangan yang sama yang dihadapi petani-petani di seluruh Indonesia, meskipun peluang tetap ada. Keberadaan instrumen kebijakan dan peraturan baru yang mengakui hak-hak masyarakat adat, instrumen keuangan, dan peningkatan permintaan untuk produk yang dihasilkan secara berkelanjutan, menunjukkan bahwa model yang layak masih mudah dijangkau. Permintaan untuk produk yang dihasilkan secara berkelanjutan dan inklusif, baik di Indonesia maupun pasar global, sudah mulai berkembang. Namun, petani dan masyarakat lokal membutuhkan bantuan untuk meningkatkan kualitas dan volume produk mereka agar dapat memenuhi permintaan tersebut, serta dukungan untuk memproses produk mentah menjadi produk bernilai tinggi agar dapat dijual kepada konsumen.

As part of the agroforestry system in Fakfak, 
subsistence crops are grown in areas adjacent to nutmeg forests and forest ecosystems

 

Tantangan yang sedang berlangsung di Papua Barat, dan lebih luas lagi di Indonesia, adalah bagaimana membuat instrumen ini dapat dilaksanakan di lapangan untuk kelestarian alam dan kesejahteraan masyarakat. Pelajaran yang dapat dipetik dari inisiatif percontohan ini adalah membantu memberikan informasi kepada pemerintah tentang cara memperbaiki kebijakan dan peraturan lingkungan untuk mendukung petani swadaya dan masyarakat adat agar dapat bertani secara berkelanjutan dan produktif.