Hybrid Engineering: Pemecah Ombak Laut Berbasis Ramah Lingkungan untuk Mendukung Keberlanjutan Wilayah Pesisir

Gambar 1. Kenampakan Citra Landsat pesisir Kota Semarang dan Kabupaten Demak (Sumber: Sriyana et al, 2020)

Derasnya gelombang laut akibat perubahan pola angin dan krisis iklim berpotensi merusak ekosistem mangrove dan pertambakan di wilayah pesisir. Pemecah ombak tembus air berbahan dasar bambu dan kayu, atau hybrid engineering, bisa menjadi salah satu solusi untuk masalah ini.

Perubahan iklim merupakan salah satu faktor pemicu meningkatnya kenaikan permukaan laut dan perubahan pola angin, yang juga mempengaruhi kondisi gelombang laut. Wilayah yang paling terdampak adalah wilayah pesisir.

Terjangan ombak laut yang besar dapat menyebabkan abrasi pantai, mengancam kehidupan masyarakat setempat terutama jika mereka memiliki tambak dan area restorasi mangrove. Strategi pengendalian abrasi perlu dilakukan untuk menghalau ombak laut dari tambak dan area penanaman mangrove.

Salah satu bentuk perlindungan wilayah pesisir yang struktural adalah membangun alat pemecah ombak, yang bertujuan untuk mengurangi energi gelombang, menahan sedimentasi, dan mendukung pelaksanaan restorasi mangrove.

Kondisi pantai dan tanah dasar pantai yang dilindungi akan menentukan tipe alat pemecah ombak yang sebaiknya dibangun. Beberapa jenisnya, yakni: 1) box-beton (tetrapod), 2) paralon yang berisi pasir dan di kelilingi ban, serta 3) tumpukan kayu bekas yang diikat.

Salah satu tipe yang dianggap paling ramah lingkungan adalah tipe Hybrid Engineering (HE). HE dikembangkan oleh Deltares, sebuah lembaga independen di Belanda, dan pertama kali diterapkan di Pesisir Demak oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan pada tahun 2013. Keunggulan HE ini adalah lebih mampu melindungi tanaman mangrove yang ada di belakangnya, mencegah abrasi sekaligus dapat menambah sedimentasi tanah. HE merupakan gabungan dari bambu yang disusun berderet kemudian diikat kuat dan diisi oleh kayu dan ranting-ranting kayu bekas Bahan yang digunakan relatif murah dan mudah ditemukan sehingga sangat mungkin untuk diaplikasikan di berbagai daerah.

Tidak seperti alat pemecah ombak berbahan beton yang memantulkan seluruh gelombang laut, ombak dapat melalui bangunan pemecah ombak HE sehingga sehingga sedimen dapat terperangkap di dalamnya.

Gambar 2. Pemasangan Hybrid Engineering (Sumber: Kementerian Kelautan dan Perikanan, 2018)

HE telah diterapkan di beberapa daerah seperti di Kota Semarang dan Kabupaten Demak yang dikenal sebagai daerah rawan abrasi pantai. Penggerusan tanah tersebut menyebabkan berkurangnya luas daratan dan produktivitas penggunaan lahan, khususnya pertambakan dan habitat mangrove.

Untuk menanggulangi masalah tersebut, masyarakat membangun HE yang juga didukung oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan, Pemerintah Kota Semarang, Pemerintah Kabupaten Demak dan lembaga terkait. Hasil monitoring dari pemanfaatan HE menunjukkan bahwa alat pemecah ombak tersebut tetap awet menjadi pelindung wilayah pesisir pantai untuk mencapai keberlanjutan ekosistem mangrove dan pertambakan serta mempertahankan garis pantai. Selain itu, masyarakat dapat merasa aman dan tenang dalam mengelola tambak dan ekosistem mangrove dapat tumbuh dengan baik dan terlindungi.

HE berpotensi untuk diterapkan di Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah. HE akan dijadikan sebagai percontohan model restorasi mangrove berbasis masyarakat, suatu inisiatif yang didukung oleh Yayasan Inobu dan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Seruyan.

Pantai di Kabupaten Seruyan, yang terletak di bagian selatan Pulau Kalimantan, rawan mengalami erosi akibat ombak dari Laut Jawa yang cukup deras. Ini berisiko menghambat perkembangan bibit mangrove yang masih muda dan rentan rusak. Pemasangan HE dengan material ramah lingkungan ini menjadi salah satu solusi untuk melindungi bibit mangrove di belakangnya dari terjangan ombak dan mempertahankan sedimentasi di area restorasi mangrove sehingga bibit mangrove dapat tumbuh dengan baik.

Referensi:

[1] A. Gijon Mancheno, W. Jansen, W.S.J. Uijttewaal, A.J.H.M. Reniers, A.A. van Rooijen, T. Suzuki, V. Etminan, J.C. Winterwerp. 2021. Wave transmission and drag coefficients through dense cylinder arrays: Implications for designing structures for mangrove restoration. Ecological engineering 165. https://doi.org/10.1016/j.ecoleng.2021.106231

[2] Gemilang, W.A., Wisha, U.J., Ondara, K., and Dhiauddin, R. 2018. Hybrid engineering effectivity evaluation according to the changes in mangrove area and sedimentary rate in the eroded area of Sayung Regency, Demak, Central Java. IOP Conf. Series: Earth and Environmental Science 216 (2018) 012040. doi :10.1088/1755–1315/216/1/012040.

[3] Hartati, R., Pribadi, R., Astuti, R.W., Yesiana, R., dan Yuni H, I. 2016. Kajian Pengamanan Dan Perlindungan Pantai Di Wilayah Pesisir Kecamatan Tugu Dan Genuk, Kota Semarang. Jurnal Kelautan Tropis. Vol. 19(2):95–100.

[4] Muhari, A., Siry, H.Y., Nurhabni, F., Afriyanto, B., David, Latief, Y., Sarifah, Ayunda, D., Purba, B.C., Murtihari, I.S., Wibisono, E., Setianto, A., Wibowo, A.S., Chandra, Dinata, O., dan Budiman. 2018. Struktur Hybrid Engineering: Solusi Rekayasa Berbasis Ekosistem untuk Restorasi Kawasan Pesisir. Kementerian Kelautan dan Perikanan.

[5] Sriyana, I., Niyomukiza, J.B., Sangkawati, S., and Parahyangsari, S.K. 2020. Determination of the original coastline on Semarang city and Demak district using remote sensing approach. E3S Web of Conferences 202. https://doi.org/10.1051/e3sconf/202020204001.

[6] Undang-Undang №27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil.

[7] Yesiana, R., Hidayati, I.Y., Wicaksosno, G. 2016. Penguatan Ekosistem Pesisir: Monitoring dan Pembelajaran Pembangunan Alat Pemecah Ombak (APO) di Kota Semarang. Jurnal Wilayah dan Lingkungan. Vol 4. No 3. Hal 199–212.

[8] Yulistiyanto, B. 2009. Mangrove dengan Alat Pemecah Ombak (APO) sebagai perlindungan garis pantai. Paper presented at Seminar Nasional Manajemen Sumberdaya Air Partisipatif Guna Mengantisipasi Dampak Perubahan Iklim Global. Universitas Islam Indonesia. Yogyakarta.