Hidup Ramah Lingkungan, Sekedar Tren dan Habiskan Lebih Banyak Uang?

Jika kita mengecek riwayat belanja di aplikasi e-commerce selama pandemi, sudah berapa banyak barang yang kita pesan? Berapa kali dalam seminggu kita mendengar kurir pengantar berteriak “Pakeeet” di depan gerbang? Lalu, ada berapa banyak barang yang akhirnya menjadi ‘sampah’ baik yang sudah dibuang atau pun yang masih mengendap di rumah?

Pertanyaan-pertanyaan ini bisa membantu kita melihat bahwa kecanduan terhadap belanja online meninggalkan jejak karbon yang membahayakan lingkungan.

Hasil penelitian Sirclo dalam Navigating Indonesia’s E-Commerce: COVID-19 Impact and The Rise of Social Commerce menunjukkan adanya peningkatan belanja online hingga 91% semasa pandemi, dalam kurun waktu kurang dari satu tahun. Pembatasan aktivitas menjadi salah satu alasan masyarakat untuk memilih berbelanja di platform digital dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Namun, tren belanja online ini menimbulkan permasalahan lingkungan yang serius di bumi pertiwi: sampah plastik.

Sejak tahun 2018, Indonesia tercatat sebagai negara penyumbang sampah plastik di laut terbesar kedua di dunia. Dari data Sustainable Waste Indonesia setidaknya ada 64 juta ton sampah per tahun yang dihasilkan oleh Indonesia — 3,2 juta ton per tahun masuk ke laut dengan dominasi sampah rumah tangga.

Dan sejak 2019 lalu, beberapa wilayah besar di Indonesia telah menetapkan larangan plastik sekali pakai, seperti kantong plastik, sedotan plastik, dan wadah styrofoam.

Kampanye bergaya anak muda

Kampanye diet plastik, yang seringkali diiringi dengan tips praktis seperti menyiapkan tas belanja sendiri atau membawa botol minum saat pergi makan siang, mendapat sambutan baik dari masyarakat yang peduli dengan lingkungan, terutama generasi anak muda.

Namun, gaya hidup minim plastik ini juga mendapat kritikan bahwa ini hanya sekadar tren yang tidak mampu mengatasi permasalahan darurat seperti polusi plastik dan bentuk “ge-gaya-an” anak muda yang mudah surut.

Pada kenyataannya, tidak ada yang salah dengan tren membumikan bumi. Jika akhirnya gaya hidup minim plastik bisa mengenalkan isu polusi plastik ke masyarakat luas dan membiasakan masyarakat untuk mengadopsi gaya hidup ramah lingkungan, maka kita pun akan panen manfaatnya dalam jangka panjang.

Langkah kecil dan sederhana seperti membawa sedotan ramah lingkungan perlu tetap digaungkan agar bisa menggiring lebih banyak masyarakat untuk peka terhadap isu lingkungan lainnya.

Ramah lingkungan, tapi tak ramah di kantong

Gerakan ramah lingkungan telah menjadi sangat populer. Tak heran jika tren kekinian ini dimanfaatkan oleh perusahaan kapitalis untuk menjual produk-produk eco-friendly dengan harga yang lumayan tinggi. Tren hidup ramah lingkungan ini dirasa mahal bagi mereka yang memiliki isi kantong pas-pasan, dan ini dapat menciutkan para pemula untuk meneruskan langkah merawat bumi.

Tentu saja, mahalnya produk eco-friendly tidak perlu menjadi alasan untuk berhenti mengambil aksi untuk Bumi. Produk yang berlabel ramah lingkungan memang lebih mahal karena bahan dan proses produksinya tidak mencemari lingkungan.

Isu label mahal ini memaksa kita untuk berefleksi: apakah kita memang harus melanjutkan sifat konsumtif kita? Atau perlukah kita menggaungkan kampanye hidup ramah lingkungan untuk mendorong produsen agar memberikan produk-produk ramah lingkungan dengan harga yang lebih terjangkau?

Hal tersebut, tentu saja, akan menjadi suatu perjalanan yang panjang dan lama. Sementara itu, kita bisa mulai dari hal-hal kecil di hidup kita.

Contohnya saja saat pergi berbelanja. Kita bisa mencoba untuk lebih selektif saat berbelanja dan selalu bertanya kepada diri kita sendiri apakah kita benar-benar memerlukan barang tersebut.

Banyak cara yang bisa dilakukan untuk memulai hidup ramah lingkungan: memilih produk yang diproduksi secara berkelanjutan, mengganti produk berbahan plastik sekali pakai, dan belajar untuk lebih sadar atas barang yang kita beli atau konsumsi.

Jika bukan kita yang memulai dengan langkah-langkah kecil ini, lalu bumi seperti apakah yang akan kita wariskan ke anak cucu kita nanti? Mu’azzatul Faridah

Sumber:

https://swa.co.id/swa/trends/ini-tren-belanja-e-commerce-selama-pandemi

https://www.greenmatch.co.uk/blog/2015/12/overcoming-the-challenges-of-sustainable-living

https://www.wealthsimple.com/en-ca/magazine/environmentalist-consumer-concerns

https://femaledaily.com/blog/2020/04/16/sulitnya-menerapkan-sustainable-lifestyle-di-indonesia/