Cerita Dari Lapangan: Diskusi Bersama Petani Swadaya Seruyan

Penulis melakukan wawancara dengan salah satu petani di Seruyan, Kalimantan Tengah.

Secara umum, tanah Indonesia memiliki tingkat kesuburan yang lebih tinggi dibandingkan banyak negara lainnya. Didukung oleh kondisi iklim dan musim, banyak komoditas pertanian dan kehutanan yang tumbuh sangat baik di tanah Indonesia. Hal ini pula lah yang menjadikan usaha bertani (dan petani) sebagai mata pencaharian paling besar di Indonesia, yang kemudian menyematkan gelar negara agraris.

Di akhir penghujung Oktober 2018, INOBU menugaskan saya untuk melakukan studi yang ditujukan untuk mendukung rencana pembentukan dan pengembangan “Fasilitas Pertanian Seruyan”. Salah satu bentuk kegiatan studi tersebut adalah melakukan wawancara langsung dengan petani swadaya kelapa sawit di Kabupaten Seruyan. Daerah studi untuk wawancara ini adalah daerah Pembuang Hulu yang terbagi menjadi dua desa, Pembuang Hulu I dan II. Dari dua desa ini, 11 petani dipilih menjadi responden. Salah satu tujuan utama dari wawancara ini adalah untuk menginvestigasi kondisi pasar input pertanian kelapa sawit yang ada di tingkat petani kecil. Input pertanian yang dimaksud terkhususkan pada benih dan pupuk dalam budi daya kelapa sawit.

Tantangan Umum Petani Sawit di Pembuang Hulu

Secara umum, tantangan yang dihadapi petani sawit di Pembuang Hulu saat ini adalah keterbatasan bibit bersertifikat, pupuk subsidi yang langka, dan rendahnya harga sawit. Keterbatasan bibit yang dihadapi oleh petani-petani ini disiasati dengan penggunaan benih cabutan yang didapat dari kebun sawit lainnya. Para petani ini menyampaikan bahwa selain harga benih bersertifikat yang mahal, informasi mengenai akses benih bersertifikat juga terbatas. Menurut para petani ini, benih cabutan tidak memiliki karakter alam layaknya benih bersertifikat. Benih cabutan tidak dapat digunakan untuk kelangsungan dan keberhasilan kegiatan budi daya sawit, dan hasil panen dari benih cabutan juga tidak optimal.

Selain bibit, para petani ini juga menghadapi kelangkaan pupuk bersubsidi. Selain jumlah yang tidak mencukupi permintaan, kelangkaan ini juga dipicu oleh jadwal distribusi pupuk bersubsidi yang tidak rutin sehingga pengaturan pasokan pupuk sulit dilakukan. Tidak hanya masalah kuantitas, petani juga menyampaikan bahwa kualitas pupuk bersubsidi ternyata di bawah kualitas pupuk non-subsidi. Namun, harga pupuk tidak bersubsidi cukup memberatkan para petani kecil ini. Maka, tidak jarang para petani ini tidak melakukan pemupukan. Dengan kondisi benih cabutan, ditambah dengan tidak teraturnya pemupukan, maka hasil panen para petani kecil di Pembuang Hulu jauh dari optimal.

Kebun salah satu petani swadaya kelapa sawit di Kabupaten Seruyan

 

Petani juga dihadapkan oleh rendahnya harga Tandan Buah Segar (TBS) sawit. Harga CPO yang turun di pasar dunia pada penghujung tahun 2018 mempengaruhi turunnya harga TBS. Harga beli TBS yang rendah di tingkat petani swadaya ini tentu nya dapat memberikan efek domino kepada keberlangsungan budi daya sawit. Semakin kecilnya pemasukan petani,maka, semakin kecilnya kapasitas finansial petani untuk membiayai kegiatan budidaya kelapa sawit, yang kemudian mempengaruhi hasil panen.

Rekomendasi Dalam Mensiasati Tantangan: Sebuah Langkah Awal

Tantangan yang dihadapi oleh petani ini mungkin merupakan eksternalitas dari permasalahan yang muncul di industri lain atau bahkan di tingkat nasional. Contohnya, tingginya harga pupuk non-bersubsidi mungkin dipengaruhi oleh industri minyak dan gas di tanah air. Gas masih menjadi komponen terbesar dalam proses produksi pupuk dan harga gas yang tinggi, tentu saja mempengaruhi harga produksi pupuk. Permasalahan ini baru di tahap produksi, mungkin isu-isu lain di tahap distribusi, dan bahkan di tingkat kebijakan pada akhirnya dapat memberatkan petani-petani kecil ini. Untuk itu, studi lebih lanjut ataupun integrasi hasil studi terdahulu yang komprehensif perlu dilakukan untuk dapat menguraikan permasalahan mulai dari hulu (tingkat petani) hingga tingkat hilir ( nasional). Pembedahan permasahan yang lebih detil di tiap lini/ sisi, dalam upaya pencarian inovasi dan rekomendasi diharapkan dapat menghasilkan solusi yang menyeluruh untuk kemajuan pertanian Indonesia.

Penelitian yang dilakukan INOBU di Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah didukung oleh Earth Innovation Institute melalui Forests, Farms and Finance Initiative (didanai oleh Norwegian Agency for Development Cooperation), dan the David and Lucile Packard Foundation serta the Sustainable Tropics Alliance (didanai oleh German International Climate Initiative). * Surya Meihdhy Basri