Diversifikasi Produk: Kunci Peningkatan Kesejahteraan Petani Kelapa

Oleh : Nini Mariani

Photo by Tijana Drndarski/Unsplash

Tanaman kelapa dikenal sebagai pohon kehidupan, atau tree of life, karena hampir semua bagiannya dapat dimanfaatkan, dari daun hingga akarnya. Air kelapa dikenal karena manfaatnya untuk kesehatan, daging kelapa digunakan sebagai bahan baku minyak dan santan, batok sebagai bahan baku kerajinan dan briket, sabut untuk jok kendaraan dan sikat, dan daun kelapa sebagai atap bangunan dengan tampilan eksotis. Berbagai produk turunan ini memiliki permintaan yang tinggi baik di pasar domestik maupun mancanegara, menjadikan kelapa sebagai salah satu komoditas strategis bernilai ekonomi tinggi.

Sebagai negara penghasil kelapa terbesar dunia, Indonesia perlu memaksimalkan potensi diversifikasi produk kelapa sebagai penghasil devisa dan peningkatan kesejahteraan petani. Diversifikasi produk akan meningkatkan nilai tambah bahan baku dan membuka lapangan kerja yang dapat meningkatkan pendapatan petani. Sayangnya, produk kelapa yang dipasarkan Indonesia baik ekspor maupun domestik umumnya dijual dalam bentuk mentah.

Data tahun 2021 dari Pusat Perdagangan Internasional (INTRACEN) menunjukkan ekspor kelapa segar dari Indonesia mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Namun, penjualan kelapa segar hanya memberikan keuntungan yang rendah bagi petani.

Gambar 1. Trend ekspor produk kelapa

Sumber: Intracen, 2021

Sementara itu, produk olahan seperti kelapa parut kering dan minyak kelapa bernilai lebih tinggi dibanding penjualan kelapa segar. Di pasar domestik, kelapa mentah dijual sekitar Rp 3.000/butir. Jika produktivitas satu pohon kelapa per tahun sekitar 90 butir dan satu petani memiliki 100 pohon, maka pendapatan dari penjualan 9,000 butir kelapa mentah adalah Rp 27.000.000/tahun. Jika kelapa diolah menjadi minyak kelapa murni (VCO) yang membutuhkan 10–15 butir per liter, petani dapat menghasilkan 600 liter VCO dari 9,000 butir kelapa. Dengan harga Rp 200.000/liter, petani memperoleh penerimaan kotor sekitar Rp 120.000.000/tahun, yakni empat kali lebih tinggi dari penjualan kelapa mentah. Perbedaan yang signifikan ini menunjukkan perlunya diversifikasi produk.

Gambar 2. Harga ekspor produk kelapa

Sumber: Intracen 2021 dalam dollar (US$1 = Rp14.000)

Selain menghasilkan VCO dari daging kelapa, petani dapat mengoptimalkan fungsi kelapa dengan memanfaatkan bagian lain seperti air, batok, dan sabut kelapa.

Hasil survei Yayasan Inobu menunjukkan air kelapa merupakan produk yang paling disukai oleh konsumen di antara produk kelapa lainnya. Produk air kelapa dapat dipasarkan sebagai produk premium dengan meningkatkan citra merek melalui kemasan dan branding.

Batok kelapa juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku kerajinan atau briket yang mempunyai permintaan tinggi di pasar luar negeri. Sabut kelapa dapat diolah menjadi tali, keset, dan coco-fibre.

Namun, petani kecil kerap kali menghadapi banyak tantangan dalam diversifikasi produk pertanian, seperti terbatasnya pengetahuan, kurangnya modal, tingginya harga mesin dan teknologi pengolahan, terbatasnya akses ke pasar, serta infrastruktur yang tidak mendukung distribusi di daerah pedesaan. Pemerintah perlu mengambil peran untuk membantu petani menghadapi permasalah tersebut, mulai dari hal perizinan dan jaminan harga. Lembaga terkait juga perlu terlibat, seperti akademisi dalam penelitian dan pengembangan di sektor pertanian, lembaga keuangan sebagai penyedia modal, dan lembaga swadaya sebagai penggerak petani.

Yayasan Inobu sebagai lembaga penelitian terapan sedang mendampingi petani kelapa di Desa Sabuai di Kalimantan Tengah untuk mencapai pembangunan ekonomi regional berkelanjutan. Kegiatan pendampingan terdiri dari survei komoditas yang dihasilkan petani, potensi pengembangan produk turunan, survei pasar, studi literatur dan lapangan mengenai pengembangan produk, pendampingan produksi menggunakan inovasi dan teknologi, dan perluasan akses pasar. Rangkaian program pendampingan ini diharapkan dapat membantu proses pengolahan produk kelapa yang efektif dan efisien sehingga dapat menciptakan nilai tambah yang optimal bagi petani kelapa.