Desa Tanjung Rangas: Di Tengah Kepungan Kebakaran Lahan dan Hutan

Penulis tengah memandang kepulan asap dari kebakaran lahan dan hutan di Desa Tanjung Rangas, Kabupaten Seruyan, Provinsi Kalimantan Tengah

Siang itu selepas mengecek kondisi lahan untuk keperluan restorasi, kami kembali menuju titik di mana kami sandarkan perahu kecil bermesin di pinggiran Sungai Kalua, anak Sungai Seruyan yang masuk dalam wilayah administrasi Desa Tanjung Rangas, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah. Kami tidak menyangka kalau perjalanan kami kembali ke perahu harus menerobos asap yang cukup tebal. Rasanya sangat sulit sekali untuk bisa bernafas dengan nyaman dan penglihatan pun menjadi tidak jelas. Bagaimana bisa seseorang dapat bertahan dari kebakaran hutan?

Siang itu adalah salah satu siang di bulan September tahun 2019, dimana kebakaran hutan dan lahan memang tengah terjadi secara besar-besaran di Indonesia. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menyatakan bahwa lahan yang terbakar di Kalimantan Tengah (Kalteng) saja luasnya mencapai 44.769 ha. Kalteng kemudian menjadi satu dari enam provinsi yang dinyatakan sebagai provinsi darurat kebakaran hutan oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Hal ini tentu tidak terlepas dari keberadaan ekosistem gambut di Kalteng yang luasnya mencapai 27.827,35 ha dengan fungsinya sebagai penyimpan karbon.

Desa Tanjung Rangas memiliki peran yang cukup penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem di perbatasan kawasan konservasi Taman Nasional Tanjung Puting, kawasan konservasi yang didominasi oleh hutan rawa, baik air tawar maupun gambut, sehingga ditetapkan sebagai Situs Ramsar Dunia sejak tahun 2013. Namun, menurut masyarakat desa, kebakaran hutan justru terjadi hampir setiap tahun di musim kemarau. Luas hutan semakin berkurang dan hanya tersisa sekitar 10–20% saja dibandingkan dengan kondisi hutan 20 tahun yang lalu. Jenis dan jumlah tumbuhannya pun sudah banyak berkurang, terutama jenis pohon kayu yang dibutuhkan masyarakat untuk membangun rumah, jalan desa, dan perahu.

Menurut penduduk Desa Tanjung Rangas, perubahan tutupan hutan bukan disebabkan oleh pembukaan hutan, melainkan karena kebakaran pada musim kemarau yang dapat berlangsung hingga sembilan bulan. Kebakaran tahun 1997 adalah yang terbesar menurut masyarakat dan mengakibatkan berkurangnya hutan paling luas dibandingkan kebakaran yang terjadi pada tahun yang lain. Berkurangnya tutupan hutan berdampak pada kondisi ekonomi penduduk desa, berkurangnya kayu untuk bahan baku bangunan, pohon penghasil getah, rotan, dan hewan buruan. Berkurangnya tutupan hutan juga berdampak pada lingkungan yaitu tidak dapat diprediksinya musim banjir. Ironisnya, penduduk desa malah senang apabila musim banjir datang karena akses masyarakat untuk menangkap ikan akan semakin mudah dan hasil tangkapan makin banyak.

Seorang penduduk desa menunjukkan lokasi bekas kebakaran hutan dan lahan

Masyarakat desa sendiri sebenarnya tidak terlepas dari kegiatan pembakaran lahan. Namun, sejauh ini, yang kami temui, masyarakat desa hanya membakar lahan dalam skala kecil untuk keperluan tertentu saja. Misalnya, membersihkan lahan dari tanaman sejenis herba yakni perupuk (Praghmites karka) untuk keperluan menangkap ikan dengan sistem beje, atau membakar rumput untuk keperluan berburu dan menangkap ikan. Masyarakat Desa Tanjung Rangas mempunyai kebiasaan untuk membuat lubang persegi panjang di tanah dengan ukuran bermacam-macam. Biasanya dibuat secara manual menggunakan cangkul dengan ukuran kecil sekira 2×3 m sebanyak 3–5 lubang. Ada juga yang menggunakan parit bekas proyek transmigrasi yang lebarnya bisa sekira 4 m dengan panjang 2 km. Inilah yang disebut masyarakat dengan beje. Pada musim banjir air sungai biasanya akan naik jauh berkilo-kilometer sampai ke daratan. Ikan akan masuk dalam lubang-lubang yang sudah dibuat dan kemudian akan terperangkap pada saat banjir surut. Selanjutnya, pada musim kemarau, masyarakat sudah bisa memanen ikan-ikan yang terperangkap. Dalam sekali panen masyarakat bisa mendapatkan hasil yang lebih banyak ketimbang memancing atau menjala ikan. Masyarakat menyebutkan bahwa pembakaran lahan dilakukan dengan bertanggung jawab seperti dengan membuat sekat bakar atau terkadang ada juga yang menunggui api sehingga tidak sampai melebar. Membakar adalah cara paling mudah dan paling murah untuk membuka atau membersihkan lahan sehingga masih dilakukan oleh masyarakat.

Kebakaran hutan dan lahan di Desa Tanjung Rangas menyisakan lahan terbuka yang hanya ditumbuhi rumput dan semak belukar. Upaya penanaman beberapa kali dilakukan oleh pemerintah dan masyarakat desa, namun kembali habis akibat kebakaran yang hampir dipastikan terjadi setiap tahun. Masyarakat menilai upaya penanaman yang dilakukan tidak diiringi dengan upaya pemeliharaan untuk menjaga tanaman dari kebakaran. Hal ini wajar saja terjadi karena hasil dari kegiatan penanaman tidak dirasakan langsung oleh masyarakat desa. Meski diketahui mempunyai dampak ekologi seperti mengurangi resiko bencana banjir, longsor, dan kebakaran, namun kegiatan penanaman sebaiknya juga mempunyai dampak ekonomi dan sosial-budaya agar masyarakat merasa memiliki dan menjaga tanaman dari kebakaran.* Adinda Canserera Milaba