Cerita dari negeri pala Papua: Fakfak

Buah pala papua yang belum matang

Kami tiba di Fakfak pada siang yang mendung di akhir bulan Juli. Bandara Torea sudah tampak siap melayani penerbangan-penerbangan domestik. Stasiun kedatangan sudah terbangun, dan konveyer bagasi sudah siap digunakan. Perkembangan bandara udara Fakfak ini tampak cepat, sangat berbeda dengan kondisi tahun lalu ketika pertama kalimya saya menginjakkan kaki di Fakfak. Sudah kedua kalinya saya datang ke Fakfak untuk satu komoditi yang cukup terkenal yaitu Pala Papua. Kali ini, perjalanan kami di Fakfak akan memakan waktu satu bulan yang dihabiskan di dua desa bagian timur laut kota Fakfak. Sebelum menempuh perjalanan jauh, saya menyempatkan diri melihat kembali jadwal kegiatan, kemudian memejamkan mata, serta mengucap doa “Semoga Tuhan Berkati”.

Patimburak dan Perahu Cadik

Morten Kabes, atau Morka memacu sepeda motor sedikit kencang. Morka adalah rekan lokal yang mendampingi kami selama kegiatan di Fakfak. Di atas motor Morka bercerita, bahwa jalan aspal yang kami lalui dari Fakfak menuju Kokas masih muda usianya. Dulu, kakek nenek dan ibu bapa Morak harus menempuh perjalanan dengan berjalan kaki seharian penuh untuk menuju Fakfak dari kokas. Mereka harus berjalan menempuh hutan, untuk menjual hasil bumi di kota Fakfak. Kini, dengan motor, jarak Fakfak dan Kokas hanya 2 jam perjalanan saja. Tanpa macet. Sesampai di Kokas, kami harus memakirkan semua kendaraan bermotor yang kami gunakan. Kami harus menggunakan kapal untuk menuju desa Patimburak. Perjalanan yang kami tempuh kurang lebih 45 menit karena infrastrukur jalan yang menghubungkan Kokas dan Patimburak belum siap digunakan.

Pemandangan selama perjalanan menuju Patimburak

 

Kami tiba di Patimburak ketika matahari hampir jatuh di ufuk, disambut saut-sautan dari “mace-mace”. Mace- mace tampak sudah sibuk menyiapkan makan malam, sambal menyirih pinang. Di Patimburak, Bahasa Sekar lah yang banyak digunakan. Saya pun turut membantu mace-mace. Mace-mace rupanya sedang menyiapkan Tambelo, cacing bakau yang akan menjadi hidangan pembuka makan malam pertama ini. Mace Kampung mengajari saya cara menyiangi Tambelo, mengeluarkan isi perut dengan mengiris badan sang cacing, dengan menggunakan gigi dari si cacing. Lalu jeruk diperas, garam ditambahkan bersama rica/cabai, dan diaduk dalam wadah berisi tambelo bersih, kemudian disantap mentah mentah.

Tambelo, makanan khas lokal terbuat dari cacing.

 

Hari-hari berjalan sangat lambat di Patimburak, setiap hari saya dan rekan berkumpul bersama petani mendiskusikan berbagai hal yang harus dilakukan petani ketika masa panen dan pasca panen agar menjaga kualitas pala itu sendiri. Beberapa hal yang kami diskusikan adalah pentingnya pala tidak sampai jatuh ke tanah ketika panen. Buah pala yang jatuh ke tanah memiliki peluang besar terdapat kandungan aflatoxin yang tinggi. Pala dengan kandungan aflatoxin yang tinggi memiliki peluang kecil untuk diekspor ke pasar international. Saat ini masih banyak petani pala di Patimburak belum memperhatikan hal ini ketika masa panen datang. Selain itu, kami juga berdiskusi mengenai proses pengeringan buah pala. Saat ini, praktik yang umum adalah mengeringkan pala di atas tungku masak. Dengan praktik demikian, tidak jarang, buah pala yang sudah dikeringkan terpapar dengan aroma masakan dan tentu saja hal ini akan mengurangi nilai jual pala kering itu sendiri.

Penulis dan Petani Pala sedang berdiskusi dalam kegiatan pelatihan Panen Pala/Surya Meihdhy Basri

 

Kami berharap dari kunjungan kami, petani mendapatkan pemahaman baru mengenai praktik bertani pala yang dapat mencapai potensi nilai jualnya. Dari kunjungan ini saya melihat bahwa kondisi petani di Patimburak mungkin juga dialami oleh petani-petani lainnya di wilayah terluar Indonesia. Akses akan informasi dan edukasi terbatas dimana seyogyanya akses akan informasi dan edukasi adalah menjadi hak seluruh warga Indonesia. Infrastruktur tanpa akses informasi dan edukasi seperti menikmati indahnya Air Terjun Kayuni hanya dari google image. * Surya Meihdhy Basri