Basis Data Pala: Cara Petani Patimburak Menjawab Tantangan Pasar

Gambar 1 Perjalanan menuju Patimburak menggunakan jonson

Kampung Patimburak identik dengan kebun pala yang biasa disebut dengan dusun pala. Ketika mendengar nama Patimburak, tidak sedikit orang yang langsung menyebutnya dengan dusun pala. Kampung penghasil pala itu lokasinya dikelilingi hutan bakau yang tumbuh subur melindunginya. Akses termudah menuju kampung ini adalah melalui jalur laut. Diperlukan waktu sekitar 40 menit dari Distrik[1] Kokas menuju Kampung Patimburak dengan menggunakan perahu yang biasa disebut jonson.

Di perjalanan, kita akan melewati pulau-pulau kecil tak berpenghuni, kampung-kampung yang tak mempunyai akses jalan darat, dan hutan-hutan di sepanjang pantai yang di dalamnya juga terdapat dusun pala. Sesampainya di Kampung Patimburak, kita akan melihat dusun pala yang berbatasan langsung dengan rumah warga, meski sebagian diantaranya berada di luar kampung dan bahkan harus menempuh perjalanan masuk ke dalam hutan.

Pada bulan April, penulis berkesempatan untuk melakukan pemetaan lahan dan sensus pohon pala pada lahan kelompok tani pala di Kampung Patimburak. Sensus pala diperlukan untuk mengetahui sebaran dan produksi pohon pala sehingga memudahkan perhitungan atau perkiraan panen pada setiap musimnya. Sebelumnya, petani tidak mengetahui secara pasti jumlah pohon yang menghasilkan dan siap dipanen di lahannya sendiri. Oleh karena itu, para petani antusias untuk ikut berpartisipasi dalam melakukan inventarisasi pohon-pohon pala yang sudah berproduksi.

Gambar 2. Dusun Pala di Kampung Patimburak

Pada praktik budidaya pala dengan jarak tanam yang disarankan, yaitu 9×9 m, maka akan mudah bagi kita untuk memperkirakan jumlah pohon, mengatur rasio jantan-betina, dan mengetahui produktivitas lahan. Namun, formula yang sama tidak dapat diterapkan pada dusun pala yang masih tradisional. Pasalnya, pada satu hektar dusun pala tradisional bisa saja hanya ditemukan tiga pohon pala yang menghasilkan, dan pada satu hektar lainnya bisa mencapai lebih dari seratus pohon. Pada lokasi yang semakin jauh dari pemukiman dan memasuki hutan primer, maka dominansi pohon pala semakin berkurang[2].

Kelompok Tani Guraferi, salah satu kelompok tani pala dampingan AKAPe-Inobu di Kampung Patimburak, menerapkan sistem pencatatan pada anggotanya. Sistem ini merupakan upaya kontrol pengurus terhadap praktik penanganan panen dan pascapanen yang sesuai standar. Harapannya, dengan melakukan sensus dan tagging atau penomoran pohon, ke depannya juga bisa melengkapi data-data karakteristik pohon pala papua secara lebih akurat, selain data mengenai sebaran populasi. Data pohon juga bisa membantu kelompok dalam mengidentifikasi hak panen, khususnya anggota kelompok perempuan yang tidak mendapatkan hak lahan berdasarkan aturan adat.

Informasi dasar, seperti lokasi lahan dan pengkodeannya serta jumlah pohon dan sebaran diameternya, bisa digunakan oleh kelompok dalam merencanakan strategi pengelolaan pala. Termasuk dalam rencana strategi tersebut adalah memperkirakan hasil panen sebelum panen raya dengan lebih akurat, dan yang paling penting, kelompok mampu melakukan penelusuran produk di tingkat anggotanya. Dari data tersebut, kelompok juga bisa merencanakan usaha tani pala, merancang pembiayaan untuk menyediakan permodalan sebelum panen, mempersiapkan panen dan pascapanen, hingga penjualan.

Sebelumnya, petani pala di Kampung Patimburak mengelola panen dan pascapanen secara mandiri atau bersama keluarga. Mereka tidak pernah melakukan pencatatan hasil panen dan bahkan hanya sedikit yang menyimpan nota hasil penjualan. Kini, petani-petani itu mulai sadar bahwa dengan bekerja sama membentuk kelompok mereka bisa meningkatkan nilai pala di pasar. Menjaga kebersihan proses panen dan pascapanen menjadi lebih diperhatikan. Mereka juga bisa meminjam modal untuk persiapan panen dari kelompok. Dengan begitu, petani didorong untuk memanen hanya pala tua yang mutunya memang lebih baik.

Pengetahuan tradisional terkait pemanfaatan pala dan pengelolaan dusun pala diwariskan secara turun temurun. Menggabungkan tradisi tersebut dengan pengetahuan baru akan menjadi tantangan seiring berubahnya kondisi sosial ekonomi masyarakat dan permintaan pasar. Oleh karena itu, perubahan perilaku bertani melalui praktik budidaya dan pengelolaan secara berkelompok diharapkan bisa menjaga mutu pala, menambah nilai, dan meningkatkan kesejahteraan petani.* Mei Nita Sari

Referensi
[1] Distrik adalah istilah yang diperkenalkan oleh UU Otsus 2001 untuk menggantikan istilah kecamatan dalam konteks Otonomi Khusus Papua

[2] Antoni U, San AA, Ahmad M, Priyono S. 2019. Small Scale Ecology and Society: Forest-Culture of Papua Nutmeg (Myristica argentea Warb.). Journal of Forest Science : 13