INOBU Meluncurkan Program Pala Pribumi Berkelanjutan di Fakfak, Papua Barat

22 Maret 2017

Indonesia mendominasi produksi dan ekspor pala dunia. Minggu ini, para peneliti dan ahli dari Yayasan Inovasi Penelitian Bumi (INOBU) berada di lapangan, tepatnya di Kabupaten Fakfak, Papua Barat untuk meluncurkan sebuah program pemetaan yang secara sistematis akan mengumpulkan data tentang semua petani pala di hutan di Kabupaten Fakfak untuk membangun fondasi guna meningkatkan produktivitas petani pala di Papua Barat dalam skala yurisdiksi. Masih di minggu yang sama, INOBU juga menandatangani MOU dengan AKAPe, sebuah LSM lokal di Papua Barat. Kemitraan ini dirancang untuk menstimulasi kerja kami di Papua Barat, yang akan membantu penelitian kami untuk mulai mengembangkan inovasi kebijakan. Kami tengah membangun kerangka komoditas masyarakat adat berkelanjutan yang memiliki potensi untuk direplikasi di kabupaten lain di Papua Barat dan diperluas ke komoditas utama lainnya, terutama sagu.

Konteks Hak-Hak Adat

INOBU telah bekerja di Papua Barat sejak tahun 2013, bekerja sama dengan Earth Innovation Institute sebagai sister organization untuk menemukan solusi terhadap permasalahan kemiskinan dan lingkungan yang saling terkait. Pada tahun 2016, INOBU melakukan uji coba penerapan sebuah pendekatan baru yang inovatif untuk komoditas asli yang berkelanjutan di Papua Barat yang berfokus pada memahami bagaimana tekanan terhadap hutan dapat dikurangi melalui mata pencaharian alternatif yang lebih berkelanjutan. Menemukan alternatif ini menjadi sangat penting setelah keluarnya Putusan Mahkamah Konstitusi RI 35/2012 yang memungkinkan lahan milik adat dilepaskan dari kawasan hutan negara. Di Papua Barat, kebutuhan untuk menemukan sumber penghidupan alternatif yang berkelanjutan lebih mendesak karena semua hutan di provinsi ini telah diklaim oleh kelompok-kelompok adat.

Komoditas Pribumi yang Berkelanjutan: Potensi Pala

Kabupaten Fakfak terkenal dengan pala Papua (M. Argentina) yang dihasilkannya. Selama ratusan tahun, pala diekspor dari Kabupaten ini ke para pembeli dan konsumen di seluruh dunia. Pala merupakan salah satu dari dua bumbu yang berasal dari beberapa jenis pohon dari genus Myristica (yang lainnya adalah merica). Hutan pala dapat ditemukan di sebagian besar wilayah Kabupaten Fakfak. Pala merupakan komoditas utama yang mendukung penghidupan masyarakat di Kabupaten ini sehingga sangat berkaitan dengan hak-hak adat. Dengan memanfaatkan penelitian awal kami di Papua Barat serta pengalaman kami di Kalimantan Tengah dalam mengembangkan keberlanjutan yurisdiksional (kelapa sawit), pada tahun 2016 INOBU memulai penelitian dasar untuk dapat memahami aspek hutan dari pala secara lebih baik dan juga konteks hak-hak adat di sana. Saat ini, INOBU bekerja sama dengan pemerintah daerah dan para pemangku adat untuk mengembangkan inovasi kebijakan yang mengakui hak-hak adat, meningkatkan produktivitas, dan memperbaiki taraf hidup masyarakat di Kabupaten tersebut.

Peluncuran program pemetaan ini dilakukan tepat setelah dilakukannya studi percontohan oleh INOBU mengenai ekologi dan produktivitas pala di Fakfak yang dimulai dengan pemetaan hak atas tanah berdasarkan kepemilikan pala. Tujuan proyek ini adalah untuk: (1) memetakan wilayah-wilayah pala yang dimiliki secara individual (hak dusun pala) dan mengumpulkan data sosial ekonomi dan mata pencaharian masyarakat; (2) membandingkan dan mengevaluasi metodologi pemetaan dan teknologi yang digunakan; Dan (3) mengumpulkan data dasar desa untuk mengembangkan profil desa. Berdasarkan penelitian ini, INOBU bergerak maju untuk mengembangkan intervensi kebijakan dan inovasi. Proses pemetaan ini diharapkan dapat memberikan kerangka kerja yang kuat untuk mengintegrasikan petani pala yang terdapat di hutan-hutan Papua Barat, yang pada akhirnya dapat mendukung pengakuan atas hak-hak adat dan meningkatkan produktivitas mereka.

TENTANG INOBU

INOBU (Institut Penelitian Inovasi Bumi) adalah sebuah lembaga penelitian di Indonesia yang bekerja untuk mewujudkan visi di mana bentang darat dan laut Indonesia dikelola secara berkelanjutan dan menguntungkan masyarakat yang bergantung padanya. Melalui penelitian yang inovatif, analisis kebijakan, serta pengembangan teknologi dan aliansi, INOBU berupaya memperbaiki kebijakan publik dan memperkuat masyarakat sipil untuk mengelola sumber daya alam dan sistem produksi pertanian Indonesia secara berkelanjutan di sepanjang siklus hidup produk. Kerja kami di Kabupaten Fakfak dimungkinkan oleh adanya sub-hibah dari Forest Farms & Finance Institute (FFFI), German International Climate Initiative (IKI) melalui Earth Innovation Institute.

Pertanyaan?

John Watts, jwatts@inobu.org

Joko Arif, jarif@inobu.org