Pengembangan Pala Berbasis Studi

Pala yang menjadi akomoditas unggulan Kabupaten Fakfak, Papua Barat, memerlukan pengelolaan yang efektif agar memberikan manfaat bagi kesejahteraan masyarakat. Tetapi penyusunan program pengembangan pala harus didahului dengan riset dan studi tentang pala agar program nantinya bisa berjalan dengan maksimal dan tepat sasaran.

Selama dua hari, 6-7 Juni 2018, INOBU memfasilitasi diskusi kelompok atau FGD yang dihadiri oleh para ahli tentang ekologi, peneliti tanaman rempah dan obat juga para pemangku kepentingan dari Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup dan Kementerian Pertanian. Pada kesempatan ini, mitra INOBU di Fakfak, Aliansi Kaki Abu Untuk Perubahan juga memberikan masukannya mewakili petani dan masyarakat adat Fakfak.

Hasil diskusi ini memberikan masukan yang menjadi acuan bagi INOBU dalam membangun rancangan studi di Fakfak dan hasil studi ini nantinya akan menjadi bagian dari rekomendasi agar program pengembangan pala dari Dinas Perkebunan dan Kementerian Pertanian dapat berkelanjutan.

Kepala Dinas Perkebunan Kabupaten Fakfak, Abdul Rahim Patamasya, mengatakan “studi pala yang diinisiasi INOBU ini sangat dinantikan pemerintah kabupaten. Hasilnya nanti dapat menjadi landasan dan acuan aksi yang dapat bersinergi dengan program-program pengembangan pala di Fakfak yang sedang digalakkan oleh pemerintah daerah dan pusat.”

Kabupaten Fakfak adalah penghasil pala terbesar di Provinsi Papua Barat, dan menyumbang 11% produksi pala nasional di tahun 2016. Tetapi pengelolaan pala di Fakfak menghadapi beberapa tantangan, di antaranya harga yang fluktuatif, terbatasnya akses pada pasar dan belum terbentuknya kelompok petani yang membuat mereka lemah dalam bernegosiasi.

FGD-PALA_6-7-June-2018-300x225 Pengembangan Pala Berbasis Studi