Peluncuran Studi TERPERCAYA: “Melacak Rantai Minyak Kelapa Sawit Secara Berkelanjutan Serta Mendefinisikan Keberlanjutan Yurisdiksi Dalam Skala Besar”

Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian mencatat luas lahan perkebunan sawit Indonesia pada 2018 diperkirakan mencapai 14.03 juta Hektar (Ha) dan dari luas lahan tersebut, sekitar 5 juta Ha merupakan perkebunan sawit kebun rakyat/petani swadaya. Sementara tingkat produksi minyak sawit Indonesia sekitar 37.8 juta ton dengan rata-rata produktivitas sekitar 3.6 juta ton CPO per Hektar.

Saat ini pasar minyak sawit dunia semakin ketat memberlakukan standar keberterimaan komoditi. Hanya yang berasal dari sumber yang mempraktekan prinsip berkelanjutan yang diterima oleh pasar dunia.

Menjawab tantangan penyediaan informasi dan data yang terpercaya tentang minyak sawit berkelanjutan, Institut Penelitian Inovasi Bumi (INOBU) bersama dengan The European Forest Institute (EFI) meluncurkan studi TERPERCAYA, Melacak Minyak Sawit Berkelanjutan dan Mendefinisikan Keberlanjutan Yurisdiksi Dalam Skala Besar. Dalam acara peluncuran penelitian TERPERCAYA, Senin, 23 April 2018, Thomas Shambres dari The European Forest Institute menjelaskan, ‘penelitian ini dilakukan dengan pendekatan yurisdiksi dan secara khusus melibatkan para petani swadaya. Pendekatan yurisdiksi adalah upaya menuju keberlanjutan dalam batas-batas wilayah kekuasaan otoritas tertentu, biasanya dalam batas-batas wilayah administrasi pemerintahan seperti Provinsi, Kabupaten/Kota maupun Desa, dimana otoritas tersebut mempunyai kewenangan untuk mengatur dan mengontrol alokasi dan sumber daya di dalam batas-batas wilayah kekuasaannya dengan didukung oleh regulasi yang kuat.  Penelitian ini akan menghasilkan sebuah inovasi yang berbasis data, yang bisa digunakan untuk melacak cepat minyak sawit mulai dari pelabuhan hingga negara pengimpor minyak sawit. Selain itu penelitian ini juga akan melihat KPI yang memungkinkan untuk diterapkan bagi Kabupaten. Diharapkan Kabupaten yang terdepan dalam menjawab tantangan keberlanjutan ini bisa mendapatkan insentif dari pasar minyak sawit. Penelitian ini akan menyediakan data TERPERCAYA yang tidak hanya bisa diakses oleh publik tapi juga oleh pasar.’

Studi TERPERCAYA sudah dimulai sejak Maret 2018 dengan wawancara mendalam bersama pemerintah untuk melihat tantangan dan peluang dalam tata kelola sawit berkelanjutan. Studi ini akan berakhir pada Maret 2019 dengan skenario analisa pasar minyak sawit berkelanjutan.

Menanggapi tentang TERPERCAYA, Deputi Menteri Koordinator Perekonomian Bidang Koordinasi Pangan dan Pertanian, Musdalifah berharap hasil penelitian ini akan sangat membantu pemerintah untuk membenahi tata kelola minyak sawit nasional.  Beliau mengatakan, ‘studi rekam lacak minyak sawit dari sumber berkelanjutan akan membantu pemerintah membenahi tata kelola sawit yang lebih baik dan juga menyadarkan masyarakatan tentang sebuah keharusan untuk meningkatan perekonomian negara melalui pembangunan yang berkelanjutan.’

Penelitian TERPERCAYA akan dilakukan pada level yurisdiksi Pemerintahan Kabupaten, dengan mengambil contoh area di Kabupaten Seruyan, Propinsi Kalimantan Tengah. INOBU telah mendampingi Kabupaten Seruyan dalam menatakelola perkebunan sawit mereka sejak 2013, dimana Kabupaten Seruyan mempunyai visi agar semua produser sawit bisa bertransisi kearah keberlanjutan pada tahun 2019. Kegiatan konkrit untuk mencapai visi ini telah dimulai dengan pemetaan petani, pembetukan Kelompok Kerja Sertifikasi Yurisdiksi serta kajian lingkungan hidup strategis. Khusus untuk mengakomodasi petani swadaya bertransisi menuju keberlanjutan, pemerintah Kabupaten Seruyan bersama INOBU telah mendirikan Pusat Fasilitas Pertanian “PELITA”. Sekretaris Daerah Kabupaten Seruyan, Bapak Haryono mengatakan,’sejak 2013, kami tidak lagi mengeluarkan izin konsensi perkebunan dan focus pada pemberdayaan masyarakat agar sejahtera. Kami juga melihat peluang pasar sawit yang lebih baik dengan sertifikasi, karena itu kami mencanangkan target percepatan sertifikasi untuk memastikan sawit sepenuhnya diperoleh dan diproduksi secara berkelanjutan.’

 

Informasi lebih lanjut tentang studi TERPERCAYA di info.terpercaya@efi.int